Ilustrasi startup AI compliance Dili fokus pada kepatuhan proyek infrastruktur

Dili AI Compliance Raup Pendanaan $21,7 Juta untuk Proyek Infrastruktur AS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Dili, startup AI compliance, mengumumkan pendanaan Seri A sebesar $15 juta.
  • Total pendanaan yang terkumpul mencapai $21,7 juta setelah seed round $6,7 juta.
  • Seri A dipimpin Khosla Ventures dengan partisipasi Allianz, Rebel Fund, dan lainnya.
  • Fokus Dili adalah kepatuhan regulasi untuk proyek konstruksi yang kompleks, terutama yang terikat pendanaan federal.
  • Contoh aturan yang ditangani adalah Davis-Bacon, PWA rules, OSHA, dan EPA.
  • AI digunakan untuk mengubah dokumen tidak terstruktur menjadi data terstruktur.
  • Sistem deterministik kemudian menyortir data berdasarkan aturan kepatuhan yang statis.
  • Dili sudah digunakan di sekitar 700 proyek, termasuk fasilitas manufaktur dan data center.
  • Sekitar setengah proyek menggunakan Dili sebagai alat in-house, setengahnya sebagai kontraktor.
  • CEO Anand Chaturvedi memprediksi industri akan beralih ke model perangkat lunak in-house di masa depan.

Telset.id – Startup AI compliance bernama Dili berhasil mengamankan pendanaan Seri A sebesar $15 juta. Pendanaan ini khusus menyasar proyek infrastruktur baru di Amerika Serikat yang membutuhkan kepatuhan regulasi yang rumit.

Putaran pendanaan tersebut datang setelah Dili sebelumnya mengantongi pendanaan tahap awal (seed) senilai $6,7 juta. Dengan demikian, total modal yang berhasil dikumpulkan perusahaan kini mencapai $21,7 juta. Seri A ini dipimpin oleh Khosla Ventures, dengan partisipasi dari Allianz, Rebel Fund, Darren Bechtel dari Brick and Mortar Ventures, serta Garry Tan dari Y Combinator. Dili sendiri sebelumnya merupakan bagian dari program akselerasi Y Combinator batch Summer 2023.

Konsep “AI untuk kepatuhan” (AI for compliance) sebenarnya sudah lumrah di kalangan startup. Namun, Dili memiliki fokus yang lebih spesifik, yaitu pada kerumitan aturan yang unik terkait proyek konstruksi, terutama proyek yang mendapatkan pendanaan federal.

Co-founder dan CEO Dili, Anand Chaturvedi, memberikan contoh konkret. Ia menyebut aturan Davis-Bacon yang memungkinkan Departemen Tenaga Kerja (Department of Labor) menetapkan upah yang berlaku (prevailing wages) untuk proyek tertentu. Kemudian, ada aturan upah dan magang yang berlaku (PWA rules) untuk proyek energi bersih yang didanai berdasarkan Inflation Reduction Act (IRA). Belum lagi berbagai aturan dari OSHA atau EPA yang berlaku tergantung jenis pekerjaannya.

Ini adalah kumpulan persyaratan yang tumpang tindih dan sangat kompleks. Kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal secara finansial.

“Ketidakpatuhan dapat mengakibatkan denda jutaan dolar untuk proyek-proyek tersebut,” jelas Chaturvedi. “Jadi, sangatlah kuat untuk dapat memeriksa semua informasi saat masuk, bukan hanya mengambil sampel data.”

Mengingat risikonya yang tinggi, keandalan (reliability) menjadi perhatian utama. Chaturvedi percaya arsitektur Dili akan mencegah ketidakjelasan (fuzziness) yang sering muncul dari model AI bahasa besar (LLM) untuk masuk ke produk akhir.

Model AI kontemporer hanya digunakan di lapisan data (data layer) perusahaan. Fungsinya sebagai mesin untuk mengambil dokumen tidak terstruktur dan menerjemahkannya menjadi data terstruktur. Dari sana, sebuah sistem deterministik akan menyortir data sesuai dengan aturan kepatuhan yang kompleks namun statis.

Ketika sistem bekerja dengan benar, tugas yang biasanya memakan waktu sehari penuh kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit.

“Bayangkan bisa membaca seluruh konteks dokumen internal perusahaan, semua dokumen vendor, semua informasi ERP, semua informasi sistem penggajian, lalu mengambil data yang Anda butuhkan secara spesifik untuk pelaporan atau kepatuhan,” jelas Chaturvedi.

Dili sudah menerapkan sistem ini dalam praktik nyata. Chaturvedi mengatakan perangkat lunaknya sudah digunakan di “sekitar 700 proyek,” mulai dari fasilitas manufaktur hingga pusat data (data center).

Menariknya, Chaturvedi menyebutkan bahwa sekitar setengah dari proyek tersebut menggunakan Dili sebagai alat perangkat lunak internal (in-house). Sementara setengahnya lagi meng-outsource seluruh proses kepatuhan ke perusahaan dengan model kontraktor.

Dili mampu menangani kedua jenis kontrak tersebut. Namun, Chaturvedi memperkirakan industri akan lebih beralih ke model perangkat lunak di tahun-tahun mendatang.

“Perangkat lunak dan AI akan mulai memakan banyak alur kerja layanan profesional, jadi saya pikir semakin banyak orang akan mulai membawa itu ke internal,” ujar Chaturvedi. “Hal yang menarik adalah bagaimana pasar itu sendiri berkembang dan ke mana kebutuhan pelanggan akan pergi seiring perkembangan AI.”

Pendanaan ini menunjukkan semakin besarnya kebutuhan akan solusi otomatis untuk kepatuhan regulasi di proyek infrastruktur besar. Dengan dana segar ini, Dili berpotensi mempercepat adopsi teknologinya di lebih banyak proyek konstruksi di Amerika Serikat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.