Grafik kenaikan pendapatan cloud Amazon AWS kuartal kedua 2026

Amazon Raup Pendapatan Cloud Rp 682 Triliun, Saham Melonjak 10 Persen

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pendapatan AWS Amazon mencapai USD 42 miliar (Rp 682 triliun) pada Q2 2026, naik 37 persen year-on-year
  • Saham Amazon naik hampir 10 persen di after-hours trading setelah laporan pendapatan melampaui ekspektasi
  • Amazon menaikkan proyeksi belanja modal 2026 dari USD 200 miliar menjadi USD 220 miliar
  • Perusahaan menghabiskan USD 173 miliar untuk properti dan peralatan, naik dari USD 107,65 miliar tahun sebelumnya
  • Cadangan kas berkurang USD 7,6 miliar, menandai periode pertama arus kas bebas negatif tahun ini
  • Amazon juga berinvestasi pada chip Trainium TPU dan prosesor Graviton untuk meningkatkan margin bisnis cloud
  • CEO Andy Jassy menyebut bisnis AI mengikuti lintasan margin yang mirip dengan bisnis inti sebelumnya
  • Investor lebih percaya pada penyedia cloud dibandingkan laboratorium AI atau startup AI
  • Pertanyaan keberlanjutan permintaan AI jangka panjang masih menjadi risiko bagi seluruh industri

Telset.id – Amazon melaporkan pendapatan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi pasar, mendorong harga sahamnya naik hampir 10 persen dalam perdagangan after-hours. Kinerja gemilang ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 20 persen, dengan pendapatan AWS (Amazon Web Services) menjadi sorotan utama.

Pendapatan AWS melonjak 37 persen secara tahunan, mencapai USD 42 miliar atau sekitar Rp 682 triliun untuk kuartal tersebut. Pertumbuhan ini menjadi kunci utama yang meyakinkan investor bahwa belanja modal besar-besaran Amazon untuk infrastruktur data center memiliki justifikasi bisnis yang kuat.

Amazon mencatatkan belanja properti dan peralatan sebesar USD 173 miliar untuk tahun fiskal yang berakhir pada 30 Juni. Angka ini melonjak dari USD 107,65 miliar pada periode tahun sebelumnya. Perusahaan bahkan menaikkan perkiraan belanja modal (capex) tahun 2026 dari USD 200 miliar menjadi USD 220 miliar.

Belanja Infrastruktur dan Cadangan Kas

Untuk mendanai ekspansi besar-besaran ini, Amazon mulai menggunakan cadangan kasnya. Perusahaan mengakhiri kuartal dengan kas berkurang USD 7,6 miliar dibandingkan 12 bulan sebelumnya. Ini menandai periode pertama arus kas bebas negatif tahun ini.

Namun, investor tampaknya tidak terlalu khawatir dengan membengkaknya pengeluaran ini. Pasalnya, pendapatan AWS yang tumbuh pesat menunjukkan bahwa permintaan komputasi awan meningkat seiring dengan penambahan pasokan infrastruktur.

“Kami melihat bisnis AI mengikuti lintasan margin yang sangat mirip dengan yang kami lihat di bisnis inti sebelumnya,” ujar Andy Jassy, CEO Amazon, dalam panggilan pendapatan Q2.

Ia menambahkan bahwa AWS dan Amazon Bedrock dapat memiliki bisnis yang sangat sukses tanpa harus memiliki model frontier sendiri. “Tidak akan ada satu model yang menguasai semuanya,” tegas Jassy.

Investasi Chip dan Strategi Jangka Panjang

Strategi AI Amazon tidak terbatas pada pembangunan data center besar. Perusahaan juga membuat taruhan jangka panjang serius pada chip seperti Trainium TPU dan prosesor Graviton berbasis Arm. Proyek-proyek ini tidak tercermin dalam angka belanja modal, tetapi dapat meningkatkan margin bisnis cloud secara signifikan.

Investasi besar Amazon ini sejalan dengan tren yang terlihat pada perusahaan teknologi besar lainnya. Microsoft dan Google juga mencatatkan kenaikan harga saham setelah melaporkan pendapatan cloud yang kuat.

Sebaliknya, Meta mengalami penurunan harga saham sebesar 8 persen setelah laporan pendapatan kuartalan. Investor fokus pada masalah arus kas dan belanja berkelanjutan Meta tanpa sumber pendapatan yang jelas untuk menyeimbangkannya.

Dinamika Ekonomi AI dan Risiko Keberlanjutan

Saat ini, investor memperlakukan penyedia cloud sebagai bagian paling andal dari tumpukan teknologi AI. Namun, perlu dipahami bahwa pendapatan hosting Amazon adalah tagihan AI pihak lain. Dalam kasus Anthropic, uang yang sama berputar di ekosistem yang sama.

Jika pengeluaran untuk AI tidak berkelanjutan bagi laboratorium besar dan klien mereka, pendapatan tidak akan stabil bagi Amazon dan penyedia cloud lainnya. Ada persaingan nyata dan diferensiasi di setiap level tumpukan, tetapi jika permintaan AI tidak bertahan, dampaknya akan dirasakan semua pihak.

Pertanyaan mendasar yang diajukan analis David Cahn tentang investasi USD 3 triliun masih relevan. Apakah ada cukup permintaan untuk membenarkan pembangunan infrastruktur sebesar ini? Layanan cloud seperti AWS mungkin beberapa langkah terpisah dari masalah permintaan tersebut, tetapi itu tidak berarti mereka kebal terhadapnya.

Kinerja Amazon ini memberikan gambaran jelas tentang bagaimana pasar saat ini menilai prospek ekonomi AI. Investor jelas lebih percaya pada penyedia infrastruktur dibandingkan dengan laboratorium AI atau startup AI yang model bisnisnya belum terbukti.

Dengan pendapatan cloud yang mencapai Rp 682 triliun dan proyeksi belanja modal yang terus meningkat, Amazon menunjukkan komitmennya untuk memimpin era komputasi awan dan kecerdasan buatan. Namun, pertanyaan tentang keberlanjutan permintaan AI dalam jangka panjang masih menjadi tanda tanya besar bagi seluruh industri.

Kondisi ini mengingatkan pada peringatan NHTSA tentang gangguan operasional yang bisa mempengaruhi kepercayaan terhadap teknologi baru. Sama seperti industri mobil otonom yang masih mencari keseimbangan antara inovasi dan regulasi, industri AI juga menghadapi tantangan serupa dalam membangun model bisnis yang berkelanjutan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.