📑 Daftar Isi

Peta konseptual tiga dimensi Inggris dengan sentuhan futuristik yang menggambarkan infrastruktur digital

Tolak Data Center Inggris Membesar, Skotlandia Siap Moratorium

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Proyek data center 600MW di Auchertool, Skotlandia menuai 1.600+ keberatan warga
  • Parlemen Skotlandia mempertimbangkan moratorium pembangunan data center baru
  • Skotlandia menghasilkan 25%+ total listrik Inggris dengan harga lahan murah dan iklim dingin
  • Aturan baru mewajibkan notifikasi pemerintah untuk pembangunan di atas 50MW
  • Petisi penolakan data center di Norwich capai 12.000+ tanda tangan, Wales 4.500+, Irlandia Utara 5.000+
  • Inggris punya ±500 data center aktif, posisi ketiga setelah Jerman (±525) dan AS (3.600+)
  • Harga makanan naik 40%, air 50%, dan energi 70% sejak 2020, membebani warga Inggris
  • Data center ditetapkan sebagai infrastruktur kritis dengan prioritas air saat kekeringan
  • Biaya upgrade jaringan listrik dan air dibebankan ke tagihan konsumen rumah tangga

Telset.id – Rencana pembangunan pusat data (data center) terbesar kedua di dunia di Skotlandia menuai lebih dari 1.600 keberatan dari warga. Gelombang protes ini mendorong parlemen Skotlandia untuk mempertimbangkan moratorium pembangunan data center, sebuah langkah yang bisa mengubah arah strategi AI Inggris.

Proyek yang diusulkan di kota kecil Auchertool, Fife, ini memiliki kapasitas 600MW dan akan menutupi area seluas 170 hektar. Anggota parlemen Skotlandia untuk Kirkcaldy, David Torrance, menyatakan belum pernah melihat tingkat keberatan setinggi ini selama 25 tahun berkecimpung di dunia politik.

“Tekanan publik sangat besar. Saya belum pernah melihat tingkat keberatan terhadap rencana lokal seperti ini, dan saya sudah 25 tahun di politik,” ujar Torrance seperti dikutip The Guardian.

Skotlandia Primadona Baru Data Center

Skotlandia menjadi lokasi yang menarik bagi pengembang data center karena menghasilkan lebih dari seperempat total produksi listrik Inggris. Harga lahan yang murah dan iklim yang lebih dingin menjadi nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan kapasitas strategi AI Inggris.

Namun, kekhawatiran publik tidak bisa diabaikan. Selain Auchertool, kota Airdrie dan Larbert juga menentang pengembangan data center di wilayah mereka. Menteri Keuangan Publik Skotlandia, Hannah Mary Goodlad, telah menerbitkan aturan baru yang mewajibkan otoritas perencanaan memberi tahu pemerintah tentang pembangunan apa pun yang lebih besar dari 50MW.

Peta tiga dimensi konseptual futuristik abstrak Inggris dengan batas-batas negara

Sebagian data center juga harus menyerahkan penilaian lingkungan. Demonstrasi di Edinburgh direncanakan berlangsung pada awal September setelah parlemen Skotlandia kembali bersidang. Kampanye menentang data center sudah mulai disusun.

Jika parlemen Skotlandia memutuskan untuk mengesahkan moratorium, hal ini bisa menjadi pukulan telak bagi rencana ekspansi infrastruktur digital Inggris. Regulasi ketat terhadap pengembangan data center baru kini menjadi topik hangat di Holyrood.

Gelombang Penolakan di Seluruh Inggris

Penolakan terhadap data center tidak hanya terjadi di Skotlandia. Petisi yang menentang situs seluas 32 hektar dengan konsumsi listrik 150MW di Norwich telah mencapai lebih dari 12.000 tanda tangan hanya dalam dua bulan. Sementara itu, situs seluas 4,5 hektar di Wales dekat jalan raya M4 mengumpulkan hampir 4.500 tanda tangan.

Koridor panjang dengan lantai hitam ramping, lampu hijau menyala di langit-langit dan deretan LED di kedua dinding

Di Irlandia Utara, petisi menentang data center telah melampaui 5.000 tanda tangan. Sentimen di semua petisi ini sama: masyarakat tidak ingin wilayah mereka dipenuhi data center yang boros sumber daya, terutama ketika manfaat yang dijanjikan masih penuh ketidakpastian.

Inggris saat ini menempati posisi ketiga untuk data center aktif dengan sekitar 500 fasilitas, hanya sedikit di belakang Jerman yang memiliki sekitar 525, dan Amerika Serikat dengan lebih dari 3.600. Rencana Aksi Peluang AI pemerintah ingin meningkatkan jumlah ini agar Inggris menjadi “negara adidaya AI”.

Namun, penjualan ini sulit diterima publik Inggris. Pemerintah menjanjikan pertumbuhan ekonomi, lebih banyak lapangan kerja, dan peningkatan investasi asing. Sayangnya, janji-janji ini tidak banyak berarti bagi masyarakat yang sudah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejak 2020, harga makanan di Inggris naik hampir 40 persen. Dalam periode yang sama, rata-rata tagihan air naik 50 persen. Harga energi juga melonjak hingga 70 persen sejak dimulainya perang Iran. Kenaikan upah riil gagal mengimbangi inflasi, membuat rata-rata warga Inggris jauh lebih miskin dibandingkan enam tahun lalu.

Data center

Pembangunan massal data center di seluruh Inggris hanya akan memperburuk masalah ini. Upgrade infrastruktur jaringan listrik untuk menyesuaikan kapasitas data center dibayar melalui kenaikan tagihan rumah tangga. Produksi energi yang meningkat untuk menyalakan data center juga akan menambah beban tagihan listrik.

Infrastruktur air juga harus ditingkatkan untuk memasok pendinginan data center, dan sebagian besar biayanya akan ditambahkan ke tagihan konsumen. Badan perdagangan air Inggris menuduh pemerintah gagal memperhitungkan pembangunan AI dalam perkiraan kebutuhan air masa depan.

Pemerintah telah menetapkan data center AI sebagai infrastruktur kritis. Artinya, selama kekeringan atau kekurangan air, data center akan mendapat prioritas saat gelombang panas dan larangan penggunaan selang. Pemerintah juga memberikan data center kemampuan untuk melewati peraturan bangunan.

Janji kemakmuran ekonomi pun jatuh ke telinga yang tuli. Ekonomi mungkin tumbuh dan PDB mungkin naik, tetapi keduanya tidak secara langsung menguntungkan pekerja biasa. Jika pemerintah ingin rakyat mendukung proyek pertumbuhan AI, mereka perlu menawarkan imbalan yang nyata dan terasa langsung kepada publik Inggris.

Perlawanan publik terhadap data center telah menelan biaya besar bagi perusahaan teknologi. Gelombang penolakan ini menunjukkan bahwa operator data center harus serius mempertimbangkan populasi lokal untuk bisa sukses. Pertanyaan mendasar bukan lagi apakah kita membutuhkan data center, tetapi di mana seharusnya data center dibangun.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.