Telset.id – Kekhawatiran bahwa AI akan menghilangkan lapangan kerja terbantahkan oleh data terbaru dari Inggris. Lebih dari separuh (54%) bisnis di UK mengaku AI justru menciptakan pekerjaan baru di organisasi mereka, sekaligus memicu gelombang besar investasi pelatihan keterampilan.
Temuan ini berasal dari laporan Lloyds Business Barometer. Angka tersebut hadir di tengah meningkatnya adopsi AI yang dianggap sebagai kunci daya saing, keterampilan tenaga kerja, dan strategi pertumbuhan bisnis jangka panjang. Survei ini memberikan perspektif baru di tengah narasi umum yang selama ini didominasi kekhawatiran tentang PHK massal akibat otomatisasi.
Meski AI terbukti menciptakan peran baru, kesenjangan keterampilan masih menjadi tantangan besar. Sebanyak 31% bisnis mengakui tenaga kerja mereka saat ini masih kekurangan keterampilan AI yang dibutuhkan perusahaan. Kondisi ini mendorong 43% perusahaan untuk memperkenalkan pelatihan keterampilan AI formal, sementara 32% lainnya memperluas program yang sudah berjalan.
Selain itu, 24% perusahaan kini memprioritaskan keterampilan AI dalam proses rekrutmen, dan 21% lainnya menciptakan peran khusus yang sepenuhnya baru terkait AI. Langkah ini menunjukkan pergeseran strategis dari sekadar mengadopsi teknologi menjadi membangun kapabilitas internal secara menyeluruh.
Investasi di sektor ini diprediksi akan terus mengalir deras. Mayoritas (58%) bisnis berencana meningkatkan investasi di bidang alat dan pelatihan AI dalam dua belas bulan ke depan. Dari kelompok yang berencana menaikkan investasi tersebut, 42% menganggarkan dana antara £25.000 hingga £100.000, sementara 26% lainnya menyiapkan anggaran lebih besar, yakni £100.000 hingga £250.000.
Baca Juga:
Kesenjangan Adopsi antara Perusahaan Besar dan Kecil
Data Lloyds Business Barometer juga mengungkap perbedaan mencolok dalam adopsi AI berdasarkan ukuran perusahaan. Secara keseluruhan, hampir dua pertiga (61%) perusahaan di UK mengaku telah menggunakan AI dalam berbagai bentuk. Namun, tingkat adopsi ini sangat bervariasi.
Perusahaan besar dengan omzet tahunan di atas £10 juta melaporkan tingkat penggunaan AI rata-rata mencapai 79%, jauh di atas perusahaan kecil dan perusahaan yang hanya beroperasi di pasar domestik. Bahkan, hampir dua pertiga dari perusahaan besar ini menyatakan tenaga kerja mereka saat ini sudah memiliki keterampilan AI yang dibutuhkan.
Sebaliknya, perusahaan domestik kecil justru menghadapi hambatan berbeda. Biaya menjadi penghalang terbesar bagi 23% perusahaan domestik, sementara perusahaan internasional lebih sering menyebut kualitas data (19%) sebagai tantangan utama. Secara keseluruhan, biaya disebut oleh 18% bisnis sebagai hambatan paling umum, diikuti oleh kualitas data dan akses keterampilan yang masing-masing disebut 17% responden.
Motivasi investasi juga berbeda. Di antara perusahaan besar yang sudah menggunakan AI, 74% menyebut peningkatan produktivitas sebagai alasan utama untuk terus berinvestasi. Keyakinan akan pentingnya AI bagi daya saing juga kuat, dengan hampir enam dari sepuluh bisnis percaya bahwa perusahaan yang gagal mengadopsi AI berisiko tertinggal dari kompetitor dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, tingkat keyakinan ini kembali dipengaruhi ukuran perusahaan. Sebanyak 73% perusahaan besar setuju dengan pernyataan tersebut, dibandingkan hanya 54% dari perusahaan terkecil. Temuan ini menunjukkan bahwa kesenjangan adopsi AI berpotensi memperlebar jurang kompetitif antara pemain besar dan kecil di pasar.
Transformasi AI Butuh Lebih dari Sekadar Teknologi
Amanda Murphy, CEO Lloyds Business and Commercial Banking, menegaskan bahwa potensi AI bagi bisnis sangat besar. Menurutnya, AI memiliki potensi transformatif yang sebanding dengan dampak internet bagi dunia usaha. Namun, Murphy menekankan bahwa kesuksesan implementasi AI bergantung pada pembangunan keterampilan internal, budaya perusahaan, dan kepercayaan diri, bukan sekadar membeli teknologi baru.
Pernyataan ini relevan mengingat angka adopsi AI di ekonomi UK yang disebutkan meningkat lebih cepat dibandingkan kesiapan keterampilan tenaga kerja. Data menunjukkan bahwa kecepatan adopsi teknologi tidak diimbangi dengan kecepatan pengembangan kapabilitas sumber daya manusia.
Kondisi ini menciptakan situasi kritis bagi dunia usaha. Perusahaan yang mampu menutup kesenjangan keterampilan dengan cepat berpotensi meraih keunggulan kompetitif jangka panjang. Sebaliknya, mereka yang gagal beradaptasi berisiko tertinggal dalam persaingan pasar yang semakin mengandalkan kecerdasan buatan.
Data Lloyds Business Barometer ini menjadi sinyal penting bagi pasar tenaga kerja global, termasuk Indonesia. Alih-alih menghilangkan pekerjaan, AI justru mendorong terciptanya peran baru dan meningkatkan permintaan akan tenaga kerja yang memiliki keterampilan AI. Bagi para profesional, investasi dalam penguasaan keterampilan AI menjadi langkah strategis untuk menjaga relevansi di tengah transformasi digital yang semakin masif.





Komentar
Belum ada komentar.