Bayangkan sebuah pasar dengan lebih dari satu miliar pengguna internet, di mana unduhan aplikasi kecerdasan buatan melonjak lebih dari 200% dalam setahun. Sebuah surga digital yang membuat para raksasa teknologi dari Silicon Valley hingga Beijing berebut perhatian. Itulah India pada 2025. Namun, di balik angka-angka fantastis itu, tersembunyi sebuah teka-teki yang rumit: bagaimana mengubah kegilaan pengguna menjadi aliran pendapatan yang stabil? Ternyata, menjual mimpi AI di negara dengan ekonomi terbesar keempat dunia ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Lanskap digital India telah lama menjadi medan pertempuran yang unik, ditandai dengan sensitivitas harga yang tinggi dan basis pengguna yang masif namun muda. Perusahaan-perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Perplexity dengan cerdik merancang strategi masuk: tawaran premium gratis yang diperpanjang, bundling dengan operator telekomunikasi seperti Airtel, dan akses khusus seperti ChatGPT Go. Tujuannya jelas: akuisisi pengguna secepat mungkin. Dan strategi itu berhasil gemilang. Menurut data Sensor Tower, India bahkan melampaui Amerika Serikat sebagai pasar unduhan aplikasi AI generatif terbesar di dunia tahun lalu.
Namun, pesta promosi gratis itu perlahan mulai berakhir. Perplexity mengakhiri penawaran bundel Pro-nya dengan Airtel pada Januari, dan akses gratis ChatGPT Go di India juga tak lagi tersedia. Inilah momen kebenaran. Apakah gelombang pengguna baru ini akan dengan rela membuka dompet mereka, atau justru menguap begitu layanan berbayar diterapkan? Transisi ini bukan sekadar perubahan model bisnis, melainkan ujian sesungguhnya bagi masa depan monetisasi AI di salah satu pasar paling strategis di dunia.
Ledakan Download vs Dilema Pendapatan: Jurang yang Menganga
Data dari Sensor Tower, yang dibagikan kepada TechCrunch, mengungkapkan kontras yang mencolok. India menyumbang sekitar 20% dari total unduhan aplikasi GenAI global, namun kontribusinya terhadap pendapatan pembelian dalam aplikasi (in-app purchase) hanya sekitar 1%. Artinya, dari setiap 20 pengguna baru di dunia, satu berasal dari India, tetapi dari setiap 100 dolar yang dihabiskan, mungkin hanya 1 dolar yang berasal dari sana. Ini adalah paradoks pertumbuhan: adopsi melesat, tetapi monetisasi tertatih-tatih.
Adopsi GenAI di India memang mengalami akselerasi tajam sepanjang 2025, dengan puncak unduhan pada September dan Oktober yang mencatat pertumbuhan tahun-ke-tahun sekitar 320% dan 260%. Namun, gelombang penggunaan ini tidak serta-merta mendongkrak pendapatan. Justru sebaliknya, pada November dan Desember 2025, pendapatan dari pembelian dalam aplikasi AI di India turun 22% dan 18% secara bulanan. Revenue ChatGPT bahkan terjun lebih dalam, turun 33% dan 32% pada periode yang sama—efek langsung dari diluncurkannya akses gratis ChatGPT Go di bawah $5 pada November.
Fenomena ini mengingatkan pada dinamika pasar teknologi lainnya yang sensitif harga, di mana penetrasi awal seringkali bergantung pada insentif besar. Seperti yang pernah terjadi pada bisnis hospitality dengan model agregator tertentu, transisi dari gratis ke berbayar selalu menjadi titik kritis yang penuh tantangan.
Baca Juga:
Peta Persaingan: ChatGPT Masih Raja, Tapi Rival Tak Pernah Tidur
Memasuki 2026, peta persaingan AI assistant di India sudah mulai jelas, meski tetap dinamis. ChatGPT masih menjadi pemimpin pasar yang tak terbantahkan dengan 180 juta pengguna aktif bulanan (MAU) pada Januari, menurut Sensor Tower. Posisi kedua ditempati Google Gemini dengan 118 juta MAU, diikuti oleh Perplexity (19 juta) dan Meta AI (12 juta). Dominasi ChatGPT juga terlihat dari pangsa pendapatannya yang menguasai lebih dari 60% revenue GenAI dalam aplikasi di India.
Namun, kepemimpinan itu tidak boleh membuat lengah. Rival-rival seperti Gemini dan Perplexity menunjukkan pertumbuhan yang cepat, terutama setelah berbagai penawaran promosi. OpenAI sendiri mengklaim ChatGPT kini memiliki lebih dari 100 juta pengguna aktif mingguan di India. Pertanyaannya, berapa banyak dari angka-angka megah ini yang akan bertahan setelah kran promo ditutup? Keberhasilan kompetisi esports besar dalam membangun komunitas loyal mungkin bisa menjadi pelajaran berharga tentang membangun engagement yang berkelanjutan.
Sneha Pandey, insights analyst di Sensor Tower, memberikan analisis jernih. Dorongan promosi di India mencerminkan strategi lebih luas perusahaan AI untuk mengurangi gesekan harga di pasar yang sangat sadar nilai. Taruhannya adalah bahwa adopsi dan keterlibatan pengguna awal akan diterjemahkan menjadi retensi jangka panjang yang lebih kuat setelah periode akses gratis berakhir. Namun, dia mengingatkan bahwa tekanan harga di India kemungkinan akan tetap tinggi mengingat basis pengguna yang muda dan sadar nilai. Tier harga lebih rendah, bundel telekomunikasi, dan model micro-transaction akan menjadi kunci untuk retensi jangka panjang.
Engagement vs Scale: Tantangan di Balik Angka Pengguna
Di sinilah letak inti persoalan. India mungkin unggul dalam skala, tetapi masih tertinggal dalam hal kedalaman engagement dibandingkan pasar yang lebih matang seperti AS. Pada 2025, pengguna aplikasi chatbot AI terkemuka di AS menghabiskan waktu sekitar 21% lebih banyak per minggu di aplikasi daripada rekan-rekan mereka di India, dan mencatat 17% sesi lebih banyak secara rata-rata. Ini adalah gap yang signifikan.
“Pendapatan dalam aplikasi AI kemungkinan akan melihat peningkatan yang berarti tetapi bertahap seiring pengguna menjadi lebih terintegrasi ke dalam platform ini, membuat keterlibatan berkelanjutan menjadi hal yang terpenting,” kata Pandey. Dengan kata lain, mengubah pengguna “coba-coba” menjadi pengguna “bergantung” membutuhkan lebih dari sekadar teknologi canggih. Dibutuhkan pemahaman mendalam tentang kebutuhan lokal, konteks budaya, dan tentu saja, model harga yang tepat. Tantangan serupa juga dihadapi oleh vendor perangkat keras, seperti dalam pembaruan sistem operasi untuk perangkat flagship lama, di mana menjaga kepuasan pengguna lama sama pentingnya dengan menarik pengguna baru.
Faktor pendorong lain di balik ledakan adopsi ini, selain promosi, adalah peluncuran produk baru seperti DeepSeek, Grok, dan Meta AI, serta peningkatan besar pada chatbot utama seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan Perplexity. Minat viral terhadap konten yang dihasilkan AI juga membantu mendorong adopsi, dengan alat pembuatan dan penyuntingan konten menduduki tujuh dari 20 aplikasi GenAI yang paling banyak diunduh di India pada 2025.
Masa Depan Monetisasi: Jalan Panjang Menuju Profitabilitas
Jadi, ke mana arah monetisasi AI di India? Jawabannya terletak pada kesabaran dan inovasi model bisnis. Pendekatan “one-size-fits-all” yang berlaku di Barat kemungkinan besar akan gagal. Perusahaan-perusahaan AI harus berpikir kreatif: kemungkinan melalui kemitraan yang lebih dalam dengan ekosistem digital India yang sudah ada, integrasi dengan layanan pembayaran UPI yang sudah merakyat, atau bahkan model “freemium” yang sangat agresif dengan batasan yang sangat longgar.
Kehadiran para pemimpin seperti Sam Altman (OpenAI), Dario Amodei (Anthropic), dan Sundar Pichai (Alphabet) dalam KTT AI besar-besaran di New Delhi baru-baru ini adalah sinyal kuat. India bukan sekadar pasar konsumen, tetapi juga calon hub AI global yang potensial. Investasi dan perhatian mereka adalah pengakuan atas bobot negara yang terus bertambah dalam perlombaan AI global.
Perjalanan India dalam adopsi AI adalah cerita tentang potensi versus realitas, skala versus kedalaman, dan hype versus keberlanjutan bisnis. Ledakan download hanyalah babak pertama. Babak selanjutnya—di mana pengguna diharapkan membayar untuk nilai yang mereka terima—akan jauh lebih menantang. Kesuksesan di babak ini tidak hanya akan menentukan pemenang di pasar India, tetapi juga mungkin memberikan cetak biru tentang bagaimana memonetisasi teknologi mutakhir di ekonomi berkembang yang paling dinamis di dunia. Tantangannya telah jelas, dan sekarang, bola ada di pihak perusahaan-perusahaan AI untuk membuktikan bahwa layanan mereka bukan hanya menarik, tetapi juga sangat berharga untuk dibeli.

