Telset.id – Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi pendorong baru bagi kerja sama pendidikan antara China dan negara-negara ASEAN, membuka peluang besar bagi talenta muda di kawasan ini. Hal ini mengemuka dalam Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN (China-ASEAN Education Cooperation Week) 2026 yang digelar di Guizhou pada 28 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Acara yang dihadiri sejumlah pejabat departemen pendidikan, rektor universitas, dan para pakar dari seluruh kawasan ini menyoroti bagaimana teknologi AI semakin penting dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan. Salah satu contoh nyata adalah kisah Worawit Boonkate, pemuda asal Thailand yang awalnya tidak memiliki pengalaman di bidang AI, namun setelah tiga tahun menempuh studi pascasarjana di Universitas Guizhou, kini bekerja di True Corporation sebagai praktisi AI yang mahir.
Boonkate mengungkapkan bahwa teknologi China yang berkembang pesat, publikasi penelitian AI yang melimpah, serta laboratorium yang sangat lengkap telah memberinya lingkungan ideal untuk belajar. “Manfaat terbesar dari belajar di China bukan hanya keahlian di bidang AI dan kemahiran berbahasa Mandarin, tetapi juga pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya China serta kedisiplinan diri yang lebih tinggi,” imbuhnya.
Badri Munir Sukoco, pelaksana tugas sekretaris jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (RI), menyoroti keunggulan China di bidang AI. Ia berharap Indonesia dapat belajar dari pengalaman China dalam mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum pendidikan tinggi serta mendorong integrasi antara industri dan pendidikan. Ia juga membayangkan adanya berbagai inisiatif bersama yang didukung AI di berbagai bidang, termasuk pengobatan tradisional dan material baru.
Senada dengan itu, Daravone Kittiphanh, wakil menteri Pendidikan dan Olahraga Laos, menegaskan pentingnya membekali mahasiswa dengan pengetahuan digital. “AI sedang mengubah dunia pendidikan dan tempat kerja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membekali mahasiswa kita dengan pengetahuan digital, pemikiran kritis, keterampilan praktis, etika AI, serta keterampilan yang berpusat pada manusia yang tidak dapat dengan mudah ditiru oleh AI,” ujarnya.
Kemitraan antara Universitas Nasional Laos (National University of Laos) dan Universitas Guangxi Minzu (Guangxi Minzu University) telah melahirkan sebuah pusat pengembangan AI. Sementara itu, kerja sama dengan universitas-universitas China lainnya terus mendukung penelitian, inovasi, dan pendidikan pascasarjana di kawasan ini.
Universitas-universitas di China kini gencar memperkenalkan program pelatihan tertarget untuk membina talenta AI lintas perbatasan bagi pasar ASEAN. Universitas Shandong, misalnya, telah meluncurkan program pelatihan yang dirancang khusus untuk fokus pada manufaktur cerdas bersama universitas-universitas di Vietnam dan Goertek, produsen perangkat keras pintar di Provinsi Shandong, China timur. Batch pertama yang terdiri dari 20 mahasiswa Vietnam telah menyelesaikan program studi selama empat bulan, mencakup bahasa Mandarin dan mata kuliah terkait AI, sebelum bergabung dengan cabang Goertek di Vietnam.
Baca Juga:
Universitas Shanghai juga telah meluncurkan model pendidikan “seni plus teknologi AI” di seluruh fakultas film, seni rupa, dan musiknya. Menurut Yu Xuemei, wakil rektor universitas tersebut, program ini telah menarik banyak mahasiswa dari negara-negara ASEAN. Selain itu, universitas tersebut mengoperasikan platform yang didukung AI di Institut Konfusius-nya di Thailand untuk memfasilitasi upaya pengajaran bahasa Mandarin.
Dalam beberapa tahun terakhir, Guizhou telah menjalin hubungan pertukaran dan kerja sama dengan lebih dari 90 universitas dan institusi pendidikan di kawasan ASEAN serta negara-negara mitra Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI). Provinsi ini juga telah mendirikan 17 pusat pelatihan untuk proyek pendidikan di negara-negara ASEAN, yang telah menerima total 20.900 mahasiswa dari kawasan tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa AI dalam pendidikan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan nyata. Integrasi AI dalam kurikulum pendidikan tinggi menjadi kunci untuk menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin digital. China, dengan ekosistem teknologinya yang matang, menjadi mitra strategis bagi negara-negara ASEAN dalam mengembangkan kapabilitas AI.
Bagi Indonesia, peluang ini sangat relevan. Dengan populasi muda yang besar, penguasaan keterampilan AI menjadi investasi jangka panjang yang penting. Belajar dari pengalaman China dalam mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum serta mendorong kolaborasi antara industri dan pendidikan dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing talenta Indonesia di pasar global.
Kerja sama ini juga membuka jalan bagi pertukaran pengetahuan dan teknologi yang lebih luas. Seperti yang disampaikan para pejabat dalam acara tersebut, AI memiliki potensi untuk memperkuat hubungan pendidikan antarnegara, tidak hanya dalam bidang teknologi, tetapi juga dalam bidang-bidang lain seperti pengobatan tradisional dan material baru. Inisiatif bersama yang didukung AI dapat menjadi jembatan untuk inovasi lintas budaya.
Kisah Boonkate adalah bukti nyata bahwa pendidikan di China mampu mengubah karier seseorang secara signifikan. Dari seorang pemula tanpa pengalaman AI, ia kini menjadi spesialis yang diandalkan di perusahaan telekomunikasinya. Hal ini menunjukkan bahwa dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan teknologi yang memadai, talenta dari kawasan ASEAN dapat berkembang pesat.
Program-program seperti yang dilakukan Universitas Shandong dan Universitas Shanghai menunjukkan pendekatan praktis dalam menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan industri. Model “seni plus teknologi AI” di Universitas Shanghai, misalnya, tidak hanya menarik minat mahasiswa ASEAN tetapi juga menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan ganda. Pendekatan semacam ini bisa menjadi contoh bagi institusi pendidikan di Indonesia untuk mengembangkan kurikulum yang lebih adaptif.
Sementara itu, pusat pengembangan AI yang lahir dari kemitraan Laos-China menjadi model kolaborasi yang efektif. Dukungan terhadap penelitian, inovasi, dan pendidikan pascasarjana melalui kemitraan semacam ini dapat mempercepat transfer teknologi dan pengetahuan ke negara-negara ASEAN. Hal ini sejalan dengan komitmen untuk memperkuat kapasitas pendidikan di kawasan.
Ke depan, sinergi antara China dan ASEAN dalam bidang solusi AI untuk pendidikan diprediksi akan semakin erat. Dengan adanya platform pertukaran pelajar, pusat pelatihan, dan program kolaboratif, ekosistem pendidikan AI di kawasan ini akan terus tumbuh. Bagi para mahasiswa dan profesional muda di ASEAN, ini adalah momentum untuk mengambil peran aktif dalam transformasi digital.
Pentingnya keterampilan yang berpusat pada manusia, seperti pemikiran kritis dan etika AI, juga menjadi sorotan. Seperti ditegaskan Daravone Kittiphanh, keterampilan yang tidak dapat dengan mudah ditiru oleh AI adalah nilai tambah yang harus dimiliki mahasiswa. Oleh karena itu, pendidikan AI tidak hanya tentang penguasaan teknologi, tetapi juga tentang pengembangan karakter dan kemampuan berpikir.
Dengan semua perkembangan ini, jelas bahwa AI telah menjadi katalis penting dalam kerja sama pendidikan China-ASEAN. Bagi Indonesia, mengadopsi pendekatan serupa dapat membantu mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan dan peluang di era digital. Kolaborasi internasional, seperti yang ditunjukkan dalam Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN, menjadi langkah konkret untuk mewujudkan hal tersebut.





Komentar
Belum ada komentar.