Telset.id – Praktik hubungan masyarakat (PR) tengah diterpa skandal besar setelah terungkap sebuah agensi menggunakan wajah palsu hasil kecerdasan buatan (AI) untuk mengirimkan email kepada para jurnalis. Futurism menemukan bahwa Movchan Agency, sebuah perusahaan PR yang berbasis di Inggris, telah mengoperasikan sedikitnya 15 persona fiktif yang digunakan untuk melakukan pendekatan kepada awak media atas nama klien mereka.
Temuan ini bermula saat jurnalis Futurism menerima email dari seorang publicist bernama “June Barton” yang mengaku bekerja di firma bernama VectorGuideHQ. Email tersebut menawarkan liputan untuk aplikasi wellness bernama RiseGuide. Kejanggalan mulai terlihat ketika foto profil Barton dibuka, di mana gambar tersebut masih menyisakan watermark dari situs “this-person-does-not-exist.com” yang memang khusus menyediakan gambar wajah hasil AI.
Ketika alamat email Barton, june@vectorguidehq.com, ditelusuri, situs tersebut justru mengarahkan pengunjung ke situs Movchan Agency. Pendiri RiseGuide, Oleksandr Matsiuk, mengaku tidak mengetahui praktik tersebut. “Mereka bertindak sebagai pendukung PR kami dan mewakili brand kami dengan membantu kami menghubungi reporter,” ujarnya kepada Futurism.

## Puluhan Persona Fiktif Terungkap
Setelah penyelidikan lebih lanjut, jurnalis Futurism menemukan bahwa ia telah menerima email dari banyak akun serupa yang dioperasikan oleh Movchan. Salah satunya adalah “Summer Casey” dari alamat summer@lorvotieio.com yang mempromosikan perusahaan bernama AGI Inc. Sama seperti Barton, foto Casey juga memiliki watermark dari situs pembuat wajah AI, dan situs perusahaannya mengarahkan ke halaman Movchan.
Penyisiran kotak masuk email mengungkap puluhan pesan dari setidaknya 15 persona palsu yang berbeda. Beberapa nama yang teridentifikasi antara lain “Abigail Anderson” dari abigail@kirometaco.com, “Sarai Singleton” dari sarai@maviosharehq.com, dan “Scarlet Walton” dari scarlet@divojoinio.com. Ketiganya sama-sama mempromosikan AGI Inc dan situs perusahaan mereka mengarah ke Movchan.

Beberapa persona lain bahkan secara eksplisit diperkenalkan sebagai karyawan Movchan, seperti “Mia Wilson” yang menandatangani email sebagai “PR Manager for Movchan Agency” dan “Natalie Hudson” yang mengaku “PR Manager @ Movchan Agency”. Menariknya, sebagian besar persona palsu ini tidak dilengkapi foto profil, membuat mereka semakin sulit untuk dideteksi.
## Klien Tidak Mengetahui Praktik Tersebut
Beberapa klien Movchan mengaku tidak menyadari bahwa agensi tersebut menggunakan karakter fiktif atas nama mereka. Seorang perwakilan dari Joi AI, startup yang menawarkan pasangan romantis berbasis AI, menyatakan keterkejutannya. “Saya tidak tahu mereka menggunakan persona palsu — ini bertentangan dengan nilai dan standar brand kami. Kami mengambil tindakan segera untuk menghentikan ini,” ujarnya.

Bahkan, beberapa pitch yang dikirim oleh persona palsu ini telah berhasil dimuat di media lain. Pada September, sebuah persona bernama “Rosemary Dalton” mengirim email tentang survei baru dari Joi AI. Sekitar seminggu kemudian, survei tersebut beserta kutipan dari karyawan Joi AI dimuat dalam liputan The New York Post.
Salah satu kejadian paling aneh terjadi ketika seorang pengirim yang mengaku bernama “Isabella Brown” dari LunarPostHQ menandatangani email lanjutan dengan nama yang berbeda — nama asli seorang karyawan Movchan yang dapat diidentifikasi. Pendiri Movchan, Nadya Movchan, mengkonfirmasi bahwa akun tersebut dioperasikan oleh karyawan aslinya yang menandatangani email karena kebiasaan.
## Pengakuan Pendiri Movchan
Saat dihubungi Futurism, Nadya Movchan mengkonfirmasi bahwa 15 nama yang ditemukan di kotak masuk email tersebut memang persona palsu. Ia menjelaskan bahwa praktik ini dimulai “beberapa bulan lalu” dan dimaksudkan sebagai langkah “sementara”.
“Beberapa bulan lalu (kemungkinan setelah salah satu pembaruan deliverability Gmail), kami memiliki masalah besar dengan reputasi domain kami,” kata Movchan kepada Futurism. “Saat kami mulai bekerja untuk pemulihan, kami memutuskan untuk membeli domain yang sudah dipanaskan agar tidak menghentikan penjangkauan, sebagai tindakan sementara. Domain tersebut datang dengan kotak surat yang sudah dipanaskan dengan nama dan gambar dari vendor.”
Movchan menambahkan bahwa penggunaan perwakilan palsu “bukan” praktik operasional normal agensinya. “Menggunakan domain yang sudah dipanaskan ini jelas merupakan penilaian yang buruk dari saya,” tambahnya.
Meskipun pengirim dan akunnya palsu, Movchan menegaskan bahwa setiap kotak surat tersebut “dioperasikan oleh orang sungguhan, yang menyusun sudut cerita, pitch, dan mengelola penjangkauan — semuanya dilakukan oleh manusia yang melakukan pekerjaan PR normal.”
## Email Campuran AI dan Manusia
Untuk menguji lebih jauh, jurnalis Futurism menjalankan email dari perwakilan palsu Movchan melalui Pangram, sebuah layanan yang mengidentifikasi teks yang dihasilkan AI. Hasilnya beragam. Email dari Summer Casey dan June Barton terdeteksi 100 persen dihasilkan AI, sementara yang lain teridentifikasi 100 persen tulisan manusia, dan sebagian lainnya merupakan campuran keduanya.
Movchan juga mengkonfirmasi bahwa klien agensinya tidak mengetahui praktik ini dan mengatakan mereka akan menghentikan operasi tersebut. “Ini adalah keputusan kami, dan kami menanganinya dengan buruk,” kata Movchan, menambahkan bahwa “terlepas dari alasannya, perjuangan operasional kami dengan domain tidak membenarkan pendekatan ini. Ini jelas bukan kualitas pekerjaan yang saya junjung sebagai pendiri, dan saya akan memastikan ini tidak terjadi lagi.”
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi AI dapat disalahgunakan dalam industri PR dan media. Kemampuan untuk menghasilkan wajah manusia yang realistis secara instan telah membuka celah baru bagi praktik penipuan dan manipulasi. Seperti yang disimpulkan Futurism, “jika internet terasa semakin tidak nyata di era AI, itu memang karena internet semakin tidak nyata.”
Praktik semacam ini juga memunculkan kekhawatiran tentang transparansi dalam komunikasi profesional. Ketika jurnalis menerima email dari seseorang yang sebenarnya tidak ada, kredibilitas seluruh ekosistem PR dan media menjadi taruhannya. Ke depan, verifikasi identitas pengirim menjadi semakin penting di tengah maraknya kekhawatiran publik terhadap AI.
Kasus Movchan Agency ini juga menyoroti bagaimana teknologi deepfake dan AI generatif dapat digunakan untuk tujuan yang merugikan. Sebelumnya, ada laporan tentang penyalahgunaan AI dalam bidang kesehatan mental, dan kini industri PR menjadi sorotan. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa regulasi dan etika penggunaan AI perlu segera diperkuat.





Komentar
Belum ada komentar.