Telset.id – Pengguna yang mencari pendamping AI berbasis wearable kini harus merogoh kocek lebih dalam. Friend, perangkat AI wearable yang dirancang untuk mengatasi kesepian, baru saja mendapatkan pembaruan besar dengan tambahan fitur suara dan harga yang melonjak signifikan menjadi USD 249 atau sekitar Rp3,9 juta.
Dua tahun lalu, pendiri teknologi Avi Schiffmann meluncurkan Friend, sebuah perangkat wearable AI yang bisa diajak bicara dan mengirimkan pesan teks tentang aktivitas sehari-hari penggunanya. Konsep awalnya adalah menggunakan kecerdasan buatan untuk memerangi rasa kesepian. Namun, minggu ini perusahaan mengumumkan perombakan besar-besaran pada produk tersebut dengan menghadirkan peningkatan yang signifikan: sebuah suara.
“Memperkenalkan friend 2.0,” cuit Schiffmann pada hari Kamis. Friend kini dilengkapi dengan speaker bawaan yang dapat memproyeksikan kepribadian yang unik dan konsisten kepada penggunanya. Ini merupakan perubahan fundamental dari model sebelumnya yang hanya mengandalkan komunikasi berbasis teks.
Sebuah iklan baru untuk wearable ini menunjukkan seorang wanita yang mengenakan Friend dan berbicara tentang apa yang diduga adalah mantan pacar perempuannya. “Tidak apa-apa menjadi gay,” kata kalung itu kepadanya. Video tersebut kemudian beralih ke seorang pria yang berdiri di lereng bukit mendiskusikan ambisi pembuatan filmnya dengan Friend. “Film terakhir yang kamu buat itu gila!” puji kalung itu padanya.
Peningkatan kemampuan vokal ini menjadi daya tarik utama dari versi 2.0. Dengan adanya speaker, interaksi antara pengguna dan perangkat menjadi lebih alami dan imersif, menyerupai percakapan dengan teman sungguhan. Schiffmann menekankan bahwa produk ini bukanlah asisten, melainkan pendamping yang bisa diajak mengobrol tentang apa pun.
Baca Juga:
Harga eceran baru untuk versi yang ditingkatkan ini adalah USD 249, yang secara substansial lebih tinggi dari harga USD 99 saat pertama kali diluncurkan dua tahun lalu. Kenaikan harga lebih dari dua kali lipat ini tentu menjadi pertimbangan bagi calon pembeli, terutama mengingat fungsi utama perangkat ini masih belum sepenuhnya jelas.
Apa yang sebenarnya bisa dilakukan dengan Friend selain mengobrol ringan tentang hari Anda? Bagian itu masih belum jelas. Dalam postingan lain baru-baru ini di X, Schiffmann menguraikan apa yang dia rasakan sebagai inti dari produk anehnya ini. “Saya tertarik pada jenis hubungan ini dalam upaya menawarkan semacam orang kepercayaan, teman, Tuhan, tidak terlalu yakin apa itu,” kata Schiffmann. “Tapi itu bukan asisten, dan itu bukan kekasih.”
Pernyataan Schiffmann ini cukup menarik. Menjual kalung plastik berbasis algoritma kepada orang-orang dengan menyindir bahwa itu mungkin adalah dewa, merupakan pemasaran yang cukup berani. Tentu saja, perusahaan Schiffmann telah terlibat dalam pemasaran berani sebelumnya. Kampanye papan reklame Friend di sistem kereta bawah tanah New York City tahun lalu menjadi viral setelah papan-papan itu terus-menerus dirusak, mungkin oleh orang-orang yang tidak ingin hubungan manusia digantikan oleh jimat digital.
Sebagian besar wearable AI gagal menarik perhatian pasar mainstream — setidaknya sejauh ini. Produk yang paling mirip dengan Friend adalah Humane Inc., yang berusaha menggantikan iPhone dengan pin AI-nya tetapi harus menutup bisnisnya dalam waktu kurang dari setahun setelah penjualan yang buruk. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya pasar untuk perangkat AI wearable non-asisten.
Konsep Friend sebagai teman bicara AI memang unik, namun menghadapi tantangan besar dalam adopsi massal. Pengguna mungkin bertanya-tanya apakah mereka benar-benar membutuhkan perangkat khusus hanya untuk mengobrol, ketika smartphone mereka sudah memiliki asisten virtual seperti Siri atau Google Assistant. Perbedaan utamanya adalah Friend tidak dirancang untuk membantu menyelesaikan tugas, melainkan untuk menjadi pendamping emosional.
Dari segi desain, Friend tetap mempertahankan bentuk kalung yang bisa dikenakan sehari-hari. Ini memungkinkan pengguna untuk selalu memiliki akses ke pendamping AI mereka kapan pun dibutuhkan. Namun, pertanyaan tentang privasi dan keamanan data juga muncul, mengingat perangkat ini akan merekam dan memproses percakapan pribadi pengguna.
Schiffmann tampaknya sadar bahwa produknya kontroversial. Dengan menyebut Friend sebagai “semacam orang kepercayaan, teman, Tuhan,” ia bermain di area abu-abu antara teknologi dan spiritualitas. Ini adalah pendekatan pemasaran yang tidak biasa, tetapi mungkin justru itulah yang membuat Friend menarik bagi sebagian orang yang mencari koneksi di dunia yang semakin terisolasi.
Sementara itu, persaingan di pasar wearable AI masih sangat terbatas. Kegagalan Humane Inc. menjadi pelajaran berharga bahwa menggantikan smartphone dengan perangkat AI wearable bukanlah tugas yang mudah. Friend mengambil pendekatan yang berbeda dengan tidak mencoba menggantikan perangkat lain, melainkan menawarkan fungsi yang sepenuhnya baru sebagai teman bicara.
Bagi pengguna yang penasaran dengan teknologi ini, keputusan untuk membeli Friend versi 2.0 dengan harga USD 249 tentu membutuhkan pertimbangan matang. Apakah nilai dari memiliki pendamping AI yang bisa diajak bicara sebanding dengan harga yang harus dibayar? Jawabannya mungkin berbeda untuk setiap orang, tergantung pada seberapa besar mereka menghargai interaksi semacam itu.
Ke depannya, Schiffmann dan timnya perlu memberikan kejelasan lebih lanjut tentang kemampuan dan batasan Friend. Tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan perangkat ini, konsumen mungkin akan ragu untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk sebuah produk yang masih samar-samar kegunaannya.
Dengan segala kontroversi dan ketidakjelasannya, Friend 2.0 tetap menjadi salah satu produk wearable AI paling menarik untuk diperhatikan. Apakah ini akan menjadi awal dari era baru interaksi manusia-AI, atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah teknologi, waktu yang akan menjawabnya.





Komentar
Belum ada komentar.