📑 Daftar Isi

CEO Flock Safety Garrett Langley berbicara dalam wawancara tentang kompromi privasi dan keamanan

CEO Flock Minta Kompromi Privasi dan Keamanan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Flock Safety Garrett Langley menyerukan kompromi antara privasi dan keamanan di AS
  • Washington Post mengidentifikasi 46 kasus polisi menyalahgunakan teknologi Flock untuk menguntit
  • Politisi Demokrat dan Republik sama-sama mengkritik praktik pengawasan Flock
  • Flock mengurangi retensi data dari 30 hari menjadi 7 hari dan mewajibkan kode kasus
  • ACLU meragukan perubahan Flock, menunggu evaluasi cara kerja Evidence Mode
  • Langley mendukung regulasi yang menjadikan penyalahgunaan data sebagai pelanggaran pidana
  • Langley akan tampil di konferensi Disrupt TechCrunch bulan Oktober

Telset.id – CEO Flock Safety Garrett Langley menegaskan bahwa Amerika Serikat perlu menemukan “kompromi” antara privasi dan keamanan di tengah meningkatnya kritik publik terhadap teknologi pengawasan perusahaannya. Pernyataan ini disampaikan Langley dalam wawancara terbaru dengan Fox News, menyusul gelombang protes atas potensi penyalahgunaan kamera pengawas, drone, dan teknologi pengenalan plat nomor milik Flock.

“Ketika orang hanya membicarakan satu dari hal ini, privasi atau keamanan, mereka memprioritaskan hal yang salah, dan yang harus kita prioritaskan sebagai negara adalah kompromi,” ujar Langley. “Bagaimana kita memiliki keamanan, dan bagaimana kita menyeimbangkan privasi?”

Kekhawatiran publik terhadap Flock bukan tanpa dasar. The Washington Post baru-baru ini mengidentifikasi 46 kasus di mana petugas polisi dituduh menggunakan teknologi Flock untuk tujuan yang tidak sah, termasuk menguntit istri, pacar, atau mantan pasangan mereka. Setelah mendengarkan wawancara dengan salah satu korban yang diduga, Langley menyampaikan permintaan maaf kepada CBS News.

“Saya minta maaf. Saya sangat sedih dia mengalaminya,” kata Langley. Namun, ia tetap bersikeras bahwa “Flock tidak menciptakan penyalahgunaan polisi. Saya pikir kami adalah perusahaan pertama yang menyorotinya dan membangun alat untuk menemukannya.”

Tekanan Politik dari Dua Kubu

Kontroversi seputar Flock telah menjadi isu yang menguat baik di kalangan kiri maupun kanan politik Amerika. Politisi dari Partai Demokrat dan Republik mulai menyoroti praktik perusahaan tersebut.

Di kubu kiri, calon Senator Demokrat Michigan Abdul El-Sayed baru-baru ini menuduh lawannya Mike Rogers mendukung “proliferasi massal kamera Flock, di mana saja, mengawasi setiap gerakan Anda untuk mengumpulkan informasi tanpa Anda sadari.” Sementara itu, Senator Vermont Bernie Sanders menulis di media sosial, “HENTIKAN PENGAWASAN MASAL AI. HENTIKAN FLOCK.”

Di kubu kanan, tiga anggota Kongres dari Partai Republik memperkenalkan RUU yang akan melarang pemerintah federal membeli sistem pengawasan otomatis yang menggunakan pengenalan wajah, identifikasi biometrik, atau pengenalan plat nomor, “termasuk kamera Flock Safety.”

Respons Flock terhadap Kritik

Menghadapi tekanan yang semakin besar, Flock telah melakukan sejumlah perubahan. Perusahaan mengurangi waktu penyimpanan data default dari 30 hari menjadi tujuh hari dan mewajibkan kode kasus sebelum mengakses data. Namun, kedua perubahan ini dapat ditimpa—misalnya, polisi dapat menyimpan data untuk jangka waktu lebih lama menggunakan pengaturan bernama Evidence Mode.

Menanggapi perubahan yang diumumkan Flock, American Civil Liberties Union (ACLU) menyatakan, “Meskipun Flock tidak memperpendek periode retensi default menjadi 48 jam seperti yang direkomendasikan ACLU, proposalnya mungkin merupakan langkah ke arah yang benar. Apakah ini perubahan nyata atau hanya taktik PR Flock lainnya, akan bergantung pada cara kerja ‘Evidence Mode’ mereka.”

Langley sendiri telah menyarankan regulator negara bagian untuk “mengesahkan RUU yang menjadikan [penggunaan ilegal data Flock] sebagai pelanggaran pidana.” Dalam wawancara Fox News, ia menunjuk pada perubahan yang telah dilakukan perusahaan sambil mengatakan, “Saat ini, terlalu sering di Flock dan teknologi lainnya, tidak ada regulasi. Tidak ada akuntabilitas, dan kami pikir itu salah.”

Perusahaan juga terus mengembangkan teknologi baru di tengah kontroversi ini. Flock diketahui telah menguji AI pelacak pengemudi berdasarkan kebiasaan berkendara, sebuah langkah yang menambah kekhawatiran baru di kalangan pengamat privasi. Sementara itu, di Wisconsin, jaringan kamera Flock kehilangan nilai setelah sejumlah komunitas menarik dukungan mereka.

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Langley dijadwalkan akan tampil di konferensi Disrupt yang diselenggarakan TechCrunch pada bulan Oktober. Ia diperkirakan akan kembali ditanya tentang berbagai isu seputar pengawasan, privasi, dan akuntabilitas perusahaan.

Kasus Flock menyoroti dilema yang semakin kompleks antara keamanan publik dan hak privasi individu. Dengan teknologi pengawasan yang semakin canggih dan tersebar luas, pertanyaan tentang bagaimana menyeimbangkan kedua kepentingan ini menjadi semakin mendesak. Flock sendiri mengklaim sebagai perusahaan pertama yang menyoroti penyalahgunaan teknologi pengawasan dan membangun alat untuk mendeteksinya, namun skeptisisme publik tetap tinggi.

Seiring berkembangnya teknologi seperti SignalTrace yang disebut lebih canggih, perdebatan tentang batas-batas pengawasan kemungkinan akan terus berlanjut. Regulasi yang jelas dan akuntabilitas yang tegas menjadi tuntutan utama dari berbagai pihak, baik dari aktivis privasi maupun politisi lintas partai.

Flock Safety kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, perusahaan menawarkan teknologi yang membantu penegakan hukum; di sisi lain, potensi penyalahgunaan menimbulkan kekhawatiran serius. Bagaimana Flock menavigasi tekanan ini akan menentukan masa depannya, sekaligus menjadi preseden bagi industri teknologi pengawasan secara keseluruhan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.