Pernahkah Anda menatap layar kosong PowerPoint dengan rasa putus asa setelah membaca puluhan halaman dokumen PDF yang rumit? Rasa lelah itu nyata, dan seringkali proses mengubah tumpukan data menjadi materi presentasi visual memakan waktu lebih lama daripada risetnya itu sendiri. Namun, tampaknya era begadang hanya untuk menyusun slide presentasi akan segera berakhir berkat terobosan teknologi terbaru.
Adobe, raksasa perangkat lunak kreatif yang selama ini menjadi standar industri, kembali membuat gebrakan signifikan. Setelah pada bulan Agustus lalu memperkenalkan Acrobat Studio untuk membawa format PDF yang sederhana ke abad ke-21, kini mereka memperluas kapabilitasnya dengan serangkaian fitur kecerdasan buatan (AI) generatif yang lebih agresif. Langkah ini jelas menunjukkan ambisi Adobe untuk tidak sekadar menjadi aplikasi pembuka dokumen, melainkan asisten cerdas bagi produktivitas Anda.
Pembaruan ini hadir di Adobe Acrobat, Acrobat Studio, dan Adobe Express, mengubah cara kita berinteraksi dengan dokumen digital. Tidak hanya sekadar merangkum, sistem ini kini mampu “menciptakan” konten baru dari materi yang Anda miliki. Bagi para profesional maupun pelajar yang dikejar tenggat waktu, fitur-fitur ini terdengar seperti angin segar yang sangat dinantikan.
Ubah Tumpukan Dokumen Jadi Presentasi Instan
Salah satu fitur unggulan yang paling menarik perhatian adalah kemampuan untuk mengubah dokumen menjadi presentasi secara otomatis. Bayangkan Anda memiliki “PDF Spaces”—sebuah hub di mana Anda bisa mengunggah hingga 100 dokumen sekaligus. Kini, Anda bisa memerintahkan asisten AI bawaan Adobe untuk menyulap materi-materi tersebut menjadi sebuah dek presentasi yang siap tayang.
Prosesnya dirancang cukup cerdas. Perangkat lunak ini pertama-tama akan membuat kerangka (outline) dari materi Anda. Dari sana, Anda dapat memilih dari berbagai desain “profesional” untuk membangun visual presentasi tersebut. Ini adalah bentuk nyata dari revolusi konten yang memudahkan alur kerja kreatif tanpa mengurangi kualitas output.
Apakah hasilnya kaku? Ternyata tidak. Adobe mengklaim bahwa sebagian besar perubahan, termasuk penyuntingan teks dan penggantian gambar, dapat dilakukan tanpa perlu membuat slide baru dari awal. Setelah Anda merasa puas dengan draf awal tersebut, Anda bisa membagikannya kepada rekan kerja untuk penyuntingan lebih lanjut, menjadikan proses kolaborasi jauh lebih mulus.
Baca Juga:
Mengadopsi Gaya Podcast ala NotebookLM
Mungkin ini fitur yang paling mengejutkan sekaligus menyenangkan. Adobe tampaknya mengambil inspirasi dari tren terkini dengan meminjam konsep dari NotebookLM milik Google. Fitur baru ini memungkinkan pengguna untuk menghasilkan podcast audio langsung dari PDF Space mereka.
Mekanismenya bekerja sangat mirip dengan aplikasi Google tersebut. Secara default, Acrobat akan menyajikan materi Anda dalam format percakapan antara dua pembawa acara (host) yang sedang mendiskusikan materi yang ingin Anda rangkum. Ini memberikan cara baru untuk “membaca” dokumen, terutama bagi Anda yang merupakan tipe pembelajar auditori.
Fitur semacam ini mengingatkan kita pada bagaimana antusiasme AI dapat diatur untuk membuat interaksi terasa lebih manusiawi. Bagi pelajar, ini adalah anugerah; mendengarkan rangkuman materi kuliah sambil bepergian tentu jauh lebih efisien daripada harus membaca ulang ratusan halaman teks.
Edit Dokumen Semudah Mengirim Pesan
Selain fitur presentasi dan audio, Adobe juga mempermudah kolaborasi di dalam PDF Spaces. Dengan pembaruan terkini, Anda dapat mengundang orang lain untuk menambahkan fail dan meninggalkan catatan. Namun, yang lebih impresif adalah kemampuan penyuntingannya.
Anda kini dapat melakukan belasan jenis perubahan menggunakan perintah bahasa alami (natural-language prompts). Ingin menambahkan teks, komentar, gambar, atau bahkan tanda tangan elektronik? Cukup ketik perintahnya, dan AI akan mengeksekusinya. Ini menempatkan Acrobat selangkah lebih maju dibandingkan editor PDF konvensional lainnya.
Menariknya, bagi Anda yang mungkin merasa canggung dengan teknologi baru atau menyebut diri Anda “kuno”, Adobe telah merombak bagian Bantuan (Help section). Kini, bagian tersebut menawarkan instruksi langkah demi langkah yang jelas tentang cara menyelesaikan sebagian besar tugas, memastikan tidak ada pengguna yang tertinggal dalam transisi teknologi ini.
Adobe melaporkan bahwa fitur-fitur AI mereka telah mendapat sambutan yang sangat positif, terutama dari kalangan pelajar. Kemampuan aplikasi untuk menghasilkan ringkasan materi kuliah lengkap dengan sitasi untuk pengecekan fakta menjadi nilai tambah utama. Dengan deretan fitur baru ini, Adobe tampaknya berhasil membuktikan bahwa dokumen PDF tua pun masih bisa relevan dan canggih di era kecerdasan buatan.

