šŸ“‘ Daftar Isi

Guru menggunakan smartphone di meja kerjanya dengan papan tulis di latar belakang

Adopsi AI Guru Meningkat Dua Kali Lipat, tetapi Beban Kerja Belum Berkurang

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • 80% guru kini menggunakan AI di tempat kerja, meningkat 2x lipat dari tahun lalu
  • Hanya 35% guru yang bekerja lebih sedikit jam, sementara 55% masih bekerja dengan jam yang sama
  • Waktu yang dihemat AI justru digunakan untuk menangani beban kerja lain
  • 76% guru menggunakan AI untuk membuat rencana pelajaran dan lembar kerja
  • Hanya 8% guru yang menggunakan AI untuk menilai pekerjaan siswa
  • 57% guru mencurigai siswa menyerahkan pekerjaan berbantuan AI tanpa izin
  • Studi dilakukan terhadap 1.033 pekerja di Inggris oleh YouGov

Telset.id – Sebanyak 80% guru kini menggunakan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja, meningkat sekitar dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Namun, peningkatan adopsi ini tidak serta-merta mengurangi beban kerja mereka. Data baru dari YouGov menunjukkan hanya satu dari tiga guru (35%) yang mengaku bekerja lebih sedikit jam, sementara lebih dari separuh (55%) menyatakan jam kerja mereka tetap sama.

Studi yang melibatkan 1.033 pekerja ini mengungkap fakta penting: AI memang menghemat waktu guru dalam tugas tertentu, tetapi waktu yang dihemat justru digunakan untuk menangani beban kerja lain. Hal ini mengindikasikan bahwa guru selama ini sudah kelebihan beban kerja, dan teknologi saja tidak cukup untuk mengatasi masalah tersebut.

AI untuk Administrasi, Bukan Menggantikan Keahlian

Beberapa penggunaan AI yang paling umum di kalangan guru antara lain membuat rencana pelajaran dan lembar kerja (76%) serta menyusun surat atau email kepada orang tua dan menulis laporan siswa (39%). Menariknya, hanya 8% guru yang menggunakan AI untuk menilai pekerjaan siswa. Ini menunjukkan fokus utama penggunaan AI adalah mempercepat pekerjaan administratif, bukan menggantikan pekerjaan berketerampilan tinggi yang menjadi keahlian mereka.

Guru menggunakan smartphone di mejanya dengan papan tulis di belakang

Beban kerja guru memang sudah menjadi isu besar di Inggris, tempat studi ini dilakukan. Temuan ini sejalan dengan kekhawatiran yang berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana kesejahteraan guru menjadi perhatian utama. Adopsi AI di sektor pendidikan memang menjanjikan efisiensi, tetapi hasil studi ini menunjukkan harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud.

Baca Juga:

Selain soal beban kerja, studi ini juga mengungkap kekhawatiran tentang dampak AI terhadap pembelajaran siswa. Lebih dari separuh guru (57%) mencurigai setidaknya satu siswa mereka menyerahkan pekerjaan yang dibuat dengan bantuan AI tanpa izin dalam sebulan terakhir. Hal ini menambah kompleksitas dalam evaluasi dampak AI di dunia pendidikan.

Otak AI keluar dari layar laptop

Temuan ini menggambarkan situasi yang rumit di mana AI berpotensi meningkatkan sekaligus merusak kualitas pendidikan. Pemerintah Inggris sendiri masih berupaya mencari posisi terbaik agar teknologi ini memberikan dampak positif bagi semua pihak. Sementara itu, para pendidik di berbagai belahan dunia terus beradaptasi dengan kehadiran AI di ruang kelas.

Di sisi lain, kekhawatiran tentang penggunaan AI oleh siswa juga menjadi perhatian global. Beberapa pihak bahkan mendorong regulasi yang lebih ketat terhadap penggunaan AI di lingkungan sekolah. Namun, data menunjukkan guru justru melihat AI sebagai alat bantu yang efektif untuk meringankan beban administratif mereka.

Pertanyaannya kini, apakah institusi pendidikan perlu mengevaluasi ulang pembagian beban kerja guru? Jika AI hanya memindahkan waktu dari satu tugas ke tugas lainnya, maka akar masalah kelebihan beban kerja guru belum tersentuh. Studi ini memberikan sinyal penting bagi pengambil kebijakan untuk melihat lebih dalam pada struktur kerja guru secara keseluruhan.

Seorang siswa di perpustakaan kampus sedang mengerjakan laptop

Adopsi AI di kalangan guru yang meningkat dua kali lipat dalam setahun menunjukkan kesiapan tenaga pendidik menerima teknologi baru. Namun, efektivitasnya dalam mengurangi beban kerja masih dipertanyakan. Temuan ini juga relevan dengan perkembangan pendanaan AI yang semakin masif di berbagai sektor.

Data YouGov ini menjadi bahan evaluasi penting bagi sekolah dan pemerintah. Kehadiran AI di ruang kelas bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang harus dikelola dengan bijak. Guru yang selama ini kewalahan dengan tugas administratif kini memiliki alat bantu baru, tetapi tanpa penataan ulang beban kerja, manfaatnya belum terasa signifikan.

Studi ini juga membuka diskusi tentang bagaimana teknologi dapat diintegrasikan secara lebih efektif dalam dunia pendidikan. Berbagai aplikasi belajar online dan platform pembelajaran digital terus bermunculan, menawarkan solusi bagi pendidik dan siswa. Namun, teknologi hanyalah alat, dan keberhasilannya tetap bergantung pada bagaimana manusia mengelolanya.

Kesimpulannya, peningkatan adopsi AI di kalangan guru merupakan perkembangan positif dalam pemanfaatan teknologi. Namun, temuan bahwa mayoritas guru masih bekerja dengan jam yang sama menunjukkan bahwa akar permasalahan beban kerja perlu ditangani secara lebih menyeluruh. AI bisa menjadi bagian dari solusi, tetapi bukan satu-satunya jawaban.

[TITLE_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.