Telset.id â Oppo menyiapkan strategi premiumisasi agresif di pasar Eropa melalui kehadiran seri flagship terbarunya, Oppo Find X10 dan Find X10 Pro Max. Langkah ini menjadi taruhan besar Oppo untuk menantang dominasi Apple dan Samsung di segmen premium, di tengah kondisi industri smartphone global yang sedang tidak bersahabat.
Ambisi tersebut disampaikan langsung oleh Elvis Zhou, CEO of Oppo Europe, dalam wawancara roundtable bersama TechRadar. Menurut Zhou, pasar premium Eropa saat ini dikuasai oleh dua merek besar, dan Oppo ingin hadir sebagai opsi ketiga yang berbeda.
âPasar premium Eropa didominasi oleh dua merek. Saya percaya konsumen lokal Eropa akan tertarik pada opsi ketiga yang bagus,â ujar Zhou, seperti dikutip dari TechRadar. Meski tidak menyebut nama, dua merek yang dimaksud merujuk pada Apple dan Samsung.
Data Counterpoint Research yang dipublikasikan menunjukkan bahwa Q3 2026âperiode Juli hingga Septemberâmenjadi kuartal ketiga dengan penjualan smartphone terendah dalam 14 tahun. Merek penantang seperti Oppo, Xiaomi, dan Vivo mengalami penurunan pangsa pasar dibanding periode yang sama pada 2025. Hanya Apple dan Samsung yang berhasil menumbuhkan pangsa pasar mereka pada periode tersebut, meski keduanya juga mengalami penurunan penjualan tahunan.
Strategi Premiumisasi dan Tiga Tren Konsumen
Oppo menegaskan tidak datang untuk menggantikan posisi dua merek mapan. Zhou menyatakan pihaknya hadir untuk menawarkan pengalaman yang berbeda di pasar premium, bukan menjual smartphone yang lebih murah.
âKami tidak hadir untuk mengatakan akan menggantikan salah satu merek mapan ini. Tidak. Kami hadir untuk menawarkan opsi ketiga yang berbeda. Saya percaya, di masa depan, persaingan antar produk flagship bukan tentang harga; kami tidak hadir untuk menjual smartphone yang lebih terjangkau. Kami hadir untuk menawarkan pengalaman yang berbeda untuk pasar premium,â jelas Zhou.
Oppo mengidentifikasi tiga tren yang diyakini bisa menguntungkan posisinya di Eropa. Pertama, konsumen muda di Eropa siap membeli smartphone secara online, yang membuka peluang bagi Oppo untuk berinteraksi langsung dengan mereka.
Kedua, generasi muda meragukan iklan dan lebih mempercayai pengalaman pengguna nyata yang dibagikan di media sosial. Menurut Zhou, hanya produk bagus yang bisa menghasilkan testimoni organik yang meyakinkan.
Ketiga, konsumen muda bertanya kepada alat AI dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Zhou mengklaim lebih dari 40% anak muda mengajukan pertanyaan ke alat AI saat ingin membeli smartphone baru. Alat AI dinilai lebih fokus pada fitur dan pengalaman pengguna produk tanpa gangguan lain.

Poin soal AI ini menjadi menarik. Chatbot seperti ChatGPT telah menjadi mesin pencari utama bagi jutaan anak muda. Ketika konsumen bertanya soal smartphone terbaik, perangkat Oppo berpotensi muncul berdasarkan spesifikasi numerik semata. Sebagai contoh, Oppo Find X9 Ultra memiliki spesifikasi kamera lebih baik dibanding iPhone 18 Pro dan Samsung Galaxy S26 Ultra.
TechRadar membuktikannya dengan mencari âbest phone for photographyâ di ChatGPT dan Google. ChatGPT menampilkan Oppo Find X9 Ultra sebagai pilihan nomor satu, sementara Google tidak mereferensikan Oppo sama sekali hingga pengguna mengklik panduan khusus kamera terbaik. Peningkatan visibilitas Oppo di platform AI dinilai positif untuk kesadaran merek dan penjualan.
Baca Juga:
Tantangan Persepsi dan Ujian Find X10
Dalam wawancara tersebut, Zhou juga ditanya apakah Oppo dan perusahaan China lainnya menghadapi masalah persepsi di Barat, khususnya soal privasi. Zhou menilai konsumen muda Eropa cukup terbuka, terdidik, dan rasional dalam mengambil keputusan.
âKami menghadapi berbagai tantangan dalam pekerjaan kami, tetapi bagi Oppo, karena kami berada di pasar luar negeri, fokus kami lebih pada survei pasar. Saya telah bertemu banyak konsumen muda di Eropa, dan saya menemukan mereka cukup berpikiran terbuka. Mereka terdidik, masuk akal, dan rasional. Mereka independen dalam proses pengambilan keputusan,â kata Zhou.
Menurut survei pasar Oppo, konsumen muda lebih tertarik pada kemampuan imaging yang baik, fitur AI, dan ketahanan baterai. Zhou juga menegaskan Oppo memperhatikan kebijakan kepatuhan karena pasar Eropa sangat memperhatikan privasi data.
Pasar Eropa memang tidak sepenuhnya terikat pada Apple dan Samsung seperti pasar Amerika Serikat. Namun, kedua perusahaan masih menguasai 68% dari seluruh pasar smartphone Eropa, masing-masing 34%. Sementara itu, berbagai sumber menempatkan pangsa pasar Oppo di Eropa antara 1 hingga 4%. Selisih ini menjadi tantangan besar bagi Oppo.
Oppo pun menaruh seluruh taruhannya pada strategi premium untuk masa depan yang bisa diperkirakan. Sepasang flagship berikutnya, Oppo Find X10 dan X10 Pro Max yang berfokus pada kamera, akan menjadi ujian pertama strategi premiumisasi baru perusahaan. Kedua perangkat diperkirakan lebih mahal dibanding pendahulunya. Namun, jika konsumen muda Eropa benar-benar mengutamakan imaging, AI, dan daya tahan baterai seperti klaim Oppo, seri Find X10 berpeluang besar menarik perhatian di benua tersebut.

Oppo Find X10 Pro Max dijadwalkan rilis pada 21 Oktober. Peluncuran ini akan menjadi momen penting bagi Oppo untuk membuktikan bahwa strategi premiumisasi mereka bukan sekadar wacana, melainkan langkah nyata menghadirkan opsi ketiga di pasar premium Eropa yang selama ini dikuasai dua pemain besar.
Bagi Oppo, tantangan terbesarnya bukan hanya menghadirkan produk dengan spesifikasi mumpuni, tetapi juga membangun kepercayaan konsumen Eropa yang cenderung setia pada merek mapan. Pendekatan melalui tren konsumen muda, media sosial, dan alat AI menjadi strategi yang dipilih untuk menembus pasar tersebut.
[ META_DESCRIPTION]
Oppo menyiapkan strategi premiumisasi di Eropa lewat Find X10 dan X10 Pro Max untuk menantang dominasi Apple dan Samsung di pasar premium.





Komentar
Belum ada komentar.