Christopher Nolan dalam wawancara tentang AI sebagai Trojan horse

Christopher Nolan Sebut AI sebagai Trojan Horse Kaca yang Transparan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Christopher Nolan menyebut AI sebagai "Trojan horse" yang transparan dan terbuat dari kaca
  • Nolan memuji skeptisisme publik, terutama anak muda, terhadap perkembangan AI
  • Istilah "AI slop" disebut Nolan sebagai bentuk penolakan anak muda terhadap konten AI
  • Nolan mengaku sebagai teknoskeptis, bukan teknofobia
  • Film The Odyssey menjadi film pertama yang seluruhnya diambil dengan kamera Imax
  • Directors Guild of America yang dipimpin Nolan berhasil dapatkan perlindungan generative AI
  • Nolan khawatir tentang motif pengembang AI, bukan semata kemampuan teknisnya

Telset.id – Sutradara pemenang Oscar Christopher Nolan menyebut kecerdasan buatan atau AI sebagai “Trojan horse” yang transparan, di tengah skeptisisme publik yang semakin kuat terhadap teknologi tersebut. Pernyataan ini disampaikan Nolan dalam sebuah wawancara dengan pewawancara Hugo Travers, yang mempublikasikan konten di YouTube dengan nama HugoDécrypte.

Dalam wawancara tersebut, Travers mengangkat analogi kuda Troya yang memainkan peran kunci dalam film terbaru Nolan, “The Odyssey”. Sama seperti kuda kayu yang menyembunyikan prajurit Yunani, Travers bertanya apakah AI mungkin menjadi sesuatu “yang Anda sambut dalam kehidupan sehari-hari” hanya untuk kemudian berubah menjadi “sesuatu yang lain dan lebih gelap.”

Menanggapi pertanyaan itu, Nolan tertawa dan menjawab, “Saya pikir AI adalah kuda Troya yang semua orang tahu orang-orang Yunani ada di dalamnya.” Ia kemudian mendeskripsikan teknologi tersebut sebagai “kuda yang transparan, terbuat dari kaca.” Pernyataan ini menjadi sorotan utama dalam diskusi tentang dampak AI di industri hiburan global.

Nolan mengungkapkan kekagumannya terhadap skeptisisme publik terhadap AI, terutama dari kalangan anak muda. “Saya belum pernah melihat teknologi berkembang begitu pesat yang ditolak sepenuhnya oleh publik,” ujarnya. “Kecurigaan semua orang terhadapnya sangat ekstrem, terutama anak muda. Reaksi terhadap video AI online dan orang-orang seusia anak saya yang langsung menyebutnya ‘AI slop’ dan menciptakan istilah itu dan langsung mengkotak-kotakkannya.”

Menurut Nolan, skeptisisme ini adalah hal yang sehat. “Ini adalah skeptisisme yang sangat sehat, karena teknologi selalu akan memberi kita hadiah besar, tetapi harus dilihat dengan skeptisisme,” katanya. “Motif orang-orang yang memberikannya kepada kita juga harus dilihat dengan skeptisisme. Itulah saat kita akan mendapatkan yang terbaik dari teknologi baru, bukan sekadar keyakinan buta bahwa semuanya akan baik-baik saja.”

Sikap Nolan terhadap AI ini menarik perhatian mengingat latar belakangnya sebagai seorang pembuat film yang dikenal sangat selektif terhadap teknologi. Sang sutradara telah lama dikenal sebagai sosok yang resisten terhadap teknologi tertentu, termasuk smartphone. Kecintaannya pada film seluloid membuatnya terlihat seperti seorang Luddite sekaligus pionir, dengan “The Odyssey” menjadi film fitur pertama yang seluruhnya diambil dengan kamera dan film Imax.

Ketika The New York Times baru-baru ini bertanya apakah Nolan menganggap dirinya seorang teknofobia, ia menjawab, “Saya menganggap diri saya seorang teknoskeptis.” Ia menjelaskan bahwa kecintaannya pada film berasal dari fakta bahwa film “lebih baik dalam merepresentasikan cara mata melihat dunia dibandingkan sistem pencitraan digital yang pernah saya lihat.”

“Saya selalu menerima teknologi baru, tetapi teknologi cenderung dijual kepada orang-orang dengan mengorbankan sistem yang mungkin masih valid dan layak,” kata Nolan. “Itulah yang saya lihat di industri saya — membuang bayi bersama air mandinya. Kami hampir kehilangan film!”

Sikap Nolan terhadap AI ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak teknologi tersebut di Hollywood. AI menjadi fokus utama selama pemogokan penulis dan aktor pada tahun 2023. Directors Guild of America, di mana Nolan menjabat sebagai presiden, juga berhasil mendapatkan perlindungan terkait generative AI dalam kontrak terbarunya.

Nolan tidak memberikan detail lebih spesifik tentang apa yang ia anggap sebagai ancaman dari AI. Namun, pernyataannya tentang “motif orang-orang yang memberikannya kepada kita” menunjukkan kekhawatiran tentang siapa yang mengendalikan dan mengembangkan teknologi AI, bukan semata-mata tentang kemampuan teknisnya.

Film terbaru Nolan, “The Odyssey”, saat ini sedang mendominasi box office. Debut film tersebut berhasil memecahkan lima rekor sekaligus, menandai kesuksesan besar bagi sang sutradara. Box Office Debut yang mengesankan ini menunjukkan bahwa meskipun Nolan dikenal sebagai teknoskeptis, karyanya tetap mendapat sambutan luar biasa dari publik.

Pernyataan Nolan tentang AI sebagai “kuda Troya yang transparan” dan “terbuat dari kaca” menggambarkan paradoks yang menarik. Di satu sisi, AI berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, publik — terutama generasi muda — menunjukkan resistensi yang kuat terhadap teknologi ini.

Fenomena “AI slop” yang disebut Nolan merujuk pada konten buatan AI yang dianggap berkualitas rendah atau tidak autentik. Istilah ini populer di kalangan anak muda sebagai bentuk penolakan terhadap konten yang dihasilkan oleh AI. Hal ini menunjukkan bahwa generasi yang tumbuh dengan teknologi digital justru menjadi yang paling kritis terhadap penggunaan AI.

Skeptisisme Nolan terhadap AI bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai seorang sineas yang memilih untuk terus menggunakan film seluloid di era digital, ia telah lama menjadi suara kritis terhadap adopsi teknologi yang tidak kritis. Pandangannya tentang AI memperkuat posisinya sebagai seorang teknoskeptis yang konsisten.

Penting untuk dicatat bahwa Nolan tidak sepenuhnya menolak teknologi. Ia mengakui bahwa “teknologi selalu akan memberi kita hadiah besar.” Yang ia pertanyakan adalah cara teknologi diperkenalkan dan dijual kepada publik, seringkali dengan mengorbankan sistem yang sudah ada dan masih berfungsi dengan baik.

Dalam konteks industri film, kekhawatiran Nolan tentang AI mencerminkan perdebatan yang lebih luas tentang peran teknologi dalam kreativitas. Pemogokan penulis dan aktor Hollywood tahun 2023 sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran tentang penggunaan AI untuk menggantikan tenaga kerja manusia. Directors Guild of America, yang dipimpin Nolan, berhasil mendapatkan perlindungan kontrak terkait generative AI, menunjukkan bahwa kekhawatiran ini telah menghasilkan tindakan nyata.

Film “The Odyssey” sendiri, yang menjadi latar diskusi tentang AI, adalah adaptasi dari epik Homer tentang perjalanan pulang Odysseus setelah Perang Troya. Kuda Troya dalam cerita tersebut adalah tipu daya yang menyembunyikan ancaman di dalamnya. Analogi Nolan tentang AI sebagai kuda Troya yang transparan menunjukkan bahwa ancaman AI bukanlah sesuatu yang tersembunyi — justru sudah diketahui publik, tetapi tetap diadopsi.

Pernyataan Nolan ini muncul di saat yang menarik, ketika industri teknologi dan hiburan sedang bergulat dengan implikasi etis dan praktis dari AI. Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi dan kemampuan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Di sisi lain, ada kekhawatiran tentang dampaknya terhadap pekerjaan, kreativitas, dan bahkan realitas itu sendiri.

Sikap Nolan yang menekankan pentingnya skeptisisme dan pertanyaan tentang motif di balik pengembangan teknologi dapat menjadi panduan yang berharga. Dalam pandangannya, adopsi teknologi yang bijaksana bukanlah tentang menolak kemajuan, tetapi tentang mempertanyakan siapa yang diuntungkan dan apa yang mungkin hilang dalam prosesnya.

Dengan “The Odyssey” yang saat ini mendominasi box office dan memecahkan rekor, pernyataan Nolan tentang AI mendapat perhatian yang lebih luas. Sutradara yang karyanya sering mengeksplorasi tema waktu, memori, dan persepsi ini telah menambahkan suaranya ke dalam perdebatan tentang AI dengan cara yang khas — cerdas, provokatif, dan penuh analogi.

Bagi industri hiburan Indonesia, pernyataan Nolan ini relevan mengingat adopsi AI yang semakin meluas di berbagai sektor, termasuk produksi konten. Skeptisisme yang sehat terhadap teknologi, seperti yang disarankan Nolan, dapat membantu industri mengadopsi AI secara bijaksana tanpa mengorbankan nilai-nilai kreatif dan etika.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.