AWS data center

Proyek Data Center Amazon di Gilroy Lolos Tanpa Banyak Diketahui Warga

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Proyek data center Amazon di Gilroy, California memicu kekhawatiran warga karena lolos tanpa banyak diketahui publik
  • Situs seluas 56 hektar ini lolos dengan mematuhi aturan zonasi yang ditetapkan 45 tahun lalu
  • Warga Rosa Rodriguez tidak bisa menyampaikan keberatan karena periode komentar telah berakhir pada 2024
  • Wali Kota Greg Bozzo membela proyek dengan menyebut manfaat pajak, lapangan kerja, dan donasi
  • Amazon membangun sistem pemulihan air limbah untuk mengatasi kekhawatiran kekurangan air
  • Kasus ini menyoroti celah regulasi dan kurangnya transparansi dalam pembangunan infrastruktur besar

Telset.id – Sebuah proyek data center Amazon di Gilroy, California, Amerika Serikat, telah memicu kekhawatiran warga setempat. Pasalnya, pembangunan yang dimulai bulan lalu tersebut berhasil lolos dari proses pengawasan publik yang ketat, meskipun berpotensi memberikan dampak besar pada komunitas sekitar.

Kejadian ini menjadi sorotan karena banyak proyek serupa di seluruh Amerika Serikat yang justru menghadapi penolakan dan penundaan. Namun, situs data center Amazon di Gilroy ini berhasil menghindari pengawasan ketat dengan mematuhi aturan zonasi lokal yang telah ditetapkan 45 tahun lalu, sebagaimana dilaporkan oleh Wall Street Journal.

Proyek Amazon tersebut berlokasi di lahan pertanian seluas 56 hektar yang berada di antara Walmart Supercenter dan Gilroy Premium Outlets. Proses pengajuan aplikasi proyek ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2020, dan tidak sepenuhnya dirahasiakan dari publik. Bahkan, sempat terjadi perbedaan pendapat antara raksasa teknologi ini dengan pemerintah kota selama proses perizinan berlangsung.

Beberapa pejabat Amazon dilaporkan merasa frustrasi dengan lambatnya proses perizinan yang tertunda setidaknya satu tahun. Di sisi lain, pihak kota juga menolak beberapa permintaan perusahaan, terutama yang dianggap tidak lagi relevan untuk dibahas.

Roger Wehner, wakil presiden pengembangan ekonomi Amazon Web Services, menjelaskan kepada WSJ bahwa situs tersebut telah melalui proses persetujuan yang panjang, termasuk pemberitahuan publik dan periode komentar publik. Namun, ketika warga Gilroy bernama Rosa Rodriguez ingin menyampaikan kekhawatirannya tentang kerusakan yang dapat ditimbulkan data center di wilayah yang mengalami kekeringan, ia diberitahu bahwa periode komentar telah berakhir pada 2024, jauh sebelum data center menjadi topik hangat di seluruh negeri.

AWS data center

Wali Kota Gilroy, Greg Bozzo, menyatakan bahwa proyek industri lain dengan skala serupa sebelumnya telah disetujui tanpa perlawanan. β€œTidak mengganggu mereka bahwa pusat distribusi makanan datang ke Gilroy tanpa keterlibatan mereka, tetapi sekarang mengganggu mereka bahwa data center datang ke Gilroy tanpa kemungkinan keterlibatan,” ujar Bozzo.

Meski demikian, Bozzo mengakui bahwa masyarakat kini lebih sadar akan perkembangan data center. β€œKami memiliki kesempatan untuk mengubah cara kami berbisnis di Gilroy. Kami beradaptasi dengan zaman,” tambahnya.

Amazon juga mengklaim telah melakukan pendekatan lebih intensif kepada komunitas. Para pejabat perusahaan mengaku telah bertemu langsung dengan warga dan bahkan mengadakan open house di mana masyarakat dapat mengajukan pertanyaan dan meninggalkan komentar. Perusahaan juga menanggapi kekhawatiran tentang potensi kekurangan air dengan menyatakan sedang membangun sistem pemulihan air limbah untuk memenuhi kebutuhan airnya. Amazon bahkan akan membangun pipa untuk mengalirkan air limbah dari sumbernya ke pabrik mereka.

Bozzo juga menyoroti manfaat yang akan dibawa Amazon ke kota, termasuk peningkatan pendapatan pajak, lapangan kerja konstruksi, dan donasi satu juta dolar untuk truk pemadam kebakaran baru. Ia juga menyebutkan bahwa Amazon telah memberikan hibah kepada organisasi nirlaba di kota serta mensponsori festival tahunan Gilroy Garlic Festival.

Namun, inti permasalahan yang dihadapi warga Gilroy saat ini bukanlah keberadaan data center Amazon itu sendiri. Yang menjadi persoalan utama adalah kenyataan bahwa sebuah proyek besar yang berpotensi memberikan dampak signifikan pada komunitas telah disetujui tanpa sepengetahuan banyak warga.

Kasus ini menunjukkan adanya celah dalam sistem perizinan yang memungkinkan proyek besar lolos tanpa keterlibatan publik yang memadai. Ketika aturan zonasi dibuat puluhan tahun lalu, mungkin belum ada yang membayangkan akan munculnya fasilitas data center dengan dampak sebesar ini. Situasi ini juga menggambarkan tantangan yang dihadapi banyak kota di Amerika Serikat dalam menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan hak masyarakat untuk mengetahui dan berpartisipasi dalam keputusan yang memengaruhi lingkungan mereka.

Bagi Amazon, proyek ini merupakan bagian dari ekspansi infrastruktur cloud yang terus berlanjut. Perusahaan telah menghadapi berbagai tantangan di lokasi lain, termasuk penggunaan teknologi AI yang semakin masif. Sementara itu, biaya operasional data center juga menjadi perhatian, mengingat biaya AI Amazon yang membengkak dalam beberapa proyek.

Proyek data center di Gilroy ini menjadi contoh bagaimana perusahaan teknologi besar dapat memanfaatkan regulasi lama untuk membangun infrastruktur penting tanpa harus melalui proses konsultasi publik yang ekstensif. Meskipun secara hukum hal ini sah, namun menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan partisipasi publik dalam pembangunan yang berdampak luas.

Ke depannya, kasus Gilroy ini bisa menjadi pelajaran bagi kota-kota lain tentang pentingnya memperbarui aturan zonasi agar sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, perusahaan teknologi juga perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih transparan dalam mengkomunikasikan rencana pembangunan mereka kepada masyarakat sejak awal.

Sementara itu, Amazon terus menghadapi berbagai tantangan hukum dan regulasi di berbagai wilayah, termasuk gugatan dari Jaksa Agung New Jersey terkait praktik monopsoni. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa ekspansi besar-besaran perusahaan teknologi selalu menarik perhatian publik dan regulator.

Warga Gilroy kini harus menerima kenyataan bahwa data center Amazon akan segera beroperasi di kota mereka. Meskipun ada kekhawatiran tentang dampak lingkungan dan perubahan karakter kota, ada juga harapan akan manfaat ekonomi yang dibawa oleh kehadiran perusahaan teknologi raksasa tersebut.

Yang jelas, kasus ini telah membuka diskusi yang lebih luas tentang bagaimana proyek infrastruktur teknologi besar seharusnya dikelola dan dikomunikasikan kepada publik. Transparansi dan partisipasi masyarakat menjadi kunci untuk memastikan bahwa pembangunan berjalan seimbang dengan kepentingan semua pihak.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.