📑 Daftar Isi

Ilustrasi papan nama Ford di luar diler resmi dengan gaya foto

Ford Akui Gagal Total Ganti Engineer dengan AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Ford secara terbuka mengakui strategi menggantikan engineer dengan AI telah gagal total
  • VP Engineering Ford, Charles Poon, mengaku keliru mengira AI bisa menghasilkan produk berkualitas tinggi tanpa tenaga ahli
  • Ford terpaksa merekrut kembali 350 insinyur berpengalaman untuk memperbaiki dampak kegagalan AI
  • Pekerja berpengalaman hengkang sebelum sempat mentransfer pengetahuan ke sistem AI
  • Ford mengalami penurunan peringkat keandalan dan menjadi yang paling sering melakukan recall di AS tahun ini
  • Meski gagal, Ford justru menambah 100.000 pengujian bertenaga AI baru
  • Kasus ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya transisi pengetahuan sebelum mengadopsi AI

Telset.id – Ford secara terbuka mengakui bahwa strateginya menggantikan tenaga kerja manusia dengan kecerdasan buatan (AI) telah gagal total. Produsen mobil asal Amerika Serikat itu terpaksa merekrut kembali mantan karyawan dan mencari teknisi baru setelah sistem AI yang diandalkan tidak mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi.

Wakil Presiden Teknik Perangkat Keras Kendaraan Ford, Charles Poon, mengungkapkan pengakuan mengejutkan ini kepada para wartawan. “Kami secara keliru berpikir bahwa dengan hanya memperkenalkan kecerdasan buatan dan menyesuaikan persyaratan desain yang kami miliki, hal itu akan menghasilkan produk berkualitas tinggi,” ujar Poon, seperti dikutip The Verge.

Pengakuan ini menjadi tamparan keras bagi Ford yang baru saja meraih peringkat teratas dalam peringkat kualitas awal JD Power untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade. Namun di balik prestasi tersebut, tersembunyi masalah besar yang dihadapi raksasa otomotif ini akibat keputusan tergesa-gesa mengadopsi AI.

Kesalahan Fatal Ford dalam Mengadopsi AI

Menurut penjelasan Poon, masalah sebenarnya bukan terletak pada teknologi AI itu sendiri. Ford justru gagal dalam proses transisi karena pekerja berpengalaman telah meninggalkan perusahaan sebelum mereka sempat mentransfer pengetahuan berharga kepada sistem AI.

“Paradoksnya, AI bukanlah masalah utama. Semuanya menjadi kacau karena para pekerja berpengalaman pergi sebelum Ford bisa meminta mereka mentransfer pengetahuan berharga ke sistem AI dan membantu menyempurnakan teknologi yang dimaksudkan untuk menggantikan mereka,” jelas Poon.

Akibatnya, Ford tidak punya pilihan selain memanggil kembali para karyawan lama. Mereka diminta untuk melatih sistem AI dan juga karyawan baru yang tidak memiliki pengalaman memadai. Para mantan pekerja ini juga ditugaskan untuk meningkatkan proses pelatihan AI di balik sistem tersebut.

Poon memang tidak menjelaskan secara detail mengapa para pekerja berpengalaman itu hengkang. Namun, data menunjukkan bahwa Ford secara bertahap telah memangkas jumlah tenaga kerjanya. Perusahaan kini memiliki lebih dari 5.000 pekerja lebih sedikit dibandingkan tahun 2020.

Dampak Nyata dari Keputusan Tergesa-gesa

Situasi ini semakin diperparah oleh pernyataan CEO Ford, Jim Farley, yang sebelumnya menyatakan bahwa AI “akan menggantikan separuh dari seluruh pekerja kantoran di AS.” Sikap agresif terhadap otomatisasi ini justru berujung pada konsekuensi yang tidak terduga.

Secara total, Ford mengaku telah merekrut kembali, mempekerjakan baru, atau mempromosikan 350 insinyur berpengalaman untuk memperbaiki dampak buruk dari kegagalan AI. Meskipun jumlah tersebut tidak terlalu besar dalam skema besar perusahaan, kerugian reputasi yang diderita Ford jauh lebih mahal.

Data menunjukkan bahwa Ford telah melakukan penarikan kembali (recall) mobil lebih sering dibandingkan produsen mobil lain di AS tahun ini. Peringkat keandalan Ford juga mengalami penurunan signifikan.

Menariknya, kegagalan ini tidak membuat kepemimpinan Ford anti terhadap AI. Justru sebaliknya, menurut The Verge, Ford justru menambahkan lebih dari 100.000 pengujian bertenaga AI baru untuk mengidentifikasi kasus tepi (edge cases) dan menguji sistem perangkat lunak mereka secara lebih ketat.

Kasus Ford ini menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan lain yang ingin terburu-buru mengadopsi AI tanpa persiapan matang. Teknologi secanggih apapun tetap membutuhkan pengetahuan dan pengalaman manusia untuk bisa berfungsi optimal.

Jika Anda tertarik dengan perkembangan terkini seputar mobil listrik dan teknologi otomotif, simak juga artikel tentang Ford UEV yang siap bersaing dengan mobil listrik China. Selain itu, masa depan Mustang Mach-E juga menjadi sorotan setelah Ford mengembangkan platform UEV.

Kisah Ford ini membuktikan bahwa AI bukanlah solusi instan yang bisa menggantikan pengalaman dan keahlian manusia secara tiba-tiba. Perusahaan yang ingin bertransformasi ke era digital harus mempersiapkan transisi pengetahuan dengan matang agar tidak mengalami nasib serupa.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.