📑 Daftar Isi

A U.S. Air Force F-16 Fighting Falcon Block 40 aircraft in Iraq

USAF Cari Otak Baru F-16, Bertahan Sampai 2040-an

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • USAF cari Next-Generation Mission Compute untuk ganti Modular Mission Computer F-16 Block 40/42/50/52
  • Sistem baru berbasis Modular Open Systems Approach dan standar SOSA, mendukung GPU serta AI/ML
  • Seluruh 24 sesi industry day penuh pada 24 September 2026, sesi sensitif dibatasi 8 Oktober
  • Belum ada RFP resmi, status masih eksplorasi dengan program yang didanai
  • F-16 dijadwalkan bertugas hingga 2040-an, bahkan berpotensi terbang hingga 2048

Telset.id – US Air Force sedang mencari sistem komputasi baru untuk menggantikan otak jet tempur F-16 Fighting Falcon. Air Force Life Cycle Management Center F-16 program office akan memaparkan rencana Next-Generation Mission Compute (NGMC) kepada sejumlah perusahaan di Wright-Patterson Air Force Base, Ohio. Sistem ini ditujukan untuk menggantikan Modular Mission Computer pada jet Block 40, 42, 50, dan 52, yang menjadi inti armada Viper milik USAF.

Permintaan terhadap sesi penjelasan ini sangat tinggi. Seluruh 24 sesi satu lawan satu dengan tim program telah dipesan penuh pada 24 September 2026, dan pembaruan pada 8 Oktober membatasi sesi sensitif hanya untuk perusahaan yang tersertifikasi menerima data yang dikendalikan ekspor. Meski demikian, upgrade ini masih sebatas eksplorasi, bukan program yang sudah dikontrak. Belum ada request for proposals (RFP) yang diterbitkan USAF hingga saat ini.

Langkah ini menandai pergeseran besar dalam arsitektur avionik F-16. USAF menyebut NGMC sebagai “a strategic pivot from the current, monolithic avionics architecture” menuju desain berbasis software-defined yang dibangun dengan pendekatan Modular Open Systems Approach. Perangkat kerasnya harus memenuhi standar Sensor Open Systems Architecture (SOSA).

A U.S. Air Force F-16 Fighting Falcon Block 40 aircraft in Iraq

Dalam notice tersebut, USAF menginginkan sistem yang lebih modular dan modern di jantung salah satu jet tempur dengan performa terbaiknya, meski usianya sudah tidak muda. Mereka lebih memilih modul commercial off-the-shelf dibanding kartu custom, dan ingin memutus vendor lock agar upgrade prosesor serta penyimpanan di masa depan bisa datang dari banyak pemasok, bukan hanya satu.

Solusi yang diusulkan juga harus bersifat drop-in. NGMC wajib muat di ruang komputer yang ada dan, jika memungkinkan, menggunakan wiring yang sama. Sistem ini juga harus me-rehost Operational Flight Program (OFP) legacy, perangkat lunak yang mendefinisikan kemampuan jet. Ini bukan tugas mudah, mengingat pada 2017 US Air Force memberi tahu C4ISRNET bahwa komputer F-16 menjalankan sekitar enam juta baris kode. Mengingat sifat tugasnya, kegagalan di tengah penerbangan bukanlah pilihan.

Komponen AI dan Tantangan Rehosting Kode

Komponen AI dalam permintaan ini juga menonjol. Responden diminta menjelaskan bagaimana mereka akan memperluas pemrosesan, penyimpanan, serta sumber daya GPU dan AI/ML agar chassis tetap relevan selama bertahun-tahun. Permintaan ini lebih bersifat headroom, bukan misi spesifik. Tidak ada dokumen publik yang menjelaskan apa fungsi sebenarnya dari akselerator AI di atas Viper, dan persyaratan detailnya berada dalam lampiran yang dikendalikan ekspor dan tidak dipublikasikan.

Jika benar terealisasi, proses ini akan memakan waktu cukup lama. Komputer yang digunakan saat ini berakar dari Common Configuration Implementation Program, yang membawa sekitar 650 jet Block 40 hingga 52 ke standar avionik umum antara tahun 2000 dan 2010, menurut The Aviationist. Pada Desember 2016, US Air Force memilih Raytheon untuk Modular Mission Computer Upgrade. Raytheon menyebut sistem itu menawarkan lebih dari dua kali daya pemrosesan dan 40 kali memori, dan program manager-nya, Josh Cobbs, menyebutnya “a game changer for the F-16”. Layanan tersebut menyatakan upgrade baru akan diluncurkan pada 2022-23.

Catatan publik tidak menunjukkan revisi komputer misi mana yang digunakan setiap jet Post-Block, tetapi polanya jelas: setiap sensor baru menggerus headroom kotak di bagian tengah. Bahkan jet baru pun sedang disiapkan untuk penggantian berikutnya. Me-rehost kode lama ke silikon baru juga jarang berjalan mulus, menambah kompleksitas bagi siapa pun yang mengambil pekerjaan ini.

USAF konsisten soal timeline layanan F-16. Col. John D. Caldwell, yang saat itu menjabat vice commander of the 8th Fighter Wing, mengatakan pada April 2023 bahwa F-16 direncanakan bertugas hingga 2040-an, dan hal itu tampaknya belum berubah. Namun targetnya mungkin menjadi sedikit lebih ambisius. Pada 2017, setelah USAF menyetujui peningkatan design life F-16 dari 8.000 menjadi 12.000 flight hours, Lockheed Martin menyatakan pekerjaan life extension dapat menjaga hingga 300 jet Block 40 hingga 52 tetap terbang hingga 2048 dan seterusnya.

Terlepas dari itu, F-16 akan bertahan lebih lama dari kariernya di US Air Force. Sekitar 4.600 unit telah dibangun, lebih dari 2.100 masih aktif di 25 negara, dan 935 unit dalam layanan US Air Force pada awal 2024 membentuk sekitar setengah dari inventaris fighter mereka. Ini menunjukkan F-16 akan tetap ada setidaknya selama dua dekade ke depan.

F-47 fighter jet

Ketiadaan pengganti yang mumpuni pada dasarnya membuat jet yang lebih dikenal sebagai Viper ini terus melakukan pekerjaan berat, tidak hanya di USAF tetapi juga di banyak angkatan udara sekutu AS. Mengingat mahalnya biaya upgrade semacam ini, ditambah kompleksitasnya, otak baru Viper masih menjadi industry day yang sangat diminati sampai USAF secara eksplisit menyatakan berapa besar dana yang bersedia dikeluarkan dan berapa banyak jet yang akan mendapat manfaatnya, meski upgrade di masa depan tampak tak terhindarkan.

Bagi pengamat industri pertahanan dan teknologi, sinyal dari notice ini cukup jelas. USAF tidak sekadar mencari komponen pengganti, tetapi mengarah pada arsitektur yang lebih terbuka, modular, dan siap menampung kemampuan AI/ML di masa depan. Pendekatan Modular Open Systems Approach dan standar SOSA menunjukkan keinginan untuk menghindari ketergantungan pada satu vendor, sebuah pola yang semakin umum di sektor avionik modern.

Namun, hingga RFP resmi diterbitkan, semuanya masih dalam tahap eksplorasi. Statusnya adalah intention dengan program yang didanai, bukan kontrak yang sudah berjalan. Karena itu, industri masih menunggu kejelasan soal anggaran dan cakupan jet yang akan menerima upgrade ini.

[LOKASI GAMBAR: Gunakan gambar dengan role ‘body’ di lokasi relevan, misalnya gambar F-16 Block 40 di paragraf awal dan F-47 di bagian pembahasan pengganti.]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.