Ilustrasi jurnalis yang frustrasi karena identitasnya digunakan oleh AI setelah dipecat

ClickOut Media Gunakan AI Tiru Jurnalis yang Sudah Dipecat

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Jurnalis lepas Ben Touati dipecat dari ClickOut Media pada awal 2026
  • Artikel AI terus terbit menggunakan namanya setelah pemecatan
  • ClickOut Media menggunakan AI untuk meniru identitas mantan karyawan
  • Perusahaan sebelumnya terlibat kontroversi jurnalis AI palsu di Videogamer
  • Touati menggunakan GDPR untuk mengajukan klaim penyalahgunaan data pribadi
  • Artikel-artikel tersebut akhirnya dihapus dari nama Touati
  • Kasus ini menjadi peringatan tentang etika penggunaan AI di industri media

Telset.id – Seorang jurnalis lepas mengalami kejadian tidak biasa setelah dipecat dari perusahaannya. Meski sudah tidak lagi bekerja di ClickOut Media, artikel-artikel baru terus muncul menggunakan namanya, namun ditulis oleh kecerdasan buatan (AI).

Ben Touati, jurnalis asal Stockholm, mengaku situasi ini seperti tamparan keras. Artikel-artikel tersebut muncul hanya beberapa hari setelah ia dipecat dari divisi Jerman ClickOut pada awal 2026. Kualitas tulisan yang dihasilkan AI itu sangat di bawah standar yang biasa ia pegang.

“Kelima artikel itu benar-benar malas, jelas sampah, jelas tidak ada orang sungguhan di baliknya,” ujar Touati kepada Press Gazette, seperti dikutip Futurism.

ClickOut Media memberikan pernyataan terkait praktik ini. Namun, perusahaan tidak menjelaskan secara spesifik mengapa mereka secara efektif meniru mantan karyawan dengan AI. “Kami menggunakan konten berbantuan AI di tempat yang sesuai, bersamaan dengan pemeriksaan dan suntingan manusia,” demikian pernyataan resmi ClickOut Media.

Praktik penggunaan AI secara tidak etis ini menjadi sorotan di industri media. Banyak penerbit online yang mulai mengadopsi AI secara menipu, dan ClickOut Media menjadi salah satu yang paling kontroversial. Sebelumnya, perusahaan ini menjadi pusat kontroversi setelah artikel di situs Videogamer ternyata ditulis oleh jurnalis AI palsu.

Seorang pria berkemeja hijau putih bergaris memegang ponsel dan tampak frustrasi dengan latar belakang hijau terang dan pola lingkaran merah hitam.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana AI di ruang redaksi bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, AI membantu produktivitas, namun di sisi lain bisa disalahgunakan untuk menggantikan jurnalis manusia secara tidak etis.

Touati mulai bekerja sama dengan ClickOut Media pada awal 2024. Selama bekerja, ia dipindah-pindahkan antar berbagai situs perusahaan, termasuk Techopedia, iGaming, dan Esports Insider. Ia mengaku harus berulang kali menolak tekanan untuk menggunakan AI dalam menulis artikel.

Para manajer sering berkata, “Hampir mustahil untuk bertahan tanpa AI saat ini.” Karyawan juga diperlihatkan video tentang cara membuat dan “memanusiakan” artikel yang ditulis AI. “Saya hanya membiarkan video itu berjalan dan tidak memperhatikannya,” kata Touati.

Pada awal 2026, AI benar-benar menggantikan posisinya. Manajernya memberi tahu bahwa banyak pekerja lepas yang dipecat karena tidak cukup pekerjaan. Semua orang telah “mengupgrade” produktivitas mereka dengan AI. Touati kemudian diberhentikan karena situs Esports Insider telah dide-indeks oleh Google.

Tak lama kemudian, pada akhir Mei 2026, ia menemukan bahwa situs tersebut masih mempublikasikan artikel atas namanya. Touati akhirnya mendapatkan keadilan dengan menggunakan Peraturan Perlindungan Data Umum Uni Eropa (GDPR) untuk mengajukan klaim terhadap ClickOut karena menyalahgunakan informasi pribadinya. Perusahaan kemudian menghapus nama Touati dari artikel-artikel tersebut.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi industri media tentang Microsoft Copilot dan penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab. Penggunaan AI untuk meniru identitas jurnalis asli tidak hanya melanggar etika jurnalistik, tetapi juga berpotensi melanggar hukum perlindungan data.

ClickOut Media bukan satu-satunya perusahaan yang melakukan praktik semacam ini. Banyak penerbit online yang menggunakan AI secara deceptif, dengan beberapa bahkan membuat profil foto palsu untuk jurnalis fiktif mereka. Praktik ini merusak kredibilitas jurnalisme dan menyesatkan pembaca.

Kejadian ini juga menunjukkan pentingnya regulasi yang jelas tentang penggunaan AI di industri media. Tanpa pengawasan yang ketat, teknologi yang seharusnya membantu produktivitas ini bisa disalahgunakan untuk hal-hal yang merugikan banyak pihak.

Bagi para jurnalis dan pekerja media, kasus Touati menjadi pelajaran berharga. Mereka harus lebih waspada terhadap potensi penyalahgunaan identitas dan hak cipta di era AI. Penggunaan teknologi harus tetap menghormati hak-hak individu dan standar profesionalisme.

Sementara itu, Touati kini bisa bernapas lega setelah namanya tidak lagi digunakan tanpa izin. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: berapa banyak jurnalis lain yang mengalami nasib serupa tanpa sepengetahuan mereka?

Kasus ini juga menjadi sorotan bagi platform-platform besar seperti Google yang harus lebih ketat dalam memverifikasi konten. De-indeksasi situs Esports Insider oleh Google justru memicu rantai peristiwa yang berujung pada penyalahgunaan AI ini.

Dengan semakin canggihnya teknologi AI, tantangan etika di dunia jurnalisme akan semakin kompleks. Diperlukan kerjasama antara penerbit, jurnalis, regulator, dan platform teknologi untuk menciptakan ekosistem media yang sehat dan bertanggung jawab.

Praktik ClickOut Media ini juga mengingatkan kita pada pentingnya transparansi dalam penggunaan AI. Pembaca berhak tahu apakah konten yang mereka konsumsi dibuat oleh manusia atau mesin. Tanpa transparansi, kepercayaan publik terhadap media akan semakin terkikis.

Touati berharap kasusnya bisa menjadi preseden bagi jurnalis lain yang mengalami perlakuan serupa. Dengan menggunakan jalur hukum seperti GDPR, pekerja lepas bisa melindungi hak-hak mereka dari penyalahgunaan oleh perusahaan.

Kisah ini menjadi bukti bahwa meskipun AI menawarkan efisiensi, penggunaannya harus tetap dalam koridor etika dan hukum. Jurnalisme berkualitas tetap membutuhkan sentuhan manusia yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.