📑 Daftar Isi

Ilustrasi gugatan class action terhadap Google terkait pelatihan AI Gemini dengan karya berhak cipta

Gugatan Class Action Hantam Google atas Pelatihan AI Gemini

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Penerbit Hachette, Cengage, Elsevier, penulis Scott Turow, dan S.C.R.I.B.E. gugat Google secara class action
  • Google dituduh gunakan karya berhak cipta untuk latih AI Gemini tanpa izin
  • Google juga dituduh sengaja hapus/ubah informasi hak cipta pada karya tersebut
  • Dua keputusan pengadilan California sebelumnya berpihak pada perusahaan AI dengan alasan fair use
  • Anthropic pernah didenda $1,5 miliar karena membajak karya untuk pelatihan AI
  • Sekitar setengah juta penulis memenuhi syarat dapat pembayaran minimal $3.000
  • Gugatan diajukan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan New York
  • Dokumen internal Google sebut penggunaan buku untuk AI training bisa berpotensi denda $10B-$100B

Telset.id – Google kembali berhadapan dengan gugatan hukum besar-besaran. Sekelompok penerbit dan penulis resmi mengajukan gugatan class action terhadap raksasa teknologi tersebut, menuduh perusahaan menggunakan karya berhak cipta mereka secara ilegal untuk melatih platform kecerdasan buatan (AI), Gemini.

Gugatan yang diajukan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan New York ini melibatkan sejumlah nama besar di industri penerbitan. Kelompok penggugat terdiri dari Hachette, Cengage, Elsevier, penulis Scott Turow, dan S.C.R.I.B.E. Mereka tidak hanya menuduh Google menggunakan karya mereka tanpa izin, tetapi juga sengaja menghapus atau mengubah informasi hak cipta pada karya tersebut.

Tuduhan ini tertuang dalam dokumen gugatan yang menyatakan bahwa Google berupaya “menyembunyikan… bahwa Model Gemini-nya dilatih dengan materi curian.” Kasus ini menjadi salah satu dari sekian banyak keluhan yang diajukan oleh penerbit, penulis, dan pemegang hak cipta lainnya terhadap perusahaan AI seperti Google, Meta, OpenAI, dan Anthropic.

Latar Belakang Sengketa Hak Cipta AI

Meskipun banyak gugatan serupa masih tertunda di pengadilan, dua keputusan pengadilan awal di California telah berpihak pada perusahaan AI. Keputusan tersebut menyatakan bahwa penggunaan karya berhak cipta untuk pelatihan AI dianggap sebagai “penggunaan wajar” berdasarkan undang-undang hak cipta AS yang belum diperbarui sejak sebelum internet ada.

Namun, bukan berarti semua perusahaan AI bebas dari jerat hukum. Anthropic pernah didenda sebesar $1,5 miliar karena membajak karya yang digunakan untuk pelatihan. Denda ini tercatat sebagai pembayaran terbesar dalam sejarah undang-undang hak cipta AS. Sekitar setengah juta penulis memenuhi syarat untuk menerima pembayaran minimal $3.000. Meski demikian, banyak penulis memilih untuk tidak menerima penyelesaian tersebut agar dapat melanjutkan tuntutan hukum lebih lanjut terkait pelatihan AI.

Keputusan hakim di California ini tidak serta-merta menjadi preseden yang tak terbantahkan. Konflik antara pemegang hak cipta dan perusahaan AI terlalu rumit untuk ditetapkan hanya berdasarkan dua keputusan tersebut. Dalam kasus Google, pengadilan yang berbeda di New York akan memberikan kesempatan bagi hakim lain untuk menimbang argumen dari kedua belah pihak.

Hubungan Rumit Penerbit dengan Google

Yang membuat kasus Google ini unik adalah hubungan jangka panjang yang lebih bernuansa dengan para penerbit. Gugatan menjelaskan bahwa penerbit dan penulis memiliki sejarah panjang dalam menyediakan karya berhak cipta kepada Google untuk tujuan spesifik, yaitu membuat buku dapat dicari melalui Google Books.

Hasil pencarian dari Google Books tidak memungkinkan pengguna untuk melihat seluruh buku. Sebaliknya, layanan ini hanya menyediakan akses ke potongan pendek buku beserta informasi bibliografi. Para penggugat mengklaim bahwa Google melatih Gemini dengan salinan buku-buku ini, serta buku-buku yang diunggah ke Google Play store, meskipun perusahaan tidak pernah mendapat izin untuk melakukannya.

“Google secara ilegal menyalin karya dari semua program terbatas ini untuk pelatihan AI, karena mengetahui bahwa mereka tidak memiliki otorisasi untuk melakukannya,” demikian bunyi gugatan tersebut. Tuduhan ini semakin diperkuat dengan adanya dokumen internal Google yang disebut-sebut menyatakan bahwa menggunakan buku berhak cipta untuk pelatihan AI bisa menjadi “sangat bermasalah bagi Google” dan berpotensi mengakibatkan “denda $10 miliar hingga $100 miliar.”

Google sendiri belum memberikan tanggapan langsung atas permintaan komentar terkait gugatan ini. Perusahaan tampaknya masih mempelajari isi gugatan sebelum memberikan pernyataan resmi.

Kasus ini menjadi sorotan penting bagi industri teknologi, terutama terkait bagaimana perusahaan AI memperoleh data pelatihan mereka. Jika gugatan ini berhasil, bisa menjadi preseden baru yang mengubah cara perusahaan seperti Google, Meta, dan OpenAI mengembangkan model AI mereka di masa depan. Bagi para penulis dan penerbit, kasus ini adalah langkah berani untuk melindungi hak cipta mereka di era kecerdasan buatan yang terus berkembang.

Sementara itu, perkembangan teknologi AI dari Google juga terus berjalan. Perusahaan baru-baru ini merilis standar HDR open source untuk konsistensi layar, serta mengubah kebijakan backup Android yang memengaruhi kuota penyimpanan pengguna. Semua ini menunjukkan bahwa Google terus bergerak maju di tengah berbagai tantangan hukum yang dihadapi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.