John Ternus CEO Apple dalam wawancara dengan Wired membahas strategi AI perusahaan.

John Ternus Bela Posisi Apple di Era AI: Fokus Produk, Bukan Sekadar Teknologi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Apple John Ternus menegaskan Apple tidak tertinggal di bidang AI.
  • Apple akan memanfaatkan AI di produk baru, tetapi tidak merilis AI hanya demi tren.
  • Ternus menekankan pentingnya produk yang disukai pengguna di atas label AI.
  • Penundaan Siri canggih yang akhirnya diluncurkan musim panas menjadi sorotan.
  • Ternus menyebut penciptaan produk adalah proses manusiawi dan personal.

Telset.id – CEO Apple John Ternus menegaskan bahwa perusahaannya tidak tertinggal dalam persaingan AI. Dalam wawancara bersama Wired’s Steven Levy, Ternus menyatakan bahwa Apple akan memanfaatkan AI pada produk-produk barunya, tetapi dengan pendekatan yang berbeda dari kompetitor. Ia menolak anggapan bahwa Apple harus mengejar teknologi AI hanya demi mengikuti tren.

Pernyataan ini muncul di tengah kritik yang menyebut Apple tertinggal di bidang AI, terutama setelah penundaan peluncuran versi Siri yang lebih canggih. Versi tersebut akhirnya diluncurkan pada musim panas tahun ini. Ternus, yang resmi menjabat sebagai CEO pada awal September setelah lama menjadi eksekutif Apple, mengakui bahwa “semua orang punya pendapat” soal posisi Apple. Namun ia menegaskan, “Saya sangat menyukai posisi kami saat ini.”

Dalam wawancara tersebut, Ternus menjelaskan filosofi Apple dalam mengadopsi AI. Ia menyatakan Apple “benar-benar akan memanfaatkan AI” di produk baru. Namun, ia menekankan, “Kami tidak ingin merilis AI hanya demi AI itu sendiri. Ketika kami melakukannya dengan benar, orang tidak perlu memikirkan apakah AI yang membuat ini terjadi atau perangkat lunak yang lebih tradisional. Yang penting adalah, apakah kami membangun sesuatu yang benar-benar mereka sukai?”

Pendekatan ini mencerminkan cara Apple memandang teknologi sebagai alat untuk menciptakan pengalaman pengguna, bukan sebagai tujuan akhir. Ternus tidak merinci produk atau fitur AI spesifik yang sedang dikembangkan Apple. Ia juga tidak memberikan tenggat waktu peluncuran inovasi AI berikutnya.

Ketika Levy menekankan apakah AI dapat mempengaruhi Apple dan ekosistemnya secara lebih dramatis, dengan agen AI yang berpotensi membuat aplikasi menjadi tidak diperlukan, Ternus memberikan tanggapan yang tenang. “Itu bisa membuat hidup sangat mudah, saya kira, tetapi penciptaan produk adalah hal yang sangat manusiawi dan personal, sesuatu yang kami senang lakukan,” ujarnya.

Pernyataan Ternus ini menyoroti keyakinan Apple bahwa proses kreatif dalam menciptakan produk tetap memerlukan sentuhan manusia. Ia tidak membahas secara detail bagaimana agen AI akan diintegrasikan ke dalam ekosistem Apple di masa depan. Ia juga tidak mengonfirmasi apakah Apple sedang mengembangkan agen AI yang dapat menggantikan fungsi aplikasi.

Posisi Apple di bawah kepemimpinan Ternus menjadi sorotan karena perusahaan menghadapi tekanan untuk menunjukkan kemajuan di bidang AI. Peluncuran Siri yang lebih canggih pada musim panas menjadi salah satu upaya Apple untuk menjawab ekspektasi tersebut. Namun, Ternus memilih untuk tidak menjanjikan terobosan besar. Ia justru menekankan pentingnya kualitas dan relevansi produk bagi pengguna.

Pendekatan hati-hati Apple ini juga terlihat dari berbagai kebijakan perusahaan terkait keamanan dan kualitas. Baru-baru ini, Apple disebut tengah menutup celah keamanan data pelanggan di aplikasi Android, sebagaimana dilaporkan dalam celah keamanan data. Langkah ini menunjukkan bahwa Apple tetap fokus pada aspek fundamental seperti privasi dan keamanan, meskipun sorotan publik lebih tertuju pada AI.

Selain itu, Apple juga menghadapi tantangan regulasi di berbagai negara. Di Korea, Apple dan Google dikenai denda karena melanggar aturan App Store, seperti dilaporkan dalam denda di Korea. Isu-isu ini menunjukkan bahwa Apple harus menyeimbangkan inovasi AI dengan kepatuhan terhadap regulasi dan ekspektasi pengguna.

Di sisi lain, Apple terus melakukan pembaruan pada lini produknya. Perusahaan dikabarkan mengembalikan logo menyala pada MacBook Pro layar sentuh, sebuah fitur yang dinantikan penggemar. Informasi ini dapat dibaca dalam logo menyala MacBook. Langkah ini menunjukkan bahwa Apple tetap memperhatikan detail desain yang menjadi ciri khasnya.

Terkait AI, Ternus tidak memberikan komentar tentang rencana Apple untuk bersaing dengan perusahaan seperti OpenAI atau Google. Ia juga tidak menyebutkan apakah Apple akan merilis produk AI generatif dalam waktu dekat. Fokus pernyataannya adalah pada prinsip perusahaan: menciptakan produk yang disukai pengguna, terlepas dari teknologi yang digunakan.

Pendekatan ini sejalan dengan strategi Apple yang selama ini dikenal mengutamakan pengalaman pengguna di atas spesifikasi teknis. Ternus, yang telah lama berkecimpung di Apple, tampaknya membawa filosofi yang sama ke kursi CEO. Ia tidak tergoda untuk mengikuti arus AI secara agresif jika dinilai belum memberikan nilai tambah bagi pengguna.

Meskipun demikian, pernyataan Ternus tidak menutup kemungkinan bahwa Apple akan merilis fitur AI yang lebih canggih di masa depan. Ia hanya menegaskan bahwa Apple tidak akan terburu-buru. “Kami tidak ingin merilis AI hanya demi AI itu sendiri,” ujarnya, mengisyaratkan bahwa setiap fitur AI harus memiliki tujuan yang jelas dan memberikan manfaat nyata.

Dalam konteks industri, sikap Apple ini bisa dilihat sebagai bentuk kepercayaan diri. Perusahaan tidak merasa perlu mengikuti setiap tren untuk tetap relevan. Namun, pasar dan pengamat akan terus memantau apakah pendekatan ini mampu mempertahankan posisi Apple sebagai pemimpin inovasi, terutama ketika kompetitor semakin gencar mengintegrasikan AI ke dalam produk mereka.

Wawancara dengan Wired’s Steven Levy ini menjadi salah satu pernyataan publik pertama Ternus sebagai CEO Apple. Ia tidak banyak memberikan bocoran tentang produk mendatang, tetapi cukup jelas menyampaikan visinya: Apple akan menggunakan AI untuk meningkatkan produk, bukan untuk sekadar mengejar label AI. Baginya, kesuksesan diukur dari apakah pengguna benar-benar menyukai produk yang dihasilkan.

Dengan pernyataan ini, Ternus berupaya menepis anggapan bahwa Apple tertinggal. Ia menegaskan bahwa Apple memiliki pendekatan sendiri yang telah terbukti berhasil selama ini. Pertanyaannya, apakah pendekatan tersebut cukup untuk menghadapi gelombang AI yang semakin deras? Ternus tampaknya yakin, tetapi ia memilih untuk membuktikannya melalui produk, bukan janji.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.