Ilustrasi pekerja senior kehilangan pekerjaan akibat AI

AI Dorong Pekerja Senior Keluar dari Angkatan Kerja

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Studi Boston College ungkap AI dorong pekerja 55+ keluar dari angkatan kerja
  • Programmer alami lonjakan pengangguran 25%, akuntan 22% pasca ChatGPT
  • Pekerja senior tidak pensiun dini, tapi beralih ke status pengangguran
  • Pekerja manual lebih aman dibanding pekerja kerah putih
  • Fenomena ini menekan pasar kerja dari dua sisi sekaligus

Telset.id – Kehadiran kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja mulai menunjukkan dampak yang tidak terduga. Alih-alih mengancam lulusan baru, teknologi ini justru mendorong pekerja berusia 55 tahun ke atas keluar dari angkatan kerja secara paksa.

Sebuah studi terbaru dari Center for Retirement Research at Boston College mengungkapkan temuan mengejutkan. Ekonom Geoffrey Sanzenbacher menganalisis data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan membandingkannya dengan indeks paparan AI, sebuah dataset yang melacak sejauh mana suatu pekerjaan bergantung pada tugas yang bisa dilakukan AI.

Hasilnya menunjukkan perubahan signifikan setelah peluncuran ChatGPT pada tahun 2022. Pekerja berusia 55 tahun ke atas yang menduduki posisi kerah putih paling rentan terhadap AI, seperti programmer dan akuntan, justru mengalami lonjakan angka pengangguran.

Sanzenbacher mencatat bahwa sebelum era ChatGPT, pekerja senior di pekerjaan yang terekspos AI justru memiliki keunggulan dalam hal umur panjang karier. Mereka cenderung bekerja lebih lama dibandingkan pekerja di sektor manual. Namun, kondisi itu berbalik drastis.

“Jenis pekerjaan yang terekspos AI dulu memiliki keunggulan relatif dalam hal umur panjang karier,” jelas Sanzenbacher. “Di era pasca-ChatGPT, keunggulan ini telah sangat berkurang, dengan sebagian besar peningkatan disebabkan oleh pengangguran.”

Yang menarik, para pekerja senior ini tidak keluar karena pensiun dini. Data menunjukkan mereka justir beralih ke status pengangguran, bukan keluar dari angkatan kerja secara sukarela. Fenomena ini digambarkan sebagai pekerja senior yang “didorong keluar dari pesawat sebelum mereka siap melompat.”

Ilustrasi pekerja senior yang kehilangan pekerjaan akibat AI

Data lebih lanjut memperkuat temuan ini. Antara 2014 dan 2025, jumlah pekerja usia pensiun yang meninggalkan pekerjaan manual seperti pengecatan hanya meningkat sekitar 2 persen. Sebaliknya, untuk programmer komputer, angka pengunduran diri melonjak lebih dari 25 persen. Sementara itu, akuntan dan auditor mencatat peningkatan hingga 22 persen.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa AI tidak berdampak merata. Pekerja kerah putih dengan keterampilan tinggi justru menjadi korban utama, sementara pekerja manual relatif lebih aman. Hal ini bertolak belakang dengan narasi awal yang menyebut lulusan baru sebagai pihak paling rentan.

Sanzenbacher sendiri mengakui bahwa “dampak AI terhadap pekerja mana pun, apalagi mereka yang mendekati pensiun, masih menjadi pertanyaan terbuka.” Namun, data yang ada sudah cukup untuk menimbulkan kekhawatiran serius.

Pertanyaan besar kini muncul: jika perekrutan tingkat pemula melambat drastis dan profesional senior meninggalkan pasar kerja dalam jumlah besar, bagaimana pekerja biasa harus menavigasi pasar tenaga kerja yang terjepit dari kedua sisi?

Fenomena ini mengingatkan pada pola serupa yang sebelumnya terlihat di pasar tenaga kerja tingkat pemula. AI tampaknya menciptakan tekanan ganda: menyulitkan pencari kerja baru dan sekaligus mendorong pekerja berpengalaman keluar lebih awal.

Bagi perusahaan, temuan ini menjadi peringatan. Mengandalkan AI untuk menggantikan pekerja senior tanpa strategi transisi yang matang bisa menimbulkan masalah baru. Kehilangan tenaga kerja berpengalaman secara massal dapat menggerus pengetahuan institusional yang sulit digantikan.

Di sisi lain, pekerja senior perlu mulai mempertimbangkan ulang rencana karier mereka. Keterampilan yang dulu menjamin umur panjang karier mungkin tidak lagi relevan di era AI. Adaptasi dan peningkatan keterampilan menjadi kunci untuk bertahan.

Studi Boston College ini menjadi pengingat bahwa dampak AI terhadap pasar tenaga kerja jauh lebih kompleks dari yang diperkirakan. Bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal distribusi dampak yang tidak merata antar generasi.

Pemerintah dan pembuat kebijakan perlu merespons temuan ini dengan serius. Program pelatihan ulang dan jaring pengaman sosial untuk pekerja senior yang terdampak AI harus segera dirancang. Tanpa intervensi yang tepat, kesenjangan antar generasi di pasar kerja bisa semakin melebar.

Bagi para pekerja senior, pesannya jelas: era baru telah tiba. Kemampuan beradaptasi dengan teknologi AI bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan di pasar kerja yang terus berubah.

Sanzenbacher menutup studinya dengan catatan bahwa pola ini masih perlu diteliti lebih lanjut. Namun, data awal sudah cukup untuk menunjukkan bahwa AI tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga siapa yang bisa bekerja.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.