Bhavin Turakhia pendiri platform AI Neo

Bhavin Turakhia Investasi $30 Juta Bangun Platform AI Neo

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Bhavin Turakhia investasi $30 juta dari dana pribadi untuk bangun platform AI Neo
  • Neo adalah platform kerja enterprise yang menggabungkan manajemen proyek, dokumen, file, dan AI
  • Platform dirancang dari awal untuk AI dan bersifat model-agnostic
  • Neo dibangun hanya dalam 3 bulan dengan bantuan generative AI
  • Target pengguna adalah bisnis menengah di sektor teknologi, konsultan, dan jasa profesional
  • Perusahaan saat ini memiliki 45 karyawan dan target 100 karyawan akhir tahun

Telset.id – Serial entrepreneur asal India, Bhavin Turakhia, memasang taruhan pribadi senilai $30 juta pada keyakinannya bahwa masih ada ruang untuk perusahaan AI enterprise baru. Pendanaan awal ini digunakan untuk membangun Neo, sebuah platform kerja enterprise yang dirancang ulang sepenuhnya untuk era kecerdasan buatan.

Turakhia, 46 tahun, bukanlah pendatang baru dalam dunia teknologi enterprise. Selama dua dekade terakhir, ia telah mendirikan berbagai perusahaan seperti Directi, Radix, Titan, dan perusahaan perangkat lunak perbankan Zeta. Ia dikenal kerap mendanai sendiri perusahaannya sebelum menarik investor eksternal, dan ia melakukan hal yang sama dengan Neo.

Dalam wawancara dengan TechCrunch, Turakhia menjelaskan alasan di balik pendanaan mandiri senilai $30 juta ini. Ia percaya bahwa AI menandai pergeseran teknologi yang cukup signifikan sehingga membenarkan pembangunan ulang perangkat lunak tempat kerja dari awal.

“Jika Anda ingin membuat iPhone, Anda tidak bisa mengambil bagian-bagian dari Nokia dan mengubahnya menjadi iPhone,” ujar Turakhia, menganalogikan keterbatasan perangkat lunak lawas yang hanya ditambahi fitur chatbot.

Diluncurkan secara internal pada April tahun ini, Neo adalah platform kerja enterprise yang menggabungkan manajemen proyek, dokumen, penyimpanan file, dan AI ke dalam satu produk terintegrasi. Tujuannya adalah menjadikan AI sebagai partisipan aktif dalam pekerjaan sehari-hari, bukan sekadar asisten terpisah yang harus diakses karyawan secara manual.

Turakhia berargumen bahwa sebagian besar perusahaan perangkat lunak mapan menghadapi kerugian struktural ketika mencoba menambahkan AI ke dalam produk yang dirancang sebelum era generative AI. Neo, menurutnya, dirancang dari awal untuk AI dan bersifat model-agnostic. Ini memungkinkan perusahaan untuk beralih di antara berbagai model AI tanpa terikat pada satu penyedia layanan.

Keyakinan Turakhia ini tidak sendirian. Investor Chamath Palihapitiya sebelumnya juga meluncurkan perusahaan AI coding enterprise bernama 8090 dengan modal pribadinya sebelum akhirnya mengumpulkan dana $135 juta pekan ini. Hal ini menunjukkan tren baru di kalangan investor yang percaya pada potensi AI enterprise.

Meski demikian, taruhan Turakhia datang di saat persaingan AI enterprise sedang memanas. Raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, dan Salesforce terus mengintegrasikan AI ke dalam perangkat lunak tempat kerja mereka. Sementara itu, startup dari laboratorium besar seperti Anthropic dan OpenAI, hingga perusahaan produktivitas seperti Notion dan Superhuman, juga berlomba-lomba membentuk ulang cara bisnis menggunakan AI.

Turakhia berpendapat bahwa perangkat lunak enterprise tidak pernah menjadi pasar yang bersifat winner-takes-all. Ia optimistis bahwa pangsa pasar kecil dari pengeluaran global untuk AI enterprise sudah cukup untuk membangun perusahaan yang besar.

“Bahkan jika kami hanya mendapatkan 2% hingga 5% pangsa pasar, itu sudah lebih besar dari apa pun yang pernah saya bangun sejauh ini,” katanya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Neo telah digunakan secara internal di perusahaan-perusahaan milik Turakhia, termasuk Zeta. Perusahaan berencana mulai merilis perangkat lunak ini untuk bisnis menengah dalam beberapa bulan ke depan. Target awal adalah pekerja pengetahuan di sektor teknologi, konsultan, dan firma jasa profesional.

Salah satu fakta menarik adalah kecepatan pengembangan Neo. Turakhia mengatakan bahwa platform awal Neo dibangun hanya dalam waktu tiga bulan. Proses pengembangan ini menggunakan AI secara ekstensif. Ia memperkirakan bahwa tanpa bantuan generative AI, proyek yang sama akan memakan waktu lebih dari satu tahun dengan tim teknik yang jauh lebih besar.

Startup yang berbasis di Bengaluru ini saat ini mempekerjakan sekitar 45 orang, termasuk 18 insinyur. Turakhia mengungkapkan bahwa perusahaan menargetkan pertumbuhan hingga sekitar 100 karyawan pada akhir tahun ini. Sebagian besar perekrutan baru akan difokuskan pada bidang AI dan rekayasa perangkat lunak.

Langkah Turakhia ini mencerminkan perubahan fundamental dalam cara perangkat lunak enterprise dibangun. Alih-alih memperbarui sistem lama dengan fitur AI, pendekatan Neo justru membangun fondasi baru yang sepenuhnya terintegrasi dengan AI. Hal ini menjadi kunci dalam persaingan pasar yang semakin ketat.

Meskipun persaingan sangat berat, pendekatan Neo yang model-agnostic memberikan fleksibilitas bagi perusahaan. Mereka tidak perlu khawatir terikat pada satu vendor AI dan dapat memilih model terbaik sesuai kebutuhan. Ini adalah nilai jual yang signifikan di tengah lanskap AI yang terus berubah dengan cepat.

Investasi pribadi sebesar $30 juta juga menunjukkan keyakinan penuh Turakhia terhadap visinya. Ia tidak hanya berbicara tentang masa depan AI, tetapi juga mempertaruhkan modalnya sendiri untuk mewujudkannya. Ini adalah sinyal kuat bagi pasar dan calon mitra potensial.

Bagi para pelaku industri, langkah ini bisa menjadi indikasi bahwa era perangkat lunak enterprise tradisional akan segera berakhir. Perusahaan yang tidak mampu beradaptasi dengan pendekatan AI-native mungkin akan tertinggal. Sementara itu, pendatang baru seperti Neo memiliki keunggulan struktural karena tidak terbebani oleh sistem warisan.

Ke depannya, pasar akan melihat apakah pendekatan Neo mampu merebut pangsa pasar dari para raksasa yang sudah mapan. Namun, dengan keyakinan Turakhia dan timnya, serta dukungan modal yang kuat, Neo memiliki peluang untuk menjadi pemain serius di pasar AI enterprise global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.