Telset.id – Google Maps resmi mengubah nama Lake Ontario menjadi Lake America bagi pengguna di Amerika Serikat. Perubahan ini merupakan hasil dari perintah eksekutif (executive order) dari Gedung Putih di tengah ketegangan antara Presiden Donald Trump dan Kanada terkait tarif perdagangan.
Kebijakan ini hanya berlaku bagi pengguna yang mengakses Google Maps dari dalam wilayah AS. Sementara itu, pengguna di luar AS tetap melihat nama asli Lake Ontario, danau yang membentang di perbatasan AS-Kanada tersebut.
Nama Ontario sendiri kemungkinan besar berasal dari kata Iroquoian Kaniatarí:io atau Oniatarí:io yang berarti “danau air yang berkilau” atau “danau yang indah”. Nama ini telah digunakan sejak abad ke-17.

Perubahan nama ini menjadi kontroversi kedua yang dipicu oleh pemerintahan Trump setelah sebelumnya Teluk Meksiko (Gulf of Mexico) juga diganti namanya sekitar 18 bulan lalu. Kini giliran Lake Ontario yang menjadi korban kebijakan politik.
Respons Kanada dan Reaksi Publik
Pemerintah Kanada merespons kebijakan ini dengan memasang papan besar di tepi danau yang bertuliskan “Lake Ontario. Now and Always” atau “Lake Ontario. Sekarang dan Selamanya”. Langkah ini menjadi simbol penolakan terhadap perubahan nama yang dianggap mengabaikan sejarah dan kedaulatan Kanada.
Reaksi warganet di Reddit pun tidak kalah keras. Banyak yang menyebut perubahan ini “beyond ridiculous” atau “braindead”. Namun, sebagian komentator juga mengingatkan bahwa Google berkewajiban mengikuti arahan dari US Board on Geographic Names yang merupakan bagian dari United States Geological Survey.
Google sendiri angkat bicara terkait kebijakan ini. Pihak perusahaan menegaskan bahwa mereka harus mengikuti “sumber resmi pemerintah” dalam hal penamaan tempat. Google juga menyatakan bahwa pembaruan ini mengikuti kebijakan jangka panjang mereka untuk badan air yang memiliki nama berbeda di tiap negara.
“Orang yang menggunakan Maps di AS akan melihat ‘Lake America’, mereka yang di Kanada akan terus melihat ‘Lake Ontario’, dan mereka yang di luar AS dan Kanada akan melihat kedua nama tersebut,” demikian bunyi pernyataan resmi dari blog Google Maps.
Penolakan dari Pemerintah Negara Bagian
Tidak semua pihak di AS menerima perubahan ini. Gubernur New York, Kathy Hochul, dengan tegas menyatakan melalui media sosial bahwa “New York tidak akan menyebutnya [Lake America]”. Pernyataan ini menunjukkan adanya resistensi di tingkat negara bagian terhadap kebijakan federal.
Hingga saat ini, perubahan nama tersebut belum diterapkan di Apple Maps. Namun, besar kemungkinan platform navigasi milik Apple tersebut pada akhirnya juga harus mengikuti kebijakan resmi pemerintah dan mulai mengganti nama Lake Ontario tergantung lokasi pengguna mengakses peta.
Kontroversi penamaan ini menjadi contoh bagaimana kebijakan politik dapat berdampak langsung pada layanan teknologi yang digunakan miliaran orang setiap hari. Google Maps sebagai platform navigasi terbesar di dunia tidak punya pilihan selain mematuhi kebijakan resmi pemerintah setempat, meskipun hal tersebut menimbulkan perdebatan di kalangan pengguna.
Perubahan nama Lake Ontario menjadi Lake America ini juga menunjukkan bagaimana teknologi peta digital kini menjadi medan baru dalam perselisihan politik antarnegara. Apa yang sebelumnya hanya menjadi urusan diplomatik kini ikut memengaruhi pengalaman pengguna aplikasi sehari-hari.
Bagi pengguna Google Maps di Indonesia, perubahan ini tidak akan terlihat karena hanya berlaku untuk pengguna di AS. Namun, kebijakan semacam ini bisa menjadi preseden bagi perubahan nama tempat lain di masa mendatang, tergantung arah politik di negara masing-masing.
Seiring waktu, kemungkinan besar Apple Maps juga akan mengikuti kebijakan serupa untuk konsistensi dengan sumber resmi pemerintah. Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari Apple mengenai rencana perubahan nama tersebut.
Perlu dicatat bahwa kebijakan penamaan tempat di Google Maps selalu mengacu pada sumber resmi pemerintah dari masing-masing negara. Ini berarti jika suatu negara secara resmi mengubah nama suatu tempat, Google akan mengikuti perubahan tersebut untuk pengguna di negara itu.
Kasus Lake Ontario ini menunjukkan bahwa kebijakan tersebut bisa menjadi kontroversial ketika menyangkut wilayah yang menjadi sengketa atau memiliki sejarah panjang dengan nama tertentu. Kanada jelas tidak setuju dengan perubahan ini, tetapi Google tidak punya pilihan selain mematuhi kebijakan pemerintah AS.
Reaksi dari berbagai pihak, termasuk Gubernur New York yang menolak menggunakan nama baru tersebut, menunjukkan bahwa perubahan nama secara digital tidak serta-merta mengubah cara masyarakat menyebut suatu tempat. Resistensi lokal bisa menjadi penghalang efektif bagi penerimaan nama baru di masyarakat.
Kontroversi ini juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana platform teknologi global harus bersikap ketika kebijakan pemerintah bertentangan dengan sentimen publik atau sejarah suatu wilayah. Google tampaknya memilih jalur aman dengan mengikuti kebijakan resmi, sambil tetap menampilkan nama lama bagi pengguna di luar AS.
Dengan pendekatan ini, Google berusaha mengakomodasi semua pihak meskipun tidak bisa memuaskan semua orang. Pengguna di Kanada tetap melihat Lake Ontario, pengguna di AS melihat Lake America, dan pengguna di negara lain melihat kedua nama tersebut sekaligus.
Keputusan Google untuk menampilkan kedua nama bagi pengguna di luar AS dan Kanada bisa menjadi solusi kompromi yang cukup elegan, meskipun tetap menuai kritik dari berbagai pihak yang menganggap perubahan ini tidak perlu dan hanya membuang-buang sumber daya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada informasi lebih lanjut mengenai bagaimana Apple Maps akan menangani perubahan ini. Namun, dengan adanya kebijakan resmi pemerintah AS, kemungkinan besar platform tersebut akan mengikuti langkah serupa dalam waktu dekat.





Komentar
Belum ada komentar.