Telset.id – Google resmi memperbarui pedoman kontennya untuk melarang penggunaan byline palsu dan foto profil yang dihasilkan AI. Kebijakan ini menegaskan bahwa situs yang memakai informasi penulis fiktif tidak lagi diprioritaskan di hasil pencarian. Langkah ini menyasar praktik penipuan identitas kreator yang selama ini dipakai sejumlah penerbit untuk mengejar peringkat.
Aturan baru tersebut menambahkan satu paragraf tegas pada pedoman “helpful, reliable, people-first content” milik Google. Sebelumnya, Google hanya mendorong penambahan informasi kepengarangan yang akurat, seperti byline, pada konten yang memang mengharapkannya. Kini, Google secara eksplisit menyebut pembuatan profil kreator palsu, termasuk memakai headshot buatan AI, nama karangan, atau kredensial palsu, sebagai bentuk penipuan. Menurut Google, segala bentuk penipuan membuat sebuah halaman tidak dapat dipercaya, baik oleh pengguna maupun sistem kualitas otomatisnya, sekaligus menjadi sinyal halaman berkualitas rendah.
Pembaruan pedoman ini muncul setelah serangkaian laporan tentang content mill atau pabrik konten yang memakai byline palsu untuk menarik pembaca. Sebelumnya, Futurism menerbitkan investigasi terhadap sebuah perusahaan bernama Brown Brothers Media. Perusahaan itu disebut menarik puluhan juta page view per bulan dengan mengakuisisi situs berita yang sekarat lalu mengubahnya menjadi pabrik konten bertenaga AI. Salah satu pendiri perusahaan tersebut juga dilaporkan memiliki keterkaitan luas dengan Ghislaine Maxwell, kolaborator Jeffrey Epstein yang kini dipenjara.
Brown Brothers Media mencapai kesuksesan itu dengan menciptakan jurnalis dan pakar bidang fiktif, sering kali dilengkapi kredensial serta riwayat pribadi palsu. Byline karangan tersebut dipakai untuk memproduksi ribuan artikel yang dioptimalkan untuk SEO di jaringan publikasinya. Artikel-artikel itu kerap merupakan hasil plagiat dari liputan nyata, berbasis pengalaman pribadi yang dibuat-buat, atau begitu serampangan sehingga tidak memberi nilai apa pun bagi pembaca. Berdasarkan data yang ditinjau, operasi tersebut memperoleh sebagian besar audiensnya dari Google.
Baca Juga:
Menariknya, Google awalnya tidak banyak berkomentar atas investigasi Futurism tersebut. Namun setelah laporan itu terbit, Google bergerak menekan situs-situs Brown Brothers dari platformnya seperti Search dan Google News. Tak lama setelah itu, Brown Brothers Media tiba-tiba menghentikan penerbitannya. Rangkaian peristiwa inilah yang kemudian mendorong Google memperbarui pedomannya secara eksplisit.
Kasus serupa juga ditemukan di sejumlah wilayah lain. Di Kanada, satu publikasi mendapat malu ketika reporter yang ternyata tidak eksis mulai mengalami malfungsi dan memunculkan pesan error. Publikasi lain di Kanada tertangkap melakukan plagiat atas karya media lain dengan memakai nama seorang jurnalis Indigenous yang dibuat-buat. Skema serupa juga terungkap di Florida dan Rhode Island. Pola ini menunjukkan bahwa praktik byline palsu bukan fenomena tunggal, melainkan masalah yang menyebar di ekosistem konten daring.
Meski demikian, belum jelas apakah pengetatan aturan Google terhadap byline palsu benar-benar membantu ekosistem media yang tengah menghadapi krisis eksistensial. Google sendiri telah mengadopsi AI secara mendalam, menyingkirkan tautan ke liputan orisinal dan menggantinya dengan ringkasan AI yang sarat kesalahan. Kondisi itu disebut semakin mencekik kehidupan jurnalisme independen. Dengan kata lain, langkah Google melarang byline palsu berjalan bersamaan dengan kebijakan AI yang justru dinilai merugikan penerbit asli.

Dalam konteks yang lebih luas, Google juga menghadapi sorotan terkait praktik internalnya. Perusahaan ini pernah menghentikan program bug bounty OSS VRP akibat laporan AI palsu. Google juga sempat dituduh menebang 300 hektare hutan demi data center AI di Finlandia. Sementara itu, riset lain mengungkap jawaban AI chatbots 19 persen kurang beragam dibanding Google.
Perubahan pedoman ini menegaskan satu hal: informasi kepengarangan yang jujur kini menjadi bagian dari penilaian kualitas halaman. Situs yang memakai byline palsu, nama karangan, atau headshot AI berisiko kehilangan prioritas di hasil pencarian Google. Bagi pembaca, aturan ini memperkuat pentingnya memverifikasi siapa yang benar-benar menulis sebuah konten sebelum mempercayainya.





Komentar
Belum ada komentar.