📑 Daftar Isi

Spacecraft otonom AstroForge dengan sistem AI Solo bersiap mengudara pada 2027

AstroForge Pakai AI Otonom untuk Kendalikan Spacecraft di 2027

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • AstroForge akan menerbangkan spacecraft otonom pertama pada 2027 via roket Stoke Space
  • Sistem AI bernama Solo berbasis transformer, dilatih pada sekitar 2.500 sensor
  • Misi didukung NASA untuk mengumpulkan data ilmiah tentang matahari
  • Kegagalan kendali Odin pada 2025 jadi pemicu adopsi AI otonom
  • DeepSpace-2 akan menguji Solo dalam shadow mode akhir 2026
  • Autonomy-1 direncanakan tanpa radio penerima dari Bumi

Telset.id – AstroForge bersiap menerbangkan spacecraft otonom pertamanya pada 2027, sebuah langkah yang menempatkan kecerdasan buatan sebagai pengendali utama misi antariksa. Perusahaan yang mengembangkan teknologi penambangan asteroid ini tidak lagi mengandalkan sepenuhnya kendali dari Bumi, melainkan membangun sistem AI yang mampu menyelesaikan masalahnya sendiri di luar angkasa. Keputusan ini menjadi penting karena AstroForge sebelumnya gagal mengendalikan spacecraft Odin yang diluncurkan ke deep space pada 2025.

AstroForge mengembangkan autonomous control stack untuk spacecraft-nya dengan nama “Solo”. Sistem ini merupakan model berbasis transformer yang dibuat secara in-house. Rencananya, AstroForge akan menerbangkan spacecraft otonom pertamanya pada 2027 menggunakan roket pertama yang diluncurkan oleh Stoke Space. Misi tersebut didukung oleh NASA dan diperkirakan akan mengumpulkan data ilmiah tentang matahari.

Pencapaian ini bukan hal kecil. Sebagian besar otonomi spacecraft saat ini masih bergantung pada algoritma kontrol tradisional karena kekhawatiran terhadap keandalan neural networks. Penggunaan pertama neural network untuk mengontrol posisi satelit di orbit baru terjadi pada tahun lalu. Artinya, langkah AstroForge berada di garis depan adopsi AI untuk kendali wahana antariksa.

Dari Kegagalan Odin ke Otonomi Penuh

AstroForge didirikan pada 2022 dan didukung pendanaan ventura sebesar $56 juta. Perusahaan ini telah meluncurkan dua prototype spacecraft, dan keduanya mengalami anomali yang membuat mereka tidak mencapai sebagian besar tujuan misinya. Pada 2025, spacecraft Odin diluncurkan ke deep space, tetapi perusahaan kesulitan berkomunikasi dengannya.

Jumlah antena di Bumi yang cukup besar untuk mengirim sinyal ke spacecraft yang berjarak ratusan ribu mil sangat terbatas, dan jendela waktu untuk melakukannya pun sempit. Pada akhirnya, AstroForge tidak bisa mengendalikan Odin. Pengalaman itu mendorong perusahaan mempertimbangkan alternatif: apakah mungkin menanamkan kecerdasan yang cukup di dalam spacecraft agar ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri?

“Apakah itu bisa dipulihkan dengan semua data di spacecraft? Saya tidak tahu, tapi saya bisa katakan tidak ada apa pun di dalamnya yang mencobanya, dan saya akan senang jika ada sesuatu di dalam spacecraft yang mencoba ketika spacecraft tidak dapat dipulihkan saat peluncuran,” ujar Matthew Gialich, co-founder dan CEO AstroForge. “Pilihan bagi saya adalah: apakah saya membangun jaringan darat sendiri, yang akan memakan biaya sekitar $200 juta untuk memasang lima dish di seluruh dunia lalu melakukan operasi di atasnya, atau saya mencoba menghilangkannya dengan sebuah model?”

Armand Awad, head of flight software AstroForge, mengatakan perusahaan memutuskan memanfaatkan kemajuan model transformer yang didorong oleh frontier labs. Mereka menciptakan stack yang mencakup algoritma kontrol tradisional, model yang dilatih pada data uji untuk subsistem tertentu seperti pembangkit daya atau navigasi, serta lapisan kecerdasan keseluruhan yang dilatih pada sekitar 2.500 sensor di dalam spacecraft.

“Saya tidak mengatakan akan membuat otonomi spacecraft umum atau otonomi umum untuk dunia,” kata Gialich. “Saya membuat otonomi terbatas pada input sensor yang sangat rendah, mengikuti pelatihan dasar model transformer.”

Secara teori, agen yang mengendalikan spacecraft akan menjalankan tugas seperti penyelesaian anomali. Awad membayangkan sistem itu menyadari bahwa posisinya di ruang angkasa sudah hilang, menghubungkan anomali daya dengan masalah pada star tracker, lalu memperbaiki semuanya. “Mungkin menyalakan dan mematikannya dalam kasus ini,” ujarnya.

Uji Coba Solo Sebelum Misi Autonomy-1

Kendaraan ketiga AstroForge, DeepSpace-2, saat ini dijadwalkan diluncurkan bersama misi bulan ketiga Intuitive Machines, yang diperkirakan menuju ruang angkasa pada akhir 2026. Solo akan berada di dalam kendaraan tersebut dan terbang dalam “shadow mode”, sehingga para engineer AstroForge dapat mengujinya sebelum misi Autonomy-1.

Pertanyaan besarnya: apakah ini benar-benar agen AI yang mengoperasikan spacecraft independen? “Saya tidak berencana menerbangkan radio yang bisa menerima dari Bumi di Autonomy-1,” kata Gialich. “Kami harus all in sekarang. Tim mungkin akan membujuk saya saat kami menerbangkannya. Tapi saat ini, saya katakan tidak ada radio.”

Pendekatan AstroForge ini menunjukkan arah baru dalam pengembangan teknologi antariksa, di mana AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi menjadi inti dari sistem kendali. Bagi industri, keputusan ini menjadi penanda bahwa ketergantungan pada infrastruktur darat yang mahal mulai dipertimbangkan ulang. Teknologi otonom semacam ini juga sejalan dengan tren inovasi yang berkembang cepat di berbagai sektor, termasuk pengembangan perangkat keras dan komputasi seperti yang terlihat pada Roadmap CPU Zen 7.

Jika berhasil, misi 2027 itu akan menjadi salah satu penerapan pertama neural network untuk kendali penuh spacecraft. Namun, AstroForge masih harus membuktikan bahwa sistem Solo mampu menangani kondisi tak terduga di ruang angkasa, sesuatu yang selama ini menjadi alasan utama industri bertahan pada algoritma kontrol tradisional. Perusahaan juga masih menyimpan catatan dua prototype yang gagal, sehingga uji coba shadow mode pada DeepSpace-2 menjadi tahap krusial sebelum taruhan penuh di Autonomy-1.

Langkah AstroForge mencerminkan pergeseran cara perusahaan antariksa memandang otonomi. Alih-alih memperbesar jaringan darat, mereka memilih menanamkan kecerdasan di dalam wahana. Dengan pendanaan $56 juta dan dukungan NASA untuk misi 2027, AstroForge menempatkan diri sebagai pihak yang menguji batas keandalan AI di lingkungan paling menantang: luar angkasa.

[ META_DESCRIPTION]
AstroForge akan menerbangkan spacecraft otonom berbasis AI bernama Solo pada 2027 bersama Stoke Space, setelah gagal kendalikan Odin pada 2025.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.