📑 Daftar Isi

Ilustrasi karyawan yang merasa frustrasi dan tidak nyaman dengan kebijakan return to office di kantor

72% Karyawan Curiga RTO Jadi Trik PHK Terselubung

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • 72% karyawan mencurigai mandat RTO sebagai cara perusahaan melakukan PHK terselubung melalui attrition
  • 46% pekerja mengaku melakukan praktik "coffee badging" (sapaan kartu lalu pergi)
  • 27,8% karyawan berhasil menegosiasikan pengecualian pribadi dari kebijakan RTO
  • Gen Z dan Milenial muda memiliki tingkat kepercayaan terendah terhadap motif perusahaan
  • 36% karyawan melamar pekerjaan baru dan 36% memulai bisnis sampingan sejak RTO diumumkan
  • 32% sengaja mengurangi output harian sebagai bentuk protes diam-diam
  • Laporan Enhancv menyurvei 1.000 pekerja full-time di Amerika Serikat

Telset.id – Sebuah laporan terbaru mengungkap fenomena “era baru sabotase di tempat kerja” yang dipicu oleh kebijakan return to office (RTO) yang dianggap tidak adil. Riset dari Enhancv menemukan bahwa hampir tiga perempat (72%) karyawan mencurigai mandat RTO hanyalah kedok untuk melakukan PHK terselubung melalui attrition terhadap karyawan yang tidak mau berkompromi dengan pengaturan kerja mereka.

Laporan yang menyurvei 1.000 pekerja full-time di Amerika Serikat yang mengalami kebijakan RTO baru atau lebih ketat dalam 12 bulan terakhir ini menunjukkan defisit kepercayaan yang besar antara karyawan dan manajemen. Situasi ini semakin diperparah dengan maraknya pemberitaan mengenai PHK terkait kecerdasan buatan (AI) yang terus menghantui dunia kerja.

Fenomena yang disebut “The Great Compliance” ini menggambarkan kondisi di mana karyawan hadir secara fisik di kantor hanya untuk memuaskan sistem pelacakan kehadiran, namun secara mental dan strategis mereka sudah “check out” dari pekerjaan. Enhancv mencatat bahwa mandat RTO yang ketat justru memicu perlawanan pasif dari karyawan, bukan meningkatkan kolaborasi seperti yang diharapkan perusahaan.

Annoyed in meeting

Resistensi Karyawan Terhadap Mandat RTO

Hampir setengah (46%) dari pekerja yang disurvei mengaku melakukan praktik “coffee badging”, yaitu menyapakan kartu akses masuk kantor lalu langsung pergi. Taktik ini telah menjadi standar di kalangan karyawan yang mencurigai agenda tersembunyi dari kebijakan RTO perusahaan mereka.

Menariknya, lebih dari seperempat (27,8%) karyawan yang diwawancarai berhasil menegosiasikan pengecualian pribadi terhadap kebijakan RTO. Kondisi ini menciptakan tenaga kerja dua tingkat yang terlihat jelas, di mana mereka yang tidak memiliki daya tawar mungkin merasa ditinggalkan atau diperlakukan tidak adil.

Situasi ini mengingatkan pada berbagai kontroversi kebijakan kerja jarak jauh yang pernah terjadi. Salah satunya adalah pelacakan lokasi karyawan oleh Microsoft Teams yang sempat memicu perdebatan, atau bahkan pemantauan lokasi lewat Wi-Fi yang dianggap melanggar privasi.

Dampak pada Generasi Muda

Kelompok pekerja yang paling terdampak adalah generasi muda. Survei menemukan bahwa Gen Z (usia 18-24) dan Milenial muda melaporkan tingkat kepercayaan terendah terhadap motif perusahaan. Skor kepercayaan rata-rata mereka hampir 20 poin lebih rendah dibandingkan rekan-rekan mereka dari generasi Baby Boomer.

Hal ini secara langsung menantang klaim bahwa mandat RTO penting untuk melatih generasi pekerja berikutnya. Salah satu responden survei menegaskan, “Gagasan bahwa kita harus hadir di kantor itu tidak masuk akal. Banyak yang datang hanya untuk bersosialisasi lalu pulang. Tidak ada pekerjaan yang lebih selesai di kantor dibandingkan di rumah.”

Enhancv memperingatkan bahwa dengan memaksa kehadiran fisik yang dianggap generasi ini sebagai tindakan performatif, perusahaan mungkin sedang memecahkan masalah real estate jangka pendek sambil menciptakan krisis retensi jangka panjang dengan talenta yang mereka klaim sedang mereka kembangkan.

Meningkatnya Fenomena “Great Exit”

Menambah kekesalan bagi para pengusaha, survei menemukan bahwa lebih dari sepertiga karyawan kini menggunakan waktu di kantor untuk melamar pekerjaan baru atau membangun bisnis sampingan sebagai jaring pengaman finansial. Sebanyak 36% mengaku telah melamar pekerjaan baru saat duduk di meja kantor mereka sendiri, dan jumlah yang sama (36%) telah memulai bisnis sampingan sejak mandat RTO diumumkan.

Mereka mencari “keamanan ekstra” di lingkungan yang sudah tidak mereka percaya. Selain itu, 32% responden juga mengaku sengaja mengurangi output harian mereka sebagai bentuk protes diam-diam.

“Paradoksnya bagi kepemimpinan sudah jelas: meja-meja yang mereka perebutkan untuk diisi kini digunakan sebagai panggung untuk Great Exit,” demikian kesimpulan laporan tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebijakan yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas justru mendorong karyawan untuk mencari solusi alternatif di luar perusahaan.

Man annoyed at laptop

Implikasi bagi Dunia Kerja

Laporan Enhancv ini memberikan gambaran jelas bahwa mandat RTO yang diterapkan tanpa mempertimbangkan kebutuhan karyawan justru kontraproduktif. Alih-alih membangun kolaborasi dan budaya perusahaan yang kuat, kebijakan tersebut memicu resistensi, penurunan produktivitas, dan meningkatnya niat karyawan untuk hengkang.

Perusahaan yang ingin mempertahankan talenta terbaiknya perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih fleksibel dan transparan dalam kebijakan kerja mereka. Kepercayaan karyawan adalah aset yang tidak bisa dibeli dengan kebijakan kehadiran yang kaku, dan laporan ini menunjukkan bahwa generasi pekerja saat ini semakin berani menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.