Telset.id – Seorang pelamar kerja di TikTok yang menggunakan akun The Dreadful Studio memilih berbicara dalam bahasa gibberish, bahasa buatan yang terdengar seperti dalam game “The Sims”, saat diwawancarai oleh avatar AI. Alih-alih menanggapi dengan tenang, AI pewawancara kerja tersebut justru menjadi marah dan frustrasi, mengungkap betapa rapuhnya teknologi rekrutmen berbasis kecerdasan buatan yang kini dipakai perusahaan untuk menyaring pelamar.
Insiden ini menjadi sorotan karena AI yang seharusnya membantu proses rekrutmen malah menunjukkan perilaku yang tidak profesional. Dalam percakapan tersebut, AI pewawancara melontarkan respons tajam kepada pelamar. “Saya bertanya mengapa Anda memenuhi kualifikasi untuk posisi manajemen, bukan untuk rangkaian kata-kata acak,” kata AI yang geram, dikutip dari laporan Futurism. Ketika percakapan aneh itu berlanjut, avatar tersebut semakin frustrasi.
“Ini benar-benar membuang waktu saya,” ujar AI tersebut. “Saya tidak tahu apakah Anda sedang mengalami gangguan atau Anda memang tidak mampu berbicara bahasa Inggris.” Ekspresi wajah avatar itu terus berubah dari senyum kosong menjadi tatapan yang jauh lebih tajam, membuat sejumlah pengguna Reddit membandingkannya dengan ekspresi marah aktor Inde Navarrette dalam film horor terbaru “Obsession”.
Fenomena ini bukan sekadar kejadian lucu di media sosial. Ia memperlihatkan sisi gelap dari penggunaan AI dalam proses rekrutmen, di mana pelamar kerja sering kali kesulitan berkomunikasi dengan manusia sungguhan di perusahaan yang sedang membuka lowongan. Alih-alih mendapat interaksi manusiawi, pelamar justru dihadapkan pada avatar AI yang glitchy dan mudah rusak. Situasi ini menjadi cerminan bagaimana teknologi yang dipakai untuk efisiensi justru menciptakan pengalaman yang merendahkan martabat pelamar.
Respons Publik dan Kritik terhadap AI Rekrutmen
Reaksi publik terhadap insiden ini beragam, namun mayoritas menyoroti absurditas penggunaan teknologi cacat untuk posisi yang seharusnya menuntut kepemimpinan dan profesionalisme. Seorang pengguna Reddit menulis, “Lucu bagaimana setiap kali dia mulai berbicara, dia tersenyum mendengarkan dengan saksama, begitu dia berhenti, dia mengerutkan kening dan menjadi marah, lalu mulai berbicara lagi dengan senyum dan mendengarkan.”
Pengguna lain menyoroti sisi optik yang aneh ketika sebuah perusahaan menempatkan teknologi yang tidak manusiawi di posisi yang berhadapan langsung dengan publik. “Saya harus mengatakan bahwa menggunakan program AI untuk melakukan wawancara Anda untuk posisi manajemen adalah kebalikan dari kepemimpinan, organisasi, dan perilaku profesional,” tulis seorang pengguna. Pengguna lain menyebut praktik ini sebagai “dehumanizing and dystopian” atau merendahkan martabat dan distopia.
Baca Juga:
Kritik ini muncul di tengah gelombang penggunaan AI yang semakin masif dalam proses rekrutmen. Pelamar kerja memanfaatkan teknologi untuk menyisipkan kata kunci ke dalam resume dan surat lamaran mereka, sementara departemen HR menggunakan AI untuk menyaring banjir lamaran yang masuk. Akibatnya, pelamar yang sebenarnya cocok justru terlewat tanpa disadari. Persoalan bertambah buruk dengan kehadiran avatar AI deepfake yang melakukan putaran awal wawancara, sebuah tamparan bagi pencari kerja yang sering kali kesulitan menghubungi manusia sungguhan di perusahaan yang sedang membuka lowongan.
Lebih dari sekadar sinyal bahwa perusahaan tidak peduli pada proses rekrutmen, avatar-avatar ini juga terbukti bermasalah secara teknis. Mereka glitchy dan mudah rusak, seperti yang terlihat dalam insiden The Dreadful Studio. Ketika pelamar berbicara dalam bahasa gibberish, AI tidak mampu menangani situasi di luar skenario yang telah diprogram, dan malah merespons dengan kemarahan yang tidak seharusnya muncul dalam konteks profesional apa pun.
Insiden serupa juga pernah terjadi sebelumnya. Bulan lalu, influencer satir Graham Zip berhasil membuat pewawancara palsu tersebut percaya pada identitas buatan “Chick Bong” dan karier panjangnya menggunakan Salesforce untuk mengelola “Kayak margins”. Ini menunjukkan bahwa bahkan ketika disajikan bahasa yang nyata, AI rekrutmen tetap mudah tertipu. Namun, berbeda dengan Graham Zip, The Dreadful Studio tidak mendapatkan pekerjaan setelah hanya berbicara dalam bahasa gibberish. “Saya mengakhiri screening ini sekarang,” kata avatar AI tersebut. “Anda benar-benar tidak memenuhi kualifikasi. Selamat tinggal.”
Implikasi bagi Pencari Kerja dan Industri
Perkembangan ini menyoroti ketegangan yang semakin meningkat antara efisiensi teknologi dan martabat manusia dalam proses rekrutmen. Di satu sisi, perusahaan menghadapi banjir lamaran yang membutuhkan penyaringan cepat. Di sisi lain, pelamar kerja dihadapkan pada pengalaman yang tidak manusiawi dan sering kali tidak berfungsi dengan baik. Ketika AI pewawancara dapat dengan mudah diprovokasi hingga mengamuk atau tertipu oleh identitas palsu, pertanyaan tentang reliabilitas dan etika penggunaan teknologi ini menjadi semakin mendesak.
Bagi pencari kerja, insiden ini menjadi pengingat bahwa tidak semua perusahaan mengutamakan interaksi manusiawi dalam proses rekrutmen mereka. Bagi industri, ini menjadi sinyal bahwa implementasi AI dalam rekrutmen masih jauh dari sempurna dan berpotensi menciptakan pengalaman yang merugikan kedua belah pihak. Sementara itu, tren penggunaan AI dalam berbagai aspek kehidupan terus berkembang, termasuk dalam teknologi konsumen seperti yang terlihat pada pemrosesan video 360 dan streaming 4K HDR.
Insiden The Dreadful Studio bukanlah kasus pertama di mana AI menunjukkan perilaku yang tidak terduga dalam konteks profesional. Sebelumnya, seorang pria berpura-pura berhalusinasi dalam wawancara kerja dengan bot AI, menyebabkan bot tersebut mengamuk. Pola ini menunjukkan bahwa sistem AI, betapapun canggihnya, masih memiliki keterbatasan dalam menangani situasi yang tidak terduga dan dapat merespons dengan cara yang tidak sesuai dengan ekspektasi profesional.
Pada akhirnya, kasus ini memperlihatkan bahwa penggunaan AI dalam rekrutmen perlu dievaluasi ulang. Ketika teknologi yang seharusnya membantu justru menciptakan pengalaman yang merendahkan dan tidak efisien, perusahaan perlu mempertimbangkan kembali apakah efisiensi yang didapat sebanding dengan dampak negatifnya terhadap citra perusahaan dan pengalaman pelamar. Sementara itu, para pencari kerja terus mencari cara untuk menavigasi lanskap rekrutmen yang semakin didominasi oleh teknologi, dengan harapan bahwa di balik layar AI, masih ada manusia yang peduli pada kualitas dan martabat proses rekrutmen.





Komentar
Belum ada komentar.