📑 Daftar Isi

Ilustrasi AI agents sebagai rekan kerja digital dengan avatar berwarna di lingkungan kantor modern

AI Agents Jadi Rekan Kerja, 22 Persen Perusahaan Masukkan ke Org Chart

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • 22 persen manajer menyatakan organisasinya menambahkan AI agents ke bagan organisasi (survei 1.261 manajer, Januari)
  • AI agents adalah sistem berbasis large language models yang bekerja otonom 24/7
  • Microsoft meluncurkan agen "Scout" untuk penjadwalan rapat dan draf email pada Juni
  • Skydive dan Muse memakai avatar bergaya karakter untuk mendorong personifikasi
  • Riset BCG: manajer menangkap 18 persen lebih sedikit kesalahan saat pekerjaan disebut dilakukan karyawan AI
  • CEO Lattice Sarah Franklin khawatir personifikasi AI memicu dampak neurologis dan perilaku bagi tenaga kerja

Telset.id – Sebanyak 22 persen manajer mengaku organisasi mereka telah menambahkan AI agents ke dalam bagan organisasi perusahaan. Temuan ini muncul dari jajak pendapat terhadap 1.261 manajer yang dilakukan Julie Bedard, partner Boston Consulting Group (BCG), dan koleganya pada Januari. Angka tersebut menandai pergeseran cara perusahaan memandang kecerdasan buatan: bukan lagi sekadar alat, melainkan sosok digital yang menempati posisi layaknya karyawan.

AI agents adalah sistem berbasis large language models yang dirancang menyelesaikan tugas secara otonom. Kemunculannya memicu gelombang perusahaan yang menjual jasa “karyawan digital”. Agen-agen ini dipromosikan sebagai pekerja ideal: tersedia 24/7, tidak pernah mengeluh, dan menawarkan kecerdasan di atas rata-rata manusia. Namun, pembahasan soal bagaimana rasanya bekerja bersama mereka sebagai rekan kerja justru minim.

Bedard mengaku mulai menyadari kerancuan cara orang membicarakan AI di tempat kerja tiga tahun lalu, saat adopsi ChatGPT yang cepat meyakinkan para eksekutif bahwa teknologi ini bisa mendongkrak produktivitas secara eksponensial. “Orang-orang tidak punya bahasa untuk itu,” kata Bedard kepada WIRED. “Apakah ini alat? Apakah ini rekan setim? Apakah ini kolega? Apakah ini rekan kerja?”

Dari Alat Menjadi Rekan Kerja

Ketika platform seperti Microsoft Copilot dan Google Gemini for Workspace diluncurkan pada 2023, keduanya dipasarkan terutama sebagai alat bantu karyawan. Situasinya berubah. Pada Juni, Microsoft meluncurkan “Scout”, agen yang dibangun untuk menyelesaikan tugas seperti menjadwalkan ulang rapat dan menyusun draf email.

“Perusahaan Anda pada dasarnya mempekerjakan asisten Anda,” kata Omar Shahine, corporate vice president Microsoft Scout, saat agen itu diluncurkan. “Inti dari memiliki asisten pribadi adalah mereka bekerja saat Anda tidak bekerja.”

Keberhasilan AI agents tidak hanya bergantung pada kemampuan mereka memberi imbal hasil finansial, tetapi juga pada kemampuan bekerja harmonis bersama tenaga kerja yang ada. Karena itu, perusahaan merancang agen dengan membungkus keunggulan AI dalam paket sifat yang menyerupai manusia, agar karyawan terdorong menganggap agen sebagai sosok yang bisa dimanusiakan.

“Orang-orang mulai benar-benar menghormati agen dan membentuk keterikatan yang kuat,” kata Dhruv Amin, CEO Anything, startup vibe coding yang masuk pasar AI coworker pada Agustus dengan platform bernama Skydive. “Mereka akan membicarakannya seperti manusia.”

Agen Skydive bukan chatbot atau alur kerja, melainkan rekan kerja dengan nama, peran, dan komputer cloud masing-masing. Mereka bekerja lintas Slack, email, iMessage, dan lainnya. Setiap agen diwakili avatar bergaya Muppet, yang oleh Amin digambarkan “mendekati manusia, tapi jelas bukan manusia”. Nama mereka kerap berkaitan dengan perannya; Canary, misalnya, memantau produksi 24/7.

“Kami pikir penting untuk mempersonifikasikan mereka sedikit,” kata Amin, “karena kebanyakan orang masih belum tahu apa itu agen sebenarnya.”

Christine Wendell, CEO Pronto Housing dan salah satu pengadopsi awal Skydive, memakai agen untuk sederet pekerjaan rutin: menulis kontrak, menjadwalkan rapat, mengirim email tindak lanjut ke pelanggan. Agen-agennya, pada dasarnya, adalah karyawan yang sempurna. Tapi bagaimana mereka sebagai rekan kerja?

Agen Skydive tidak hanya tertanam di setiap bentuk komunikasi tempat kerja, tetapi juga terus berkembang menyesuaikan gaya komunikasi, permintaan, dan koreksi rekan kerja manusia. Mereka menjadi semakin mahir berbaur dengan kolega sesungguhnya. Ketika tim engineering Pronto mulai memakai agen coding, Wendell memperhatikan karyawan mulai mengatakan bahwa mereka “bekerja bersama Alice”—agen tersebut—dalam sebuah proyek.

Namun, daya tarik agen justru karena mereka bukan manusia. Selain etos kerja tanpa batas, mereka juga berada di luar politik kantor atau neurosis profesional. Ketika “Bob”, agen yang menjabat chief of staff Wendell, keliru mencantumkan seluruh detail kalender Wendell di kanal Slack, ia tidak merasa perlu memperhalus koreksinya.

“Saya sangat sadar bahwa itu bukan manusia,” kata Wendell. “Saya meluapkan kekesalan pada mereka dengan cara yang tidak akan saya lakukan ke manusia, karena itu tidak sopan.”

Muse, seperti muppet milik Skydive, diwakili avatar kecil yang lucu dan berbulu. Menurut penulis senior WIRED Reece Roger, pengalaman penggunanya “seperti mengirim pesan ke teman dengan permintaan tugas—AI agent mengakui pesan dengan emoji jempol dan mulai bekerja di latar belakang”. Dengan memakai hubungan yang sudah ada sebagai cetak biru, agen-agen ini—baik sebagai AI coworker maupun, seperti Muse, “dibuat untuk semua orang”—menawarkan jalan pintas untuk memahami cara memakainya.

Risiko Menganggap AI Seperti Manusia

Memanusiakan AI membawa risiko spesifik dalam konteks kerja. Riset Bedard dan koleganya di BCG menemukan, ketika manajer diberi tahu bahwa sebuah pekerjaan diselesaikan oleh karyawan AI, mereka menangkap 18 persen lebih sedikit kesalahan dibandingkan ketika diberi tahu pekerjaan itu berasal dari alat AI.

Agen juga tidak serta-merta masuk ke kotak yang sama dengan karyawan manusia, kata Bedard, baik dalam kemampuan maupun kelemahan mereka. “Perusahaan baru mulai memahami apa saja guardrails yang berlaku,” ujar Bedard.

Orang membentuk koneksi emosional mendalam dengan AI bukan hal baru; orang sudah berkencan dengan chatbot companion selama bertahun-tahun. Bahkan di tempat kerja, alat AI telah memicu reaksi yang menarik. Tahun lalu, Henry Blodget—pendiri Business Insider—menulis blog tentang membangun tim bawahan digital, dan mengalami “respons manusiawi” terhadap foto profil seorang kolega AI yang menarik.

“Setelah beberapa dekade di tempat kerja manusia, saya belajar bahwa berbagi pikiran manusiawi tertentu di tempat kerja hampir selalu ide buruk,” tulis Blodget. “Tapi apakah aturan yang sama berlaku untuk kolega AI dan tempat kerja yang berbasis AI?”

Sarah Franklin, CEO perusahaan HR Lattice, punya kekhawatiran lebih eksistensial. Lattice menambahkan karyawan digital ke bagan organisasi dua tahun lalu, sebelum konsep ini sepenuhnya masuk arus utama. Franklin menegaskan Lattice memakai model ini untuk mendorong akuntabilitas—bukan agar pekerja memperlakukan kolega AI seperti manusia.

Franklin melihat kecenderungan memanusiakan AI sebagai strategi perusahaan teknologi untuk membuat pengguna kecanduan layanan mereka, tak mampu menahan pemicu dopamin dari koneksi emosional. Meski ini bisa membantu perusahaan membangun basis pengguna aktif, Franklin yakin hal itu berpotensi menimbulkan dampak neurologis dan perilaku yang merugikan tenaga kerja manusia.

“Kami punya model-model yang telah menelan seluruh pengetahuan manusia, dan begitu bangga memiliki valuasi multitriliun—tapi berpotensi menghancurkan kemanusiaan,” kata Franklin. “Itu sangat menakutkan. Dan apa tujuannya? Apakah tujuannya membuat orang kehilangan pekerjaan?”

Perdebatan soal status AI agents di tempat kerja masih berlangsung. Sebagian perusahaan mendorong personifikasi agar karyawan cepat memahami cara memakai agen, sementara yang lain menekankan akuntabilitas dan batas jelas antara manusia dan mesin. Yang pasti, adopsi agen sebagai “rekan kerja” terus meluas seiring puluhan startup menawarkan jasa karyawan AI dan perusahaan teknologi besar gencar mempromosikan agen otonom mereka.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.