📑 Daftar Isi

Ilustrasi menu AI dengan makanan yang tampak terlalu sempurna dan halus

Fenomena Menu AI yang Bikin Gelisah: Ini Penjelasan Ilmiahnya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Menu AI di restoran memicu rasa tidak nyaman karena tampilan terlalu sempurna dan mulus
  • Alex Lisle dari Reality Defender menjelaskan model AI dilatih pada data yang homogen sehingga hasilnya terlihat "salah"
  • Eksperimen Labtec menunjukkan 100 kali edit menu ChatGPT membuat makanan semakin bulat dan halus
  • Peneliti University of Duisburg-Essen menemukan efek uncanny valley pada gambar makanan AI
  • Lee Rainie dari Elon University menyebut AI menghilangkan "tepi" dalam gambar dan bahasa
  • Fenomena ini terkait konsep convergence yang berbeda dari model collapse
  • Restoran disarankan berhenti menggunakan menu AI karena reaksi negatif konsumen

Telset.id – Menu restoran yang dibuat dengan kecerdasan buatan kini memunculkan fenomena baru yang membuat banyak orang merasa tidak nyaman. Ilustrasi makanan pada menu tersebut tampak terlalu sempurna, mulus secara simetris, dan memicu sensasi aneh yang sulit dijelaskan. Fenomena ini bukan sekadar halusinasi kolektif, melainkan ada penjelasan teknis dan ilmiah di baliknya.

Alex Lisle, CTO Reality Defender, menjelaskan bahwa tampilan menu AI yang “aneh” ini berasal dari cara model AI dilatih. “Ini hampir seperti alien yang mencoba membuat pizza tanpa memahami prinsip-prinsip dasarnya,” ujarnya kepada TechCrunch. Reality Defender sendiri merupakan bagian dari kategori startup yang menjual alat deteksi AI dan verifikasi konten, bisnis yang muncul sebagian karena masalah seperti ini.

Kenapa Menu AI Terlihat “Salah”?

Large language models (LLMs) dan diffusion models—jenis model AI yang mendukung chatbot dan generator gambar seperti ChatGPT dan Midjourney—dilatih dengan data dalam jumlah sangat besar. Model-model ini mengidentifikasi pola dalam dataset untuk memprediksi apa yang pengguna cari ketika meminta sesuatu seperti, “Buatkan saya menu untuk restoran burger.”

Lisle mencatat bahwa banyak hasil yang dihasilkan terlihat seperti “menu Chili’s dari tahun 2015”, dan ada alasan untuk itu. “Itu adalah korpus karya yang menjadi dasar fungsi model tersebut,” jelasnya. Karena model dilatih pada data yang didominasi gaya visual tertentu, hasilnya pun mengikuti pola homogen tersebut.

Fenomena ini diperparah oleh kecenderungan model AI untuk menghaluskan detail. Lee Rainie, Direktur Imagining the Digital Future Center di Elon University, mengatakan bahwa “optimasi dataset adalah untuk pleasingness, atau tidak menyinggung, sehingga berubah menjadi homogenisasi.” Ia menambahkan, “Yang diketahui AI lakukan baik dalam gambar maupun bahasa adalah menghilangkan tepian.”

Eksperimen 100 Kali Edit Menu ChatGPT

Untuk memahami bagaimana menu AI menjadi semakin aneh, seorang pengguna X bernama Labtec melakukan eksperimen. Ia membuat menu restoran di ChatGPT, lalu mengeditnya 100 kali untuk melihat bagaimana makanan terus terlihat semakin tidak seperti seharusnya. Hasilnya, makanan dalam gambar menjadi semakin bulat dan mulus setiap kali diedit.

“Hasil akhirnya benar-benar membuat saya tidak nyaman,” tulis Labtec. Telset.id mereplikasi eksperimen tersebut dan menemukan hasil serupa.

Restoran kemungkinan besar menjadi korban masalah ini. Mereka merevisi menu buatan AI untuk mengubah detail kecil berulang kali, seperti harga atau nama item. Setiap edit tampaknya membuat gambar makanan menjadi sedikit lebih bulat dan halus.

Ilustrasi menu AI yang menunjukkan makanan dengan tampilan terlalu sempurna dan halus

Fenomena ini berkaitan dengan konsep “convergence”, yang berbeda dari “model collapse”. Lisle menjelaskan bahwa model collapse “hampir seperti penyakit sapi gila… ketika Anda memberi makan output dari satu model kembali ke dirinya sendiri, akhirnya perkawinan sedarah menjadi terlalu banyak, dan semuanya runtuh.” Convergence lebih ringan, hanya menurunkan kualitas output tanpa membuat model tidak berguna sama sekali.

Ketika seseorang meminta model AI menghasilkan menu untuk restoran cepat saji, model tersebut kemungkinan akan merujuk pada menu Wendy’s, Burger King, McDonald’s, atau rantai populer lainnya. Menu-menu ini sudah memiliki gaya serupa, sehingga output AI akan meniru gaya tersebut dan memperkuatnya jika menu buatan AI masuk kembali ke data pelatihan.

Efek Uncanny Valley pada Makanan AI

Ada sains di balik keengganan kita terhadap menu AI. Para peneliti di University of Duisburg-Essen di Jerman menemukan bahwa gambar makanan yang dihasilkan AI menunjukkan efek “uncanny valley”. Gambar makanan yang terlihat hampir nyata justru memicu lebih banyak rasa jijik dan ketidaknyamanan dibandingkan gambar yang jelas-jelas palsu.

Rainie menambahkan bahwa “orang-orang memiliki indra yang hampir tidak bisa dijelaskan tentang kapan mereka melihat sesuatu yang dihasilkan AI, dibandingkan dengan sesuatu yang nyata sejak awal.” Sensibilitas ini sulit diartikulasikan, tetapi orang tahu ketika mereka melihatnya. Ini menjadi salah satu alasan mengapa reaksi balik terhadap restoran yang menggunakan menu AI begitu kuat.

Perasaan tidak nyaman ini semakin intensif mengingat konteks budaya seputar AI. Jika orang bereaksi sangat negatif terhadap gambar-gambar ini, itu mungkin alasan yang cukup bagi restoran untuk berhenti mencoba membuat menu AI berfungsi.

Masalah ini tidak hanya terbatas pada menu restoran. Lisle menekankan bahwa implikasinya lebih luas: “Melihat dan mendengar selalu menjadi dasar kepercayaan, sampai-sampai sistem pengadilan kita sepenuhnya disetel pada gagasan bahwa standar emas dalam bukti adalah pengakuan yang direkam dan bukti video.” Namun kini, “itu tidak lagi terjadi. Dunia telah berubah secara fundamental, baik atau buruk.”

Fenomena menu AI ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat menghasilkan output yang tampak normal namun terasa “salah” bagi manusia. Dengan meningkatnya penggunaan AI di berbagai industri, termasuk teknologi gaming dan komunikasi digital, pemahaman tentang keterbatasan dan efek samping AI menjadi semakin penting bagi konsumen dan pelaku bisnis.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.