AI Berlebih Ancam Daya Kritis Generasi Muda, Stella Christie Wanti-wanti

AI Berlebih Ancam Daya Kritis Generasi Muda, Stella Christie Wanti-wanti

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara berlebihan berisiko menurunkan kemampuan berpikir kritis generasi muda. Peringatan itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie, yang menilai AI tetap bisa mendukung belajar asalkan tidak dipakai sebagai jalan pintas mendapatkan jawaban cepat.

“Jadi kalau kita menggunakan AI untuk men-training, misalnya kita diskusi sama AI-nya, itu mungkin akan bisa membantu kita. Tetapi, kalau kita menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban cepat, pasti otaknya juga tidak akan bisa berkembang,” kata Stella Christie di Jakarta, Rabu.

Pernyataan tersebut menempatkan cara pakai AI sebagai persoalan utama, bukan sekadar boleh atau tidak boleh digunakan. Menurut Stella, risikonya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada kebiasaan menggantikan proses berpikir mandiri dengan jawaban instan dari mesin.

Stella menyebut dampak penggunaan AI berlebihan terhadap kemampuan berpikir kritis sudah dibuktikan di berbagai penelitian. Penelitian menunjukkan penggunaan AI dapat berkaitan dengan penurunan kemampuan akademik dan analisis apabila teknologi tersebut digunakan untuk menggantikan proses berpikir mandiri.

Ia mengutip studi yang menemukan bahwa siswa yang menggunakan AI setiap hari memperoleh skor sains lebih rendah dibandingkan mereka yang hampir tidak pernah menggunakan teknologi tersebut. Temuan itu menjadi salah satu dasar penilaian bahwa intensitas pemakaian AI perlu diperhatikan, bukan hanya akses terhadap teknologinya.

Selain itu, Stella merujuk penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang membandingkan kemampuan mahasiswa menulis esai dengan bantuan AI, mesin pencari internet, dan tanpa bantuan teknologi. Menurut Stella, penelitian tersebut menunjukkan kualitas esai mahasiswa yang menggunakan AI lebih buruk dibandingkan mereka yang mengerjakan tugas tanpa bantuan AI.

Ia juga mencontohkan penelitian terhadap calon dokter yang kemampuan diagnostiknya turun dari 28 persen menjadi 22 persen setelah menggunakan AI selama tiga bulan. Namun, Stella tidak merinci metode maupun konteks pengukuran dalam penelitian tersebut.

“Penggunaan AI yang seperti apa yang bisa membuat kita tambah pintar atau kurang pintar,” ucap Stella.

Sebagai ilmuwan kognitif, Stella menilai otak perlu terus dilatih agar kemampuan berpikir dapat berkembang. Pandangan itu menjelaskan mengapa pembahasan soal AI tidak berhenti pada penyediaan alat, tetapi juga pada latihan kognitif yang menyertainya.

AI, menurut dia, tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, misalnya melalui diskusi yang mendorong pengguna menganalisis suatu persoalan. Sebaliknya, penggunaan AI hanya untuk memperoleh jawaban instan tanpa melakukan proses berpikir mandiri berisiko menghambat perkembangan kemampuan kognitif.

Stella menegaskan pendekatan terhadap penggunaan AI tidak cukup dilakukan melalui larangan. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memahami cara menggunakan teknologi tersebut secara tepat. Dengan begitu, pembatasannya bukan pada akses, melainkan pada pemahaman penggunaan yang sehat.

Di lingkungan pendidikan tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong keterlibatan mahasiswa dalam penelitian serta forum akademik yang dapat merangsang kemampuan berpikir mandiri dan menghasilkan inovasi. Langkah ini menjadi penyeimbang latihan kognitif di tengah maraknya penggunaan AI.

Selain tantangan akademik, Stella menyoroti ancaman AI terhadap peluang kerja lulusan baru. Pekerjaan seperti memasukkan data kini dapat dilakukan AI dengan lebih cepat dan biaya lebih rendah. Kondisi itu membuat kesiapan lulusan menghadapi pasar kerja menjadi bagian dari pembahasan yang sama.

Karena itu, pemerintah berupaya memetakan kebutuhan tenaga kerja secara kuantitatif dan kualitatif, kemudian menyelaraskannya dengan pendidikan tinggi. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi lulusan agar sesuai dengan kebutuhan industri.

Stella menilai kolaborasi nyata antara kampus dan industri menjadi penting agar generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat. Kolaborasi itu disebut sebagai jalan agar kompetensi lulusan tetap relevan.

Dalam konteks yang lebih luas, perdebatan soal dampak AI terhadap kemampuan manusia juga muncul di berbagai negara. Sebagian warga Amerika menilai AI berdampak buruk bagi masyarakat, seperti tergambar dalam pandangan warga Amerika terhadap teknologi tersebut.

Sementara itu, pemanfaatan AI di sektor lain terus berkembang, termasuk lewat layanan komputasi khusus untuk agen AI seperti yang dilakukan Daytona. Perkembangan itu menunjukkan AI semakin masuk ke berbagai lapisan pekerjaan dan layanan.

Namun, bagi Stella, pertanyaan utamanya tetap sederhana: penggunaan AI yang seperti apa yang membuat seseorang bertambah pintar atau justru berkurang kemampuannya. Jawaban atas pertanyaan itu menentukan apakah AI menjadi alat bantu belajar atau penghambat perkembangan berpikir.

Karena itu, imbauan yang ditekankan bukan pelarangan, melainkan pemahaman cara pakai. Generasi muda didorong tetap melatih kemampuan berpikir mandiri, sementara AI ditempatkan sebagai alat yang mendukung analisis, bukan pengganti proses berpikir itu sendiri.

[ META_DESCRIPTION]
Stella Christie memperingatkan penggunaan AI berlebihan bisa menurunkan daya berpikir kritis generasi muda. Simak riset yang ia kutip dan imbauannya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.