Telset.id ā Pembangunan pusat data DataOne di Vineland, New Jersey, Amerika Serikat, menuai protes dari warga setempat. Proyek senilai US$19,4 miliar yang menyuplai kapasitas komputasi untuk Microsoft ini diduga beroperasi tanpa izin dan menimbulkan polusi udara serta kebisingan yang mengganggu warga di sekitar lokasi.
Menurut laporan dari Stand.earth, proyek yang mulai dibangun pada 2025 ini telah mengoperasikan beberapa turbin gas tanpa izin di lokasi yang dekat dengan dua sekolah setempat. Selain itu, terdapat dugaan pembangunan tangki penyimpanan gas alam cair (LNG) berkapasitas 1,5 juta galon yang juga tidak memiliki izin, serta tingkat kebisingan yang tidak dapat diterima pada malam hari dan memengaruhi warga dalam radius setengah mil dari pusat data tersebut.
Matt Williams, ketua kelompok Sustain South Jersey, mengungkapkan kepada Tomās Hardware bahwa konstruksi sebenarnya sudah dimulai sebelum Nebius menandatangani perjanjian multi-tahun untuk menyediakan kapasitas khusus bagi Microsoft pada Oktober 2025. Namun, warga baru menyadari bahwa proyek tersebut adalah pusat data setelah kesepakatan senilai US$19,4 miliar yang mencakup sekitar 100.000 GPU Nvidia GB300 untuk raksasa teknologi itu diumumkan ke publik.
Warga Vineland mulai melihat referensi tentang pusat data tersebut di berbagai dokumen pemerintah, yang kemudian memicu sejumlah pertanyaan kepada pemerintah kota. Akibatnya, kota mengadakan pertemuan balai kota pada Januari 2026 ā beberapa bulan setelah konstruksi pusat data dimulai. CEO DataOne, Charles-Antoine Beyney, mengakui bahwa pertemuan tersebut seharusnya diadakan beberapa bulan sebelumnya.

Beberapa minggu sebelum pertemuan balai kota, warga yang tinggal dalam radius setengah mil dari lokasi mulai mengeluhkan kebisingan dari pembangunan tersebut. Meskipun mereka tidak dapat memastikan sumber kebisingan, suara itu sering digambarkan sebagai dengungan rendah, mirip dengan suara generator. Investigasi kemudian mengungkapkan bahwa lokasi tersebut memiliki 62 turbin gas, dengan setidaknya 45 turbin beroperasi setiap saat.
Hal ini serupa dengan yang dilakukan SpaceXAI di Memphis, Tennessee, yang memasang 69 turbin gas alam tanpa izin untuk menyalakan pusat datanya. Meskipun perusahaan tersebut telah berjanji untuk menghapus generator pencemar ini, prosesnya akan dilakukan secara bertahap selama satu tahun karena digantikan oleh pembangkit listrik di lokasi berkapasitas 1,2 GW.
Selain masalah polusi udara dan kebisingan, terdapat juga kekhawatiran bahwa sistem pengelolaan air hujan di lokasi tidak sesuai dengan peraturan negara bagian. Tinjauan teknik pihak ketiga menyatakan bahwa jika masalah ini tidak diperbaiki, dapat menyebabkan banjir di dalam dan di luar lokasi, terutama mengingat luas lokasi yang mencapai 55 hektare. Para ahli juga mencatat bahwa pusat data tersebut telah āmeremehkan pengisian ulang air tanah tahunan setidaknya 20 juta galon per tahun,ā yang dapat menyebabkan penurunan permukaan air tanah dan mengurangi jumlah air yang tersedia bagi warga sekitar.
Menanggapi situasi ini, Senior Campaigner Stand.earth, Nathan Taft, menyatakan dalam pernyataannya: āInsiden ini harus menghancurkan ilusi bahwa Microsoft adalah ātetangga yang baikā atau lebih bertanggung jawab daripada perusahaan Big Tech lainnya. Investigasi ini mengungkapkan bahwa jauh dari āmelakukan hal ini secara berbeda dari yang lainā seperti yang dijanjikan, Microsoft justru mengambil langsung dari buku panduan Elon Muskās xAI, yaitu merusak terlebih dahulu dan meminta izin belakangan.ā

Dalam wawancara dengan Tomās Hardware, Nathan menjelaskan bahwa meskipun Microsoft tidak secara langsung memiliki atau mengoperasikan pusat data Vineland, wajar jika raksasa teknologi tersebut melakukan sesuatu terhadap semua keluhan ini karena Microsoft yang mengontrak Nebius untuk daya komputasi, yang menghasilkan proyek konstruksi DataOne. Ia membandingkan hal ini dengan kontraktor yang membuat kekacauan di properti tetangga kliennya.
Baca Juga:
Tindakan DataOne di New Jersey secara langsung bertentangan dengan janji yang dibuat Microsoft pada Januari 2026. Warga meminta raksasa teknologi tersebut untuk menepati janjinya. Meskipun kekhawatiran tentang polusi udara dan kebisingan secara teknis tidak disebutkan dalam komitmen āramah komunitasā perusahaan, masalah-masalah ini tetap memengaruhi kualitas hidup orang-orang yang tinggal di sekitar pusat data DataOne.
Di samping itu, konstruksi tanpa izin menunjukkan bahwa proyek tersebut tidak mematuhi aturan Vineland. āPara pengembang telah ābertindak dulu, bayar denda, dan minta maaf belakanganā,ā kata Mr. Williams.
Kasus ini menjadi pengingat penting tentang dampak pembangunan infrastruktur teknologi terhadap masyarakat sekitar. Meskipun pusat data menjadi tulang punggung layanan digital modern, pengelolaannya harus tetap memperhatikan kepatuhan regulasi dan kesejahteraan warga. Peristiwa serupa juga pernah terjadi di lokasi lain, seperti keluhan kebisingan terhadap pusat data Microsoft di Wisconsin yang berujung pada gugatan class-action oleh warga setempat.
Dampak pada Komunitas Lokal dan Tanggung Jawab Korporasi
Kasus DataOne di Vineland menunjukkan adanya kesenjangan antara janji korporasi dan realitas di lapangan. Warga yang tinggal di sekitar pusat data telah mengalami dampak langsung dari operasional yang tidak sesuai aturan, mulai dari polusi udara yang mengancam kesehatan anak-anak di sekolah terdekat hingga kebisingan yang mengganggu istirahat malam.
Kekhawatiran tentang sistem pengelolaan air hujan juga menambah daftar masalah yang harus dihadapi. Jika tidak segera diperbaiki, risiko banjir dan penurunan kualitas air tanah dapat memengaruhi kehidupan warga dalam jangka panjang. Situasi ini menunjukkan bahwa pembangunan pusat data berskala besar memerlukan pengawasan ketat dan komunikasi transparan dengan masyarakat sejak awal.
Meskipun Microsoft tidak secara langsung mengoperasikan fasilitas tersebut, sebagai pihak yang mengontrak layanan dari Nebius dan DataOne, perusahaan tersebut memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan rantai pasokannya mematuhi standar lingkungan dan regulasi yang berlaku. Kegagalan dalam hal ini dapat merusak reputasi perusahaan di mata publik dan memperkuat persepsi negatif terhadap industri pusat data secara keseluruhan.
Ke depannya, kasus ini diharapkan menjadi pelajaran bagi pengembang pusat data lainnya untuk lebih transparan dan patuh terhadap regulasi sejak awal pembangunan. Keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan serta kepatuhan terhadap izin lingkungan bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membangun kepercayaan dengan komunitas sekitar.





Komentar
Belum ada komentar.