📑 Daftar Isi

Andy Yen CEO Proton berbicara tentang strategi AI dan privasi pengguna

Andy Yen: AI Dorong Pengguna Baru ke Proton, Ini Alasannya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Proton Andy Yen menyebut dorongan AI ke produk konsumen memicu pertumbuhan pengguna baru
  • Proton kini punya lebih dari 100 juta pengguna, naik dari beberapa ratus ribu sejak 2014
  • Proton merilis Lumo, chatbot AI yang tetap menjaga privasi pengguna
  • Lumo belum menggunakan enkripsi end-to-end penuh karena keterbatasan teknologi LLM
  • Proton menggunakan struktur korporasi unik dengan yayasan nirlaba sebagai pemegang saham pengendali
  • Yen memandang privasi sebagai isu bipartisan dan AI sebagai bentuk pengawasan baru
  • Proton Meet jadi langkah terbaru menuju komunikasi chat terenkripsi end-to-end

Telset.id – Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dipaksakan ke berbagai produk konsumen ternyata menjadi pendorong utama pertumbuhan pengguna baru Proton. Andy Yen, CEO dan pendiri Proton, menyatakan bahwa integrasi AI yang agresif oleh raksasa teknologi justru membuat banyak orang beralih ke layanan berbasis enkripsi yang ia kembangkan.

Proton sendiri dikenal sebagai perusahaan teknologi yang berfokus pada privasi. Layanan yang mereka tawarkan merupakan versi terenkripsi end-to-end dari berbagai layanan Google, mulai dari Gmail hingga Google Docs, Sheets, Calendar, dan Meet. Menariknya, Yen mengaku bukanlah seorang yang anti-AI. Pada akhir Juni lalu, Proton justru merilis versi terbaru dari chatbot AI mereka yang bernama Lumo.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya Proton untuk mengintegrasikan AI ke dalam rangkaian alat mereka secara lebih sukarela dan menjaga privasi pengguna. Hal ini berbeda dengan pendekatan raksasa teknologi pada umumnya yang kerap memaksakan fitur AI. Yen melihat celah ini sebagai peluang untuk menarik pengguna yang mulai lelah dengan pemaksaan tersebut.

Menurut Yen, saat ini banyak pengguna yang merasa terganggu karena fitur AI terus dipaksakan di layanan seperti Gmail. Kondisi ini membuat orang-orang mulai mencari alternatif yang lebih menghormati privasi mereka. Proton pun menyediakan alat untuk memudahkan pengguna Gmail berpindah ke layanan mereka hanya dengan beberapa klik.

Dari Fisika Partikel ke Garda Depan Privasi Digital

Kisah Proton dimulai dari latar belakang Yen sebagai fisikawan partikel. Ia pernah bekerja di Large Hadron Collider, akselerator partikel terbesar di dunia yang terletak di CERN. Proton sendiri lahir di sela-sela periode peningkatan (upgrade) mesin raksasa tersebut, ketika para fisikawan memiliki lebih banyak waktu luang.

Waktu luang tersebut terjadi pada musim panas setelah Edward Snowden membocorkan informasi tentang pengawasan pemerintah. Yen dan rekan-rekannya menyadari bahwa meskipun pengawasan pemerintah adalah masalah, ancaman yang jauh lebih besar adalah pengawasan korporasi. Mereka berpendapat bahwa pemerintah AS bahkan tidak perlu NSA karena bisa langsung memanggil Google atau Facebook untuk meminta data pengguna.

Dari situlah muncul kesadaran bahwa model bisnis internet saat itu telah membawa dunia pada era pengawasan tertinggi dalam sejarah manusia. Proton kemudian lahir sebagai respons atas masalah ini, dengan tujuan membangun internet di mana privasi menjadi pengaturan default, bukan fitur tambahan yang sulit diakses. Proton Mail resmi diluncurkan pada tahun 2014 dan menjadi fondasi dari ekosistem privasi yang mereka bangun.

Pertumbuhan Pesat dan Strategi Bisnis

Dalam satu dekade terakhir, kekhawatiran publik terhadap data online meningkat signifikan. Jika pada 2014 hanya satu dari sepuluh orang yang tahu bagaimana Google atau Facebook menghasilkan uang, kini sekitar enam atau tujuh dari sepuluh orang sudah memahaminya. Peningkatan kesadaran ini berdampak langsung pada pertumbuhan Proton.

Proton kini memiliki lebih dari seratus juta pengguna, naik dari hanya beberapa ratus ribu pengguna di awal berdirinya. Yen menjelaskan bahwa email adalah inti dari model bisnis Google karena menjadi alasan pengguna tetap login. Dengan menyerang sektor ini, Proton berhasil mengeluarkan pengguna dari ekosistem Google. Mereka terus mengembangkan layanan seperti kalender, penyimpanan file, hingga dokumen untuk menciptakan alternatif lengkap dari Google Workspace.

Meskipun memiliki basis pengguna yang besar, Proton menganut model bisnis freemium. Sebagian besar pengguna menggunakan layanan secara gratis, dan tingkat konversi ke pengguna berbayar berada di kisaran 1 hingga 3 persen, sesuai standar industri untuk model bisnis serupa.

AI sebagai Peluang, Bukan Ancaman

Yen memiliki pandangan yang lebih bernuansa tentang AI. Ia menyebut AI adalah bentuk pengawasan, sama seperti internet pada umumnya. Namun, ia juga menyadari bahwa teknologi ini tidak akan kembali ke masa sebelum AI ada. Pertanyaan kuncinya adalah siapa yang akan menjadi pengelola masa depan teknologi ini.

Menurut Yen, ada dua pilihan: membiarkan raksasa teknologi yang telah terbukti tidak dapat dipercaya dalam mengelola data, atau memberi kesempatan pada perusahaan independen dengan model bisnis berbeda. Proton memilih opsi kedua dengan membangun fitur AI sendiri. Jika perusahaan privasi tidak hadir di ruang ini, mereka akan menyerahkan masa depan pada perusahaan yang tidak memiliki kepentingan terbaik bagi pengguna.

Menariknya, awalnya ada penolakan dari pengguna Proton ketika fitur AI pertama kali diperkenalkan. Namun setelah Lumo dirilis tahun lalu, pengguna yang sama justru menuntut agar fitur tersebut dibuat lebih baik. Yen menyimpulkan bahwa pengguna tidak alergi terhadap AI sebagai konsep, melainkan alergi terhadap AI ala perusahaan besar. Ketika AI dihadirkan dengan tetap menjaga privasi dan keamanan data, pengguna justru menyambutnya.

Keterbatasan Teknologi Enkripsi untuk AI

Salah satu tantangan terbesar adalah bahwa Lumo saat ini tidak menggunakan enkripsi end-to-end penuh. Yen mengakui bahwa teknologi untuk melakukan hal tersebut pada model bahasa besar (LLM) belum tersedia. Ia memperkirakan teknologi ini akan matang dalam beberapa tahun ke depan.

Saat ini, Lumo mengandalkan janji dari Proton untuk tidak melihat atau menyimpan log percakapan pengguna. Meskipun janji ini tidak sekuat jaminan matematis dari enkripsi, Yen menilai hal tersebut tetap substansial karena datang dari pihak yang tepat. Ia berharap dapat meningkatkan layanan menjadi jaminan yang dijamin secara matematis di masa depan.

Yen juga membahas tentang penggunaan trusted platform modules (TPM) dan secure execution environment sebagai jalan menuju enkripsi penuh untuk AI. Teknologi ini memungkinkan pembuatan semacam enclave rahasia di server yang tidak dapat diakses oleh bagian lain. Meskipun sudah ada yang menerapkannya, Proton belum melakukannya karena harus merombak seluruh arsitektur platform dan menghadapi masalah performa.

Privasi sebagai Isu Bipartisan

Yen mengamati bahwa privasi adalah isu yang tidak memihak partai politik tertentu. Proton mengalami peningkatan pengguna baik ketika Biden menjabat maupun ketika Trump berkuasa. Pendukung Trump khawatir dengan pengawasan dari “kaum kiri”, sementara pendukung Biden khawatir dengan akses data oleh “kaum fasis”.

Ia menekankan pentingnya privasi melalui argumen “nothing to hide”. Meskipun seseorang merasa tidak memiliki sesuatu untuk disembunyikan, definisi tentang apa yang dianggap ilegal dapat berubah seiring waktu. Privasi menjadi satu-satunya jaminan bahwa data tetap aman terlepas dari hasil pemilihan umum.

Yen juga memperingatkan tentang bahaya undang-undang pengawasan yang dibuat dengan niat baik. Kekuasaan yang diberikan kepada pemerintah saat ini dapat disalahgunakan oleh pihak yang berkuasa di masa depan. Ia mencontohkan bagaimana Trump menggunakan kekuasaan yang sudah ada sejak era Obama dan Biden tanpa perlu membuat undang-undang baru.

Struktur Korporasi yang Unik

Proton memiliki struktur korporasi yang tidak biasa. Pemegang saham terbesar dan pengendali adalah sebuah yayasan nirlaba (nonprofit foundation) yang misinya adalah demokrasi, privasi, keamanan, dan kebebasan di seluruh dunia. Yayasan ini memegang saham dari Proton AG yang merupakan perusahaan berorientasi profit.

Struktur ini dirancang untuk mengatasi konflik kepentingan yang melekat pada korporasi tradisional. Yen mengkritik model korporasi yang secara hukum diwajibkan bertindak demi kepentingan pemegang saham, yang sering kali berarti maksimalisasi profit bahkan dengan mengorbankan pengguna. Dengan struktur ini, perusahaan tetap harus efisien dan kompetitif, namun tidak akan pernah ditekan untuk mengambil tindakan yang merusak misi privasi.

Yayasan yang mengendalikan perusahaan juga terlindungi dari tekanan eksternal karena mendapatkan dana dari perusahaan yang menguntungkan. Sebaliknya, perusahaan yang dikendalikan yayasan harus mematuhi nilai-nilai tertentu. Yen mengakui struktur ini adalah sebuah eksperimen yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan bisa saja gagal.

Masa Depan Komunikasi Terenkripsi

Terkait aplikasi chat seperti Slack atau Discord yang belum terenkripsi, Yen mengakui ini adalah masalah besar. Namun ia belum bisa mengonfirmasi apakah Proton akan merilis produk serupa. Ia hanya menyebut bahwa Proton baru saja merilis Proton Meet, layanan video conference terenkripsi end-to-end yang juga memiliki fitur chat terenkripsi.

Yen menegaskan bahwa mereka memiliki semua komponen untuk membangun solusi chat yang aman. Ia berharap dapat menyelesaikan masalah ini untuk pengguna di masa depan. Sementara itu, ia terus mendorong pentingnya privasi sebagai nilai dan keunggulan kompetitif, terutama di kawasan Eropa yang menurutnya hanya memiliki nilai-nilai tersebut sebagai pembeda dalam persaingan ekonomi digital global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.