Telset.id – DEF CON 2026, konvensi peretas tahunan yang digelar di Las Vegas, Nevada, baru saja usai. Dari sekian banyak sesi dan pameran, sejumlah perangkat anti-surveillance karya pengembang independen dan pakar keamanan siber berhasil mencuri perhatian. Alat-alat ini dirancang untuk merespons kekhawatiran publik yang meningkat terhadap pengawasan digital.
Berbagai inovasi seperti pendeteksi kamera otomatis, perangkat komunikasi terenkripsi tanpa internet, hingga pemindai spyware untuk ponsel pintar dipamerkan. Perangkat ini menjadi jawaban atas kebutuhan individu yang ingin melindungi privasi mereka dari pelacakan yang tidak diinginkan, baik oleh penegak hukum maupun aktor jahat.
Flock You dan OUI-SPY: Deteksi Kamera ALPR
Salah satu sorotan utama DEF CON 2026 adalah teknologi dari penggemar perangkat keras DIY yang dikenal sebagai “Colonel Panic”. Kamera Automated License Plate Reading (ALPR) milik Flock Safety menjadi pusat perbincangan keamanan siber sepanjang 2026. Kamera ini memindai pelat nomor secara diam-diam untuk mengirimkan peringatan otomatis ke penegak hukum.
Namun, laporan menunjukkan data Flock kerap disalahgunakan untuk melacak imigran, individu yang berpotensi mencari layanan aborsi, hingga memata-matai pasangan. Menanggapi hal ini, Colonel Panic mengembangkan firmware ringan bernama Flock-You yang dapat dipasang di mikrokontroler ESP32.
Pengguna dapat membeli chip ESP32 seharga USD 10 hingga USD 15, memuat firmware tersebut, dan menggunakannya untuk mendengarkan sinyal nirkabel yang memberi tahu saat kamera pengawas seperti Flock berada di dekatnya. Bagi yang tidak ingin repot dengan perakitan DIY, Colonel Panic juga menjual papan ESP32 kemasan dengan firmware Flock-You yang sudah dimuat sebelumnya. Perangkat ini disebut detektor OUI-SPY dan dapat dibeli dengan harga mulai dari USD 85 per unit.
Perlu dicatat, firmware Flock-You tidak akan berfungsi pada mikrokontroler Arduino atau Raspberry Pi karena keduanya disetel ke infrastruktur wifi dan Bluetooth spesifik ESP32. Kamera Flock juga telah disesuaikan untuk menghindari teknologi deteksi ini, sehingga kemungkinan besar hanya akan berfungsi pada model lama atau yang belum diperbarui.
Biscuit Ultra dan Rayhunter: Pisau Swiss Army Anti-Surveillance
Jika ada pisau Swiss Army untuk teknologi anti-surveillance, Biscuit Ultra kemungkinan besar adalah jawabannya. Perangkat genggam yang dirancang oleh peretas yang dikenal sebagai Hedge ini memindai sinyal nirkabel di sekitarnya untuk mencari tanda-tanda teknologi pengawasan. Informasi yang diberikan meliputi daftar semua jaringan wifi terdekat, kamera Flock atau Axon dalam jangkauan, serta peringatan jika perangkat yang sama terus muncul di mana pun pengguna pergi.
Fitur ketiga disebut-sebut paling berguna karena memberikan peringatan otomatis jika ponsel cerdas, pelacak, atau perangkat GPS yang sama mengikuti pengguna dari waktu ke waktu. Ini merupakan indikator yang baik untuk mengetahui apakah seseorang sedang dilacak secara aktif tanpa sepengetahuannya. Perangkat ini didesain agar tidak mencolok, menyerupai router genggam kecil dengan dua antena putar. Satu unit Biscuit Ultra dijual sekitar USD 160 di Biscuit Shop.
Sementara itu, Electronic Frontier Foundation (EFF) mengembangkan alat baru bernama Rayhunter untuk mendeteksi menara mencurigakan yang berpotensi menjadi Stingrays. Petugas federal diwajibkan mendapatkan surat perintah penggeledahan sebelum menggunakan alat ini, tetapi hal itu dinilai tidak cukup untuk menjaga privasi publik. Rayhunter dapat dijalankan di hotspot seluler apa pun yang tersedia di pasaran dengan biaya serendah USD 20. Pengguna hanya perlu memuat perangkat lunak gratis EFF ke dalam hotspot, dan alat tersebut akan menyala merah jika ada perilaku pelacakan mencurigakan dari menara di sekitarnya.
Selain itu, Exploitee.rs, kelompok riset keamanan siber yang berspesialisasi dalam keamanan IoT, memperkenalkan The Hacker Pager. Perangkat komunikasi radio ini tampak seperti ponsel cerdas bergaya retro dengan layar dan keyboard mekanis. Tidak seperti ponsel pada umumnya, perangkat ini tidak bergantung pada menara seluler atau konektivitas internet. The Hacker Pager menggunakan gelombang radio yang ditransmisikan dari perangkat ke perangkat berdasarkan firmware open-source bernama Meshtastic. Dengan pembaruan firmware 2026, perangkat ini kini mendukung keyboard Bluetooth eksternal, komunikasi multikanal, dan opsi kustomisasi suara notifikasi. Sinyalnya hanya dapat menjangkau hingga tiga puluh mil dengan asumsi ada garis pandang yang jelas tanpa halangan.
Perangkat menarik lainnya adalah Phasmid dari Makoto Sugita atau “Mr. Rabbit”. Sistem penyimpanan yang dapat disangkal ini masih berupa prototipe yang dapat membuat versi palsu dari penyimpanan file lokal. Phasmid adalah aplikasi Python open-source yang dapat diinstal pada perangkat yang membagi penyimpanan lokal menjadi dua slot: satu asli dan satu lagi versi palsu yang dirancang dengan data sensitif dihapus. Ketika seseorang mencoba memaksa secara fisik untuk menyerahkan perangkat, Phasmid memunculkan versi “aman” dari penyimpanan lokal. Versi macOS dari aplikasi ini sedang dalam pengembangan.
Terakhir, ada L.A.Y.E.R.S. yang dirancang oleh peneliti keamanan siber Abhinav Khanna dan Krishna Chaganti. Platform sisi-klien ini memindai ekstensi browser yang terpasang untuk memberikan skor risiko berdasarkan pola perilaku. L.A.Y.E.R.S. tersedia sebagai paket yang dapat diunduh di GitHub dan berjalan secara lokal di browser web tanpa mengirim data ke platform pihak ketiga. Setiap ekstensi yang terpasang dipindai untuk mencari permintaan izin mencurigakan, JavaScript atau HTML berbahaya, dan URL titik akhir eksternal yang berisiko. Hasilnya adalah skor risiko sederhana yang menilai setiap ekstensi antara satu hingga 100, dengan skor lebih rendah menunjukkan risiko keamanan lebih tinggi.
Anthony Desnos mengembangkan IsMyPhonePwned sebagai alternatif gratis untuk detektor spyware yang mahal. Alat ini adalah aplikasi web yang dapat dijalankan dari PC desktop. Pengguna dapat menghubungkan ponsel cerdas yang terinfeksi melalui USB, dan IsMyPhonePwned akan menghasilkan laporan bug. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada perangkat Android dan iOS. Jika mencurigai aplikasi tertentu sebagai spyware, ada juga alat bernama droid2web yang dapat memindai paket aplikasi Android secara terpisah. Fitur keamanan ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan digital di tengah maraknya ancaman siber.





Komentar
Belum ada komentar.