📑 Daftar Isi

Ilustrasi trojan perbankan Android RedHat dengan komponen AI asisten

RedHat, Trojan Android Ber-AI Asisten Curi Data Perbankan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • RedHat, trojan Android asal China, ditemukan Zimperium zLabs
  • Dilengkapi AI asisten yang baca layar real-time
  • Curi kredensial login dan OTP lewat overlay tak terlihat
  • Disebar via toko pihak ketiga, medsos, malvertising, SMS spam
  • Butuh izin Accessibility untuk beroperasi
  • Blokir uninstall dan pasang ulang komponen terhapus
  • Target dan jumlah korban belum diketahui

Telset.id – Sebuah malware Android bernama RedHat ditemukan membawa komponen AI yang berfungsi sebagai asisten untuk mengendalikan perangkat korban secara real-time. Temuan ini diungkap oleh peneliti keamanan Zimperium zLabs, yang meyakini malware tersebut berasal dari China. Kehadiran AI di dalam trojan perbankan ini membuat operasinya jauh lebih adaptif dibanding malware konvensional dan lebih sulit dideteksi oleh perangkat lunak keamanan.

RedHat saat ini disebarkan melalui sejumlah jalur, mulai dari toko aplikasi pihak ketiga, media sosial, malvertising, hingga SMS spam. Agar bisa beroperasi, malware ini membutuhkan izin Accessibility pada perangkat Android korban. Setelah izin tersebut diberikan, RedHat bekerja sebagai trojan perbankan tipikal yang membuat overlay tak terlihat setiap kali korban membuka aplikasi bank.

Melalui overlay tersebut, RedHat menangkap kredensial login dan one-time password (OTP). Hasilnya, penyerang mendapatkan kendali langsung atas akun perbankan korban. Ancaman ini menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya serangan siber terhadap perangkat Android yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

AI Jadi Mata dan Tangan Jarak Jauh

Yang membedakan RedHat dari lautan trojan perbankan Android lainnya adalah komponen bertenaga AI di dalamnya. Model AI tersebut berperan sebagai semacam “mata dan tangan” jarak jauh untuk mengendalikan ponsel korban. Selama ini, ketika kriminal mengembangkan trojan perbankan, mereka perlu menuliskan koordinat persis dari tata letak aplikasi agar malware bisa bekerja. Mereka harus mengodekan di mana kata sandi dimasukkan, atau di mana tombol login berada.

Jika aplikasi bank didesain ulang dan mengubah tata letaknya, malware tersebut pun rusak dan berhenti berfungsi. Dengan AI, masalah itu tidak lagi menjadi hambatan. RedHat mengambil gambar dari apa yang tampil di layar, mengirimkannya ke asisten AI, yang kemudian menginstruksikan malware tentang langkah selanjutnya.

Trojan

“RatHat menggunakan AI untuk menavigasi dan mengendalikan antarmuka perangkat secara cerdas dan real-time, membuat operasinya lebih adaptif dan lebih sulit dideteksi oleh perangkat lunak keamanan dibanding otomatisasi terprogram tradisional,” jelas Zimperium.

Asisten AI tersebut tampak independen dari operator malware. Artinya, alat ini dapat bekerja tanpa mengharuskan operator berada di tempat pada waktu yang sama. Kondisi ini membuat model operasi RedHat berbeda dari trojan perbankan yang bergantung pada kehadiran manusia secara langsung.

Mekanisme Persistensi Cegah Uninstall

Selain komponen AI, RedHat juga dilengkapi sejumlah mekanisme persistensi yang terbilang canggih. Malware ini mampu memasang ulang komponen yang telah dihapus, sehingga keberadaannya sulit dibersihkan dari perangkat. RedHat juga dapat mencegat proses uninstall untuk membatalkannya, sambil menampilkan pesan kesalahan palsu kepada korban yang mengira aplikasi telah dihapus.

malware

Kemampuan tersebut menjadikan RedHat lebih berbahaya dibanding trojan perbankan biasa. Korban yang mencoba menghapusnya justru dihadapkan pada pesan error palsu, sementara malware tetap aktif di latar belakang. Hingga saat ini, belum ada keterangan mengenai siapa target serangan RedHat maupun berapa banyak orang yang mungkin telah menjadi korban.

Keberadaan asisten AI dalam malware ini menunjukkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan kini dimanfaatkan untuk memperkuat serangan siber. Sebelumnya, sejumlah pakar juga memperingatkan bahwa pelaku kejahatan memakai chatbot AI untuk menulis malware menggunakan bahasa alami. Pola ini memperlihatkan pergeseran cara kerja kriminal siber yang semakin mengandalkan otomatisasi cerdas.

Bagi pengguna Android, keberadaan RedHat menjadi pengingat bahwa izin Accessibility sebaiknya tidak diberikan sembarangan kepada aplikasi yang tidak dikenal. Penyebaran lewat toko aplikasi pihak ketiga, media sosial, malvertising, dan SMS spam menuntut kehati-hatian ekstra saat memasang aplikasi di luar sumber resmi. Pengguna juga perlu mewaspadai aplikasi yang meminta izin aksesibilitas tanpa alasan yang jelas, karena izin inilah yang menjadi pintu masuk utama kerja RedHat.

Distribusi melalui SMS spam dan malvertising juga membuat RedHat berpotensi menjangkau korban tanpa mereka sadari. Kombinasi antara overlay tak terlihat, kemampuan AI untuk membaca tata letak layar, serta mekanisme persistensi yang memblokir uninstall menjadikan malware ini sebagai ancaman yang perlu diantisipasi serius oleh pengguna perangkat Android.

Sampai kini, Zimperium zLabs belum mengungkap detail lebih lanjut soal cakupan infeksi maupun pihak yang bertanggung jawab. Yang jelas, temuan ini menegaskan bahwa trojan perbankan Android telah berevolusi ke level yang lebih sulit dilawan, dengan AI sebagai komponen inti yang membuatnya lebih lincah dan tahan lama di perangkat korban.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.