📑 Daftar Isi

Nvidia CEO Jensen Huang dan Anthropic CEO Dario Amodei berbicara di Dreamforce 2026

Huang dan Amodei Beda Pandangan soal Masa Depan AI di Dreamforce 2026

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Jensen Huang dan Dario Amodei tampil di keynote Dreamforce 2026, diwawancarai Marc Benioff
  • Amodei menyamakan pasar AI dengan industri otomotif dan mendorong standar internasional
  • Amodei menyebut "pace of the progress" sebagai kejutan terbesar, nilai AI baru terpakai 5-10%
  • Huang menyebut AI sebagai revolusi industri baru, menegaskan keselamatan adalah persoalan rekayasa
  • Huang ingin "Agentforce every company" dan mendorong perusahaan tidak tertinggal

Telset.id – Nvidia CEO Jensen Huang dan Anthropic CEO Dario Amodei tampil sebagai tamu dalam keynote pembukaan Dreamforce 2026 dan memperlihatkan pandangan yang berbeda soal masa depan AI. Keduanya diwawancarai oleh Salesforce CEO Marc Benioff, mengungkap perbedaan cara pandang yang menggambarkan rumitnya posisi pemangku kepentingan industri, termasuk regulator dan pembuat kebijakan.

Perbedaan itu muncul sejak sesi tanya jawab dimulai. Amodei, yang platform Claude-nya semakin erat bermitra dengan Salesforce lewat peluncuran Claudeforce, menyamakan kondisi pasar AI saat ini dengan industri otomotif. Menurutnya, catatan keselamatan bisa saja disamakan antar pemain, tetapi perusahaan tetap bisa saling belajar satu sama lain.

Amodei juga menyatakan ketertarikannya membuka kerja sama secara internasional untuk menetapkan standar. “Saya pikir itulah cara memimpin industri ke depan, memberi contoh, untuk mengatakan bahwa semua orang selalu bisa menjadi lebih baik,” ujarnya. Pandangan ini menempatkan standar bersama sebagai arah yang ia dukung.

Dreamforce 2026

Pace of Progress Menjadi Kejutan Terbesar

Benioff juga menanyakan kejutan terbesar yang dialami Amodei selama satu dekade terakhir mengembangkan teknologinya. Amodei menjawab bahwa yang mengejutkan adalah “pace of the progress”, bukan hanya dalam pengembangan teknologi AI, tetapi juga dampak ekonominya. Ia mencatat perusahaannya tidak menyadari seberapa cepat sejumlah perusahaan tumbuh dan menjadi sentral dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Amodei, memanfaatkan seluruh informasi dengan platform seperti Claude dapat membuka area bisnis baru. Ia menyebut masih banyak ruang adopsi yang tersisa, atau yang ia gambarkan sebagai “there’s so much diffusion left”. Bahkan jika pengembangan teknologi AI dibekukan saat ini, ia menilai kita hanya akan memakai sekitar 5-10% dari nilai yang mungkin bisa didapat.

Pandangan Amodei ini melengkapi sikapnya yang sebelumnya menyerukan perlambatan pengembangan AI. Seruan tersebut sejalan dengan peringatan bahwa agen AI berpotensi mengambil alih seluruh internet, sebagaimana dibahas dalam artikel X Gugat Nitter soal dinamika platform dan pengawasan.

Di sisi lain, Huang tampil jauh lebih positif. Ia mengajak Benioff berkeliling panggung keynote sambil membahas AI. Menurut Huang, dunia sedang melewati sebuah revolusi industri baru. Namun ia tetap mendorong kehati-hatian di sejumlah area, terutama soal keselamatan.

“Safety is paramount in a lot of ways. It’s job one,” kata Huang. “However, safety is an engineering problem.” Ia menegaskan kecepatan dan keselamatan bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Perusahaan, menurutnya, sebaiknya mengatur langkah sampai yakin bahwa produk yang dirilis akan diterima pasar.

“It’s a false choice,” ujar Huang kepada Benioff. “You could definitely have both at the same time.” Soal perlindungan model, Huang menyarankan perusahaan untuk berlari secepat mungkin, tetapi jika pada titik tertentu perusahaan dinilai kehilangan kendali atau produknya tidak akan aman, maka ambil jeda dan pastikan semuanya benar.

Nvidia CEO Jensen Huang holding the RTX Spark chip

Huang Ingin Agentforce Setiap Perusahaan

Menutup sesi, Benioff menanyakan visi Huang untuk beberapa tahun ke depan dan apa yang ia inginkan dari Salesforce. Huang mengatakan ia ingin “Agentforce every company”, dengan tujuan “really deploying AI”. Ia menegaskan pentingnya tidak tertinggal dari teknologi ini.

“You don’t want to be left behind, this is too important of a technology revolution,” kata Huang. “If it doesn’t work for you straight away, don’t give up on it.” Ia menambahkan hal terpenting adalah jangan sampai tertinggal, dan langit adalah batasnya bagi mereka.

Perbedaan nada antara keduanya menunjukkan tantangan yang dihadapi pemangku kepentingan internal maupun eksternal, termasuk legislator dan regulator. Amodei menyoroti kecepatan perubahan dan dampak ekonomi yang melampaui perkiraan, sementara Huang menekankan bahwa keselamatan dapat dipecahkan sebagai persoalan rekayasa tanpa harus mengorbankan kecepatan.

Diskusi ini juga menyoroti bagaimana standar internasional menjadi salah satu usulan Amodei, di tengah percepatan adopsi AI di berbagai sektor. Pendekatan kehati-hatian yang ia usung beresonansi dengan pembahasan industri lain yang tengah bergeser, seperti yang tergambar dalam peran DRAM di server AI yang mulai tergeser oleh teknologi NAND.

Anthropic Claude

Sementara itu, dorongan Huang agar setiap perusahaan mengadopsi Agentforce mencerminkan keyakinannya bahwa AI adalah revolusi teknologi yang terlalu penting untuk dilewatkan. Pesannya agar perusahaan tidak menyerah jika implementasi awal tidak berjalan mulus menjadi penutup yang menegaskan posisinya yang optimistis.

Baik Amodei maupun Huang sama-sama sepakat bahwa AI membawa perubahan besar. Yang berbeda adalah cara keduanya memandang kecepatan, keselamatan, dan seberapa jauh nilai teknologi ini masih bisa digali. Perbedaan pandangan ini menjadi gambaran nyata betapa kompleksnya lanskap AI saat ini, dari sisi pengembangan teknologi hingga penetapan standar dan regulasi.

[ META_DESCRIPTION]
Nvidia CEO Jensen Huang dan Anthropic CEO Dario Amodei tampil di Dreamforce 2026 dengan pandangan berbeda soal kecepatan, keselamatan, dan masa depan AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.