📑 Daftar Isi

Foto tanda Abbott Laboratories di kantor pusat perusahaan

Abbott dan Google Health Rambah AI untuk Pantau Gula Darah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Abbott menjalin kemitraan multi-tahun dengan Google Health untuk menghubungkan CGM Lingo ke aplikasi Google Health
  • Data metabolik pengguna dapat dibagikan dengan Google Health Coach yang menawarkan rekomendasi berbasis AI
  • Lingo ditujukan untuk orang dewasa yang tidak menggunakan insulin
  • Studi Johns Hopkins menunjukkan manfaat CGM untuk non-diabetes masih belum jelas
  • Kedua perusahaan akan melakukan studi kesehatan metabolik dunia nyata terbesar hingga saat ini
  • Ahli menyarankan konsultasi dengan dokter sebelum mengubah kebiasaan kesehatan

Telset.id – Abbott resmi menjalin kemitraan multi-tahun dengan Google Health untuk menghubungkan perangkat continuous glucose monitor (CGM) Lingo ke aplikasi Google Health. Kolaborasi ini memungkinkan pengguna Lingo yang dijual bebas untuk melihat data metabolik mereka langsung di aplikasi Google Health, yang diklaim dapat membantu seseorang “membuat pilihan gaya hidup dan nutrisi yang lebih baik pada saat itu juga.”

Data Lingo juga dapat dibagikan dengan Google Health Coach, yang menawarkan rekomendasi berbasis AI berdasarkan informasi individu. Perlu dicatat, Lingo secara eksplisit ditujukan untuk orang dewasa yang tidak menggunakan insulin. Kemitraan ini menjadi langkah signifikan dalam upaya memperluas penggunaan teknologi pemantauan glukosa ke pasar non-diabetes.

Keputusan Abbott untuk berkolaborasi dengan Google Health ini memunculkan pertanyaan besar: seberapa bermanfaat sebenarnya pemantauan gula darah bagi mereka yang tidak menderita diabetes? Sebelumnya, Engadget telah melaporkan tren pertumbuhan penggunaan CGM oleh non-diabetes pada tahun 2023 dan menemukan sedikit penelitian yang mendukung manfaat pelacakan lonjakan gula darah secara ketat untuk populasi tersebut.

Tren CGM untuk Non-Diabetes dan Pertanyaan Manfaatnya

Artikel dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health yang diterbitkan awal tahun ini menegaskan kembali bahwa manfaat kesehatan dari CGM untuk non-diabetes masih belum jelas. Penggunaan perangkat ini mungkin dapat menjaga informasi nutrisi tetap diingat dan mendorong seseorang membuat pilihan diet yang lebih baik. Namun, karena tubuh non-diabetes mampu mengatur sebagian besar lonjakan glukosa, penekanan berlebihan pada gula darah justru dapat menyebabkan kebiasaan makan yang buruk dengan mencoba menjaga pembacaan tetap rendah secara tidak perlu.

Selain itu, mendapatkan interpretasi yang berguna dari hasil pembacaan bukanlah sesuatu yang seharusnya diharapkan dari orang awam. Saat Engadget berbicara dengan Idrees Mughal, yang dikenal di TikTok sebagai Dr. Idz, ia menekankan bahwa bahkan sebagai dokter medis terlatih, ia tetap ingin merujuk pada titik data tambahan untuk membuat penilaian dari hasil CGM. Bagi orang awam, “Anda bahkan tidak tahu cara menginterpretasikannya. Jadi itu akan benar-benar tidak berguna,” ujarnya kepada Engadget.

Kemitraan strategis antara Abbott dan Google ini berpotensi menghasilkan wawasan berguna tentang kasus penggunaan non-diabetes. Sebagai bagian dari kesepakatan mereka, kedua perusahaan akan “melakukan salah satu studi kesehatan metabolik dunia nyata terbesar hingga saat ini, mengintegrasikan data glukosa berkelanjutan, perangkat yang dapat dikenakan, laboratorium, dan data survei untuk mengungkap koneksi antara aktivitas, tidur, kesejahteraan, dan kesehatan metabolik, memberikan panduan yang lebih personal untuk mendukung keputusan sehari-hari yang lebih sehat.”

Foto tanda Abbott Laboratories di kantor pusatnya

Studi berskala besar ini merupakan bagian penting dari kesepakatan, karena dapat memberikan data nyata tentang bagaimana CGM memengaruhi perilaku dan hasil kesehatan pada populasi non-diabetes. Namun, tidak akan mengejutkan jika temuan tersebut justru mendorong lebih banyak orang untuk membeli perangkat Lingo atau berlangganan Google Health Premium. Ini menunjukkan bahwa di balik tujuan kesehatan, ada pula kepentingan komersial yang melekat pada kemitraan ini.

Implikasi Kemitraan Abbott dan Google Health

Kemitraan ini datang di tengah meningkatnya minat terhadap teknologi kesehatan personal. Google Health, dengan kemampuan AI dan integrasi ekosistemnya, menawarkan platform yang ideal untuk memperluas jangkauan Lingo. Sementara itu, Abbott membawa keahliannya dalam teknologi pemantauan glukosa yang telah mapan di pasar.

Bagi konsumen Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meskipun Lingo dan Google Health belum tentu tersedia di pasar lokal, tren ini menunjukkan arah industri kesehatan digital global. Integrasi data metabolik dengan asisten AI berpotensi mengubah cara orang memantau kesehatan mereka sehari-hari.

Namun, penting untuk diingat bahwa interpretasi data kesehatan bukanlah hal yang sederhana. Bahkan para ahli pun membutuhkan konteks tambahan untuk membuat penilaian yang akurat. Bagi masyarakat umum, ketergantungan berlebihan pada perangkat pemantau tanpa pemahaman yang memadai bisa menjadi pedang bermata dua.

Sebelumnya, Abbott juga pernah menjadi sorotan terkait isu keamanan data. Kasus peretasan yang melibatkan 22 juta catatan medis menjadi pengingat pentingnya aspek keamanan dalam pengelolaan data kesehatan. Kemitraan dengan Google Health ini tentu akan melibatkan pertukaran data sensitif, sehingga aspek privasi menjadi perhatian utama yang perlu dijawab oleh kedua perusahaan.

Di sisi lain, adopsi AI dalam layanan kesehatan juga menghadapi tantangan regulasi di berbagai negara. Kebijakan pembatasan yang semakin ketat di Amerika Serikat terkait infrastruktur data menunjukkan bahwa isu ini menjadi perhatian serius bagi regulator. Bagaimana Abbott dan Google Health menavigasi lanskap regulasi ini akan menentukan keberhasilan kemitraan mereka.

Yang jelas, kemitraan Abbott-Google ini menandai babak baru dalam integrasi teknologi AI dengan perangkat kesehatan konsumen. Studi berskala besar yang mereka rencanakan akan menjadi data penting yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis tentang efektivitas CGM untuk non-diabetes.

Pada akhirnya, meskipun teknologi ini menjanjikan kemudahan dalam memantau kesehatan, para ahli tetap menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter perawatan primer sebelum membuat perubahan apa pun pada kebiasaan kesehatan, termasuk diet. Data dari perangkat pintar sebaiknya digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti, nasihat medis profesional.

Kemitraan ini juga menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi besar semakin serius merambah sektor kesehatan. Dengan menggabungkan kekuatan perangkat keras Abbott dan ekosistem perangkat lunak Google, mereka berupaya menciptakan solusi kesehatan yang lebih terintegrasi dan personal. Namun, efektivitas dan dampak jangka panjangnya masih perlu dibuktikan melalui penelitian yang sedang berjalan.

Bagi industri, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa masa depan kesehatan digital akan semakin mengandalkan integrasi data dari berbagai sumber. Kemampuan untuk menggabungkan data glukosa, aktivitas fisik, pola tidur, dan data laboratorium dalam satu platform akan membuka peluang baru untuk personalisasi layanan kesehatan.

Sementara itu, konsumen perlu bijak dalam menyikapi tren ini. Teknologi memang dapat membantu, tetapi pemahaman yang benar tentang cara menggunakan dan menginterpretasikan data tetap menjadi kunci. Tanpa itu, perangkat secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat yang diharapkan.

Kesimpulannya, kemitraan Abbott dengan Google Health untuk pemantauan glukosa berbasis AI ini merupakan langkah maju yang menarik dalam teknologi kesehatan. Namun, manfaatnya bagi non-diabetes masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Studi yang mereka rencanakan akan menjadi penentu apakah teknologi ini benar-benar membawa perubahan positif atau sekadar tren sesaat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.