📑 Daftar Isi

Ilustrasi pendanaan HiddenLayer untuk keamanan AI agent

HiddenLayer Raup Pendanaan Rp1,6 Triliun untuk Keamanan AI Agent

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • HiddenLayer mengumumkan pendanaan Seri B senilai $100 juta dipimpin Delta-v Capital
  • ARR tumbuh lebih dari 10x dalam setahun, kini di kisaran puluhan juta dolar
  • Gartner prediksi pasar keamanan AI capai $2,83 miliar tahun ini, naik 83%
  • Fokus baru pada keamanan runtime, prompt injection, dan manipulasi agent AI
  • Perusahaan berencana ekspansi ke Eropa dan kawasan EMEA
  • Pelanggan utama meliputi sektor finansial, tech company, dan instansi pertahanan

Telset.id – HiddenLayer, perusahaan keamanan siber khusus AI, mengumumkan perolehan pendanaan Seri B senilai $100 juta atau sekitar Rp1,6 triliun. Pendanaan ini dipimpin oleh Delta-v Capital dengan partisipasi dari Ten Eleven Ventures, Morgan Stanley, Microsoft’s M12, Booz Allen Hamilton, dan investor lainnya. Langkah ini menandai percepatan signifikan di tengah melonjaknya pasar keamanan AI.

Keputusan investasi besar ini datang di saat yang krusial. Gartner memperkirakan perusahaan akan membelanjakan $2,83 miliar tahun ini untuk produk keamanan AI, meningkat 83% dibandingkan 2025. Angka tersebut diprediksi akan melonjak hingga hampir $4,78 miliar pada tahun depan. Pertumbuhan pasar yang eksplosif ini secara langsung mendorong ekspansi HiddenLayer.

Chris Sestito, salah satu pendiri sekaligus CEO HiddenLayer, mengungkapkan bahwa pendapatan berulang tahunan (ARR) perusahaannya tumbuh lebih dari 10 kali lipat selama setahun terakhir. Meski enggan menyebutkan angka pasti, Sestito menegaskan ARR saat ini berada di kisaran “puluhan juta dolar” dan lebih dari 90% pertumbuhan tersebut berasal dari pelanggan baru yang bergabung dalam setahun terakhir.

Startup yang berbasis di Austin ini melayani sektor jasa keuangan dan perusahaan teknologi besar yang membangun produk AI sebagai vertikal terbesarnya. HiddenLayer juga memiliki kontrak dengan Departemen Pertahanan AS dan komunitas intelijen. Salah satu pelanggannya disebut sebagai “penyedia model frontier terkemuka” dengan “lebih dari 700 juta pengguna mingguan,” yang mengindikasikan kemungkinan besar adalah OpenAI atau Anthropic.

Fokus Baru pada Keamanan Runtime dan Agent AI

Perubahan terbesar yang dilakukan HiddenLayer adalah memperluas produk eksistingnya—meliputi discovery, runtime protection, attack simulation, dan supply chain security—untuk mengatasi prompt injection, manipulasi agent, dan penggunaan tool berbahaya. Sestito menjelaskan bahwa teknologi inti mereka tetap relevan di berbagai jenis model AI.

“Inference tetaplah inference. Baik itu pada model machine learning tradisional, GenAI, atau alur kerja agentic, banyak teknologi kami yang masih berlaku. Jadi sebenarnya kami tidak perlu pivot, tetapi kami harus memperluas cakupan dari pemodelan tradisional ke GenAI dan agentic,” ujarnya kepada TechCrunch.

Sestito menekankan bahwa keamanan runtime menjadi prioritas utama seiring meningkatnya penerapan AI di berbagai bisnis. Ia menganalogikannya dengan solusi endpoint detection and response (EDR) tradisional, tetapi secara khusus dirancang untuk AI. Fokus ini mencerminkan pergeseran kebutuhan pasar yang semakin menyadari risiko agent AI yang berperilaku tidak semestinya selama produksi.

Peluang serangan baru juga muncul dari eksploitasi model open source. HiddenLayer memindai sekitar 50 kerangka kerja file AI yang berbeda untuk memastikan keaslian model yang digunakan pengguna. “Kami mencari model yang mengaku sebagai sesuatu tetapi sebenarnya berbeda—model tersembunyi di dalam model,” jelas Sestito.

Ekspansi Global dan Tantangan ke Depan

Dana segar senilai $100 juta akan digunakan HiddenLayer untuk membangun kemampuan di arah tersebut, dengan fokus lebih besar pada penjualan dan distribusi, sambil terus memperluas tim engineering dan riset. Perusahaan juga berencana melakukan ekspansi ke Eropa dan kawasan EMEA.

Langkah ekspansi ini menunjukkan ambisi HiddenLayer untuk memanfaatkan posisi awalnya sebelum industri keamanan siber besar turun tangan. Perusahaan keamanan besar seperti Cisco, Palo Alto Networks, dan Check Point kerap memilih mengakuisisi daripada membangun teknologi semacam ini. Sementara itu, startup seperti Noma dan Zenity masing-masing telah mengumpulkan dana lebih dari $100 juta untuk menangani area yang berdekatan atau tumpang tindih.

Sestito mengakui bahwa sebagian produk keamanan AI yang ditawarkan perusahaannya pada akhirnya bisa digabungkan ke dalam platform yang dibangun oleh Microsoft, OpenAI, dan AWS. Namun, ia memperkirakan infrastruktur AI akan berkembang menuju fitur governance seperti discovery, identitas, dan kontrol kebijakan, bukan jenis alat yang dibangun perusahaannya.

Untuk saat ini, tugas HiddenLayer adalah “berkembang secara vertikal seiring dengan kecerdasan buatan” dan pada akhirnya meluas secara horizontal ke bagian keamanan siber yang semakin bergantung pada AI. Target ambisius tersebut menuntut startup ini membuktikan bahwa keunggulan awalnya dapat bertahan menjadi bisnis yang berkelanjutan sebelum seluruh industri menyusul.

Risiko agent AI yang berperilaku menyimpang selama produksi memang nyata, meskipun belum banyak pemberitaan tentang eksploitasi agent secara masif. Kondisi inilah yang mendorong perusahaan keamanan berlomba membangun produk untuk memantau tidak hanya agent, tetapi juga tool dan add-on yang mereka gunakan. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran akan serangan jailbreak yang dapat membobol model AI populer.

Pendanaan Seri B ini menjadi sinyal kuat bahwa investor melihat potensi besar dalam keamanan AI sebagai sektor yang mandiri. Dengan pertumbuhan ARR yang mencapai 10 kali lipat dan ekspansi ke pasar baru, HiddenLayer berupaya memantapkan posisinya di tengah persaingan yang semakin ketat. Keberhasilan mereka akan sangat bergantung pada kemampuan mempertahankan pertumbuhan sebelum pemain besar memasuki pasar dengan solusi terintegrasi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.