Telset.id – Lebih dari separuh lagu yang diunggah ke platform streaming setiap hari kini merupakan hasil kecerdasan buatan atau AI-generated. Deezer, perusahaan streaming musik, mengumumkan langkah agresif untuk membersihkan katalognya dari konten buatan AI yang tidak relevan dan berpotensi merugikan.
Deezer mengungkapkan bahwa pada April 2026, jumlah unggahan lagu AI-generated mencapai 75.000 track per hari, atau setara dengan 44% dari total unggahan harian. Angka ini menunjukkan peningkatan dramatis dari awal tahun 2025 yang hanya sekitar 10.000 track per hari atau 10% dari total unggahan.
Menghadapi lonjakan ini, Deezer mengambil tindakan tegas. Perusahaan akan menghapus lagu AI-generated yang tidak pernah diputar dalam enam bulan terakhir atau terlibat dalam praktik streaming palsu untuk menaikkan pendapatan. Langkah ini diambil untuk melindungi hak artis dan penulis lagu serta memastikan pendengar menikmati musik yang autentik.
“Deezer telah berada di garis depan dalam memerangi penipuan dan mengurangi dilusi pembayaran terkait musik AI selama hampir dua tahun. Sekarang setelah setengah dari semua unggahan harian adalah lagu AI-generated, kami mengambil langkah tambahan untuk melindungi hak artis dan penulis lagu, sambil tetap fokus pada musik yang benar-benar disukai penggemar,” ujar CEO Deezer Alexis Lanternier dalam pernyataan resmi.
Kebijakan ini merupakan respons atas pertumbuhan eksponensial konten AI di platform. Data Deezer menunjukkan tren peningkatan yang konsisten sejak Januari 2025. Saat itu, volume unggahan harian hanya 10.000 track. Angka ini terus merangkak naik menjadi 20.000 track pada April 2025, 30.000 track pada September 2025, dan 50.000 track pada November 2025.
Memasuki tahun 2026, lonjakan semakin tajam. Pada Januari 2026, unggahan harian mencapai 60.000 track atau 39% dari total. Puncaknya terjadi pada Juni 2026, dengan rata-rata 90.000 track per hari. Angka ini menunjukkan bahwa konten AI kini mendominasi arus unggahan musik digital.
Deezer bukan satu-satunya platform yang bergulat dengan masalah ini. Industri streaming musik belum mencapai konsensus tunggal mengenai cara menyikapi konten AI. Beberapa platform mengambil pendekatan ketat, seperti Bandcamp yang melarang total lagu AI, sementara Tidal memotong monetisasi untuk konten serupa.
Di sisi lain, pendekatan lebih lunak juga terlihat. Apple Music menerapkan sistem pelabelan sukarela untuk konten AI. Sementara itu, Spotify mengembangkan kebijakan internalnya sendiri terkait seberapa besar peran AI dalam proses pembuatan musik. Perbedaan pendekatan ini mencerminkan kompleksitas regulasi konten AI di era digital.
Sebagai langkah proaktif, Deezer telah melabeli musik AI di platformnya sejak tahun lalu. Perusahaan juga mengklaim bahwa teknologi deteksinya mampu mengidentifikasi lagu yang dihasilkan oleh model AI dari startup seperti Suno dan Udio. Kedua startup ini saat ini tengah terlibat dalam gugatan hak cipta terkait penggunaan data untuk melatih AI.
Lebih jauh lagi, awal tahun ini Deezer membuka akses teknologi deteksinya untuk platform lain. Namun, belum jelas apakah platform-platform besar sudah menggunakan alat tersebut. Langkah ini menunjukkan niat Deezer untuk menjadi standar industri dalam identifikasi konten AI.
Bulan lalu, Deezer juga merilis alat yang dapat menyaring daftar putar di Apple Music dan Spotify untuk mencari lagu AI-generated. Ini merupakan upaya untuk memberikan transparansi lebih kepada pengguna lintas platform. Dengan alat ini, pendengar bisa mengetahui apakah lagu favorit mereka di daftar putar populer merupakan hasil karya manusia atau mesin.
Kebijakan penghapusan lagu AI yang tidak pernah diputar memiliki implikasi signifikan. Pertama, ini mengurangi polusi katalog yang membuat platform dipenuhi konten tidak relevan. Kedua, ini melindungi royalti artis sungguhan dari dilusi akibat ribuan lagu AI yang membanjiri sistem.
Deezer menekankan bahwa langkah ini diambil untuk menjaga ekosistem musik yang sehat. Dengan membersihkan konten AI yang tidak berkontribusi pada pengalaman mendengarkan, platform berharap dapat mengalokasikan sumber daya dan pembayaran royalti secara lebih adil.
Pertumbuhan konten AI yang eksplosif menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan industri musik. Apakah pendengar akan terus menikmati musik yang dihasilkan oleh algoritma? Atau justru akan ada pergeseran kembali ke musik yang dibuat oleh manusia?
Yang jelas, Deezer telah mengambil posisi tegas. Dengan data yang menunjukkan bahwa konten AI kini mendominasi unggahan, tindakan tegas diperlukan untuk mencegah platform menjadi tempat pembuangan sampah digital bagi lagu-lagu AI yang tidak bermutu.
Langkah Deezer ini bisa menjadi preseden bagi platform lain. Jika berhasil, bukan tidak mungkin platform streaming lainnya akan mengadopsi kebijakan serupa. Industri musik sedang berada di persimpangan jalan, dan keputusan yang diambil sekarang akan menentukan bentuk industri di masa depan.
Bagi artis dan penulis lagu, langkah Deezer membawa angin segar. Mereka tidak perlu lagi bersaing dengan ribuan lagu AI yang membanjiri platform setiap hari. Pendengar pun diuntungkan karena kualitas konten yang mereka akses akan lebih terjamin.
Namun, tantangan tetap ada. Teknologi deteksi harus terus diperbarui karena model AI semakin canggih dalam menghasilkan musik yang sulit dibedakan dari karya manusia. Deezer menyadari ini dan terus mengembangkan kemampuannya.
Dengan pangsa pasar yang terus tumbuh, Deezer menunjukkan bahwa platform streaming bisa mengambil peran aktif dalam membentuk ekosistem musik digital. Keputusan untuk membersihkan konten AI adalah langkah berani yang mungkin akan diikuti oleh pemain lain di industri ini.





Komentar
Belum ada komentar.