Telset.id – Otoritas Singapura menahan empat individu terkait dugaan penyelundupan chip AI Nvidia ke China, yang melibatkan pencucian uang dan penipuan. Kasus ini mencuat setelah penyelidikan Amerika Serikat terhadap DeepSeek, perusahaan AI China yang meluncurkan model frontier pada akhir 2024, mengungkap jaringan pengiriman chip ilegal melalui Singapura.
Dua warga negara Singapura, Lim Jenny dan Woon Guo Jie Aaron, didakwa dengan pencucian uang oleh otoritas setempat. Menurut laporan Nikkei Asia, masing-masing dari mereka memiliki lebih dari USD 926 ribu (SGD 1,2 juta) di rekening bank yang merupakan hasil dari aktivitas kriminal. Polisi juga menyita sebuah rumah mewah senilai USD 42 juta (SGD 55 juta) yang dibeli menggunakan dana hasil pencucian uang tersebut, serta membekukan USD 772 ribu (SGD 1 juta) di rekening bank lainnya.
Selain itu, Woon bersama warga Singapura lainnya, Wei Zhaolun Alan, dan warga negara China, Li Ming, menghadapi tuduhan penipuan atas peran mereka dalam membeli server AI dan kemudian meneruskannya ke China. Penyelidikan AS dimulai ketika meneliti DeepSeek setelah perusahaan tersebut merilis model AI canggihnya pada akhir 2024. Pejabat AS memeriksa apakah perusahaan AI China itu menggunakan perusahaan pihak ketiga yang berbasis di Singapura untuk mendapatkan GPU Nvidia yang dilarang diekspor ke China pada saat itu.
Penyelidikan menunjukkan bahwa meskipun Singapura menyumbang sekitar 28% pendapatan Nvidia, hanya 1% dari produk tersebut yang benar-benar dikirim ke negara itu. Investigasi akhirnya mengarah pada penangkapan Woon, Wei, dan Li pada kuartal pertama 2025.
Pemerintah Singapura menyatakan bahwa meskipun mereka tidak memiliki kewajiban hukum untuk menegakkan kontrol ekspor negara lain, mereka mengharapkan bisnis yang beroperasi di wilayahnya untuk menghormati hukum tersebut. “Polisi memiliki sikap tanpa toleransi terhadap pelanggaran semacam itu dan akan bertindak tegas terhadap mereka, baik bisnis maupun individu, yang melanggar hukum kami, dan menjaga integritas Singapura sebagai pusat keuangan dan bisnis global yang tepercaya yang didasarkan pada supremasi hukum,” demikian pernyataan polisi Singapura.
Karena hukum Singapura tidak mencakup kontrol ekspor AS, jaksa penuntut mendakwa mereka dengan penipuan dan pencucian uang. Keempat individu tersebut diduga memiliki peran dalam menyalahgunakan informasi pengguna akhir dari server yang mereka beli dari Dell, Supermicro, dan Asus. Wei juga menghadapi tuduhan pencucian uang terpisah terkait USD 4,5 juta (SGD 5,8 juta) yang disimpan di rekening bank pribadinya, yang diduga merupakan hasil dari aktivitas kriminal.
Para tersangka dapat menghadapi hukuman penjara hingga 20 tahun masing-masing dan denda hingga USD 385 ribu (SGD 500 ribu) jika terbukti bersalah. Kasus ini menjadi sorotan internasional karena melibatkan aliran teknologi canggih yang sensitif dan dampaknya terhadap keamanan nasional.
Baca Juga:
Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kepatuhan ekspor dan peran Singapura sebagai pusat transit. Konektivitas 5G dan teknologi canggih lainnya menjadi fokus utama dalam ekonomi Asia Pasifik, namun penyelundupan chip AI menunjukkan celah dalam pengawasan. Bocoran Lengkap tentang perangkat terbaru seperti Oppo Reno 15 Series juga menarik perhatian, namun isu ini lebih serius karena menyangkut keamanan teknologi.
Penyelidikan lebih lanjut oleh otoritas Singapura dan AS diharapkan dapat mengungkap jaringan yang lebih luas. Soundbar Creative yang menjadi celah keamanan menunjukkan bahwa kerentanan teknologi bisa muncul dari berbagai sisi, termasuk dalam rantai pasokan chip AI.
Para pelaku diduga menggunakan perusahaan cangkang dan rekening bank di Singapura untuk menyembunyikan asal-usul dana dan perangkat. Properti mewah yang disita menunjukkan skala keuntungan yang diperoleh dari kegiatan ilegal ini. Pemerintah Singapura menegaskan komitmennya untuk memberantas pencucian uang dan melindungi reputasinya sebagai pusat keuangan global.
Kasus ini juga menyoroti ketegangan antara AS dan China dalam hal teknologi AI. DeepSeek, yang menjadi pemicu penyelidikan, adalah perusahaan AI China yang berkembang pesat. Penggunaan GPU Nvidia yang dilarang untuk pelatihan model AI menunjukkan betapa pentingnya akses ke teknologi canggih bagi perusahaan AI China.
Dengan hukuman maksimal hingga 20 tahun penjara, para tersangka menghadapi konsekuensi serius. Kasus ini menjadi peringatan bagi individu dan perusahaan yang terlibat dalam penyelundupan teknologi dan pencucian uang. Singapura bertekad untuk menjaga supremasi hukum dan integritasnya sebagai pusat bisnis global.
Penyelidikan masih berlangsung, dan kemungkinan akan ada lebih banyak tersangka yang terungkap. Kasus ini juga dapat mempengaruhi hubungan diplomatik antara Singapura, AS, dan China, terutama dalam hal kontrol ekspor teknologi. Masyarakat internasional akan mengawasi perkembangan kasus ini dengan saksama.





Komentar
Belum ada komentar.