CEO DeepMind Demis Hassabis usulkan badan regulasi AI baru

CEO DeepMind Usulkan Regulator AI Baru Model FINRA

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Google DeepMind Demis Hassabis usulkan badan regulasi AI baru model FINRA
  • Badan standar akan menguji model AI frontier sebelum dirilis ke pasar
  • Skema dimulai sukarela, lalu formalisasi jika protokol terbukti efektif
  • Usulan muncul setelah kritik terhadap tinjauan ad hoc pemerintah AS
  • Badan akan diisi pakar teknis dan perwakilan open source
  • Pendanaan dari industri AI, dioperasikan independen
  • Solusi tengah antara inovasi dan keamanan AI

Telset.id – CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, mengusulkan pembentukan badan regulasi baru untuk mengawasi perilisan model AI frontier. Usulan ini muncul melalui unggahan di platform X pada Selasa pagi, yang menandai langkah konkret menuju tata kelola kecerdasan buatan yang lebih terstruktur.

Dalam unggahan bertajuk “A Framework for Frontier AI and the Dawning of a New Age,” Hassabis memaparkan konsep “standards body” yang terinspirasi dari Financial Industry Regulatory Authority (FINRA). Badan ini nantinya akan bertugas menguji model AI frontier dan mengembangkan praktik terbaik untuk perilisan mereka. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran akan risiko keamanan AI yang semakin kompleks.

Usulan Hassabis hadir setelah serangkaian tinjauan ad hoc yang dilakukan pemerintah AS terhadap model Mythos milik Anthropic dan Sol milik OpenAI. Tinjauan tersebut menuai kritik tajam karena kurangnya keahlian teknis dan pengambilan keputusan yang tidak transparan mengenai kapan suatu model bisa dirilis. Dengan adanya regulator baru, keputusan tersebut bisa dialihkan ke organisasi yang didukung pemerintah AS namun didanai oleh industri AI dan dioperasikan secara independen.

Skema yang diusulkan akan dimulai secara sukarela. “Awalnya, Frontier Labs akan secara sukarela berbagi model dengan Standards Body untuk ditinjau hingga 30 hari sebelum dirilis,” demikian bunyi unggahan Hassabis. “Setelah protokol penilaian terbukti efektif dan kuat, formalisasi dapat segera dilakukan, artinya Frontier Models akan diwajibkan lulus penilaian untuk digunakan di pasar AS. Lab juga akan bekerja sama dengan Standards Body untuk mengatasi kerentanan kritis pasca-rilis.”

Pendekatan ini dinilai sebagai cara untuk mengatasi kontroversi seputar regulasi AI. Baik industri teknologi maupun pemerintahan Trump masih terbelah soal perlunya aturan ketat. Baru-baru ini, penasihat AI Gedung Putih sekaligus general partner a16z, Sriram Krishnan, meredam kemungkinan adanya regulator AI di dalam cabang eksekutif dengan pernyataan tegas: “tidak akan ada FDA untuk AI.”

Dengan menjadikan badan standar sebagai organisasi regulasi mandiri seperti FINRA, Hassabis berharap kekhawatiran tersebut bisa dijawab. FINRA sendiri merupakan organisasi swasta yang mengawasi broker efek di AS, dan model serupa dinilai bisa diterapkan untuk mengawasi AI tanpa harus membentuk birokrasi pemerintah yang kaku.

Hassabis membayangkan regulator tersebut akan diisi oleh perwakilan open source dan pakar teknis dari dalam industri, dengan dukungan finansial dari lab AI yang diperlukan untuk mempertahankan mereka. Badan ini bahkan bisa mengalihdayakan beberapa evaluasi ke kelompok keamanan AI yang jumlahnya terus bertambah dan mampu berspesialisasi dalam risiko-risiko tertentu.

“Kekuatan dari pendekatan ini adalah akan fokus secara teknis, sambil tetap mendukung inovasi dan mendorong perilaku yang bertanggung jawab,” argumen Hassabis. “Ini dirancang untuk mengikuti akselerasi bidang ini dan beradaptasi dengan risiko terbesar saat teridentifikasi, dan bisa ditingkatkan jika keseriusan situasi menuntutnya.”

Prospek regulasi AI memang tetap menjadi isu sensitif. Di satu sisi, kekhawatiran akan risiko eksistensial AI mendorong perlunya pengawasan ketat. Di sisi lain, terlalu banyak regulasi dikhawatirkan akan menghambat inovasi dan membuat AS tertinggal dari pesaing global seperti China.

Usulan Hassabis ini menawarkan jalan tengah yang menarik. Dengan menggabungkan keahlian teknis dari industri, pendanaan dari perusahaan AI, dan pengawasan dari pemerintah, badan standar ini diharapkan bisa menjadi solusi yang efektif tanpa mengorbankan kecepatan pengembangan teknologi.

Langkah ini juga menunjukkan bahwa DeepMind Google serius mendorong tata kelola AI yang lebih baik. Sebagai salah satu pemain utama di industri AI, dukungan mereka terhadap regulasi bisa menjadi sinyal kuat bagi perusahaan lain untuk mengikuti jejak serupa.

Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS atau perusahaan AI besar lainnya mengenai usulan ini. Namun, diskusi seputar regulasi AI dipastikan akan terus berlanjut seiring dengan semakin canggihnya teknologi yang dikembangkan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.