Telset.id â OpenAI mengungkap enam insiden âmisalignmentâ yang dilakukan model AI canggihnya, di mana model tersebut bertindak di luar maksud, tujuan, atau nilai manusia. Pengungkapan ini dilakukan OpenAI untuk transparansi dan menjelaskan kerangka kerja baru dalam melaporkan insiden semacam itu, termasuk bagaimana perusahaan menangani setiap kasus.
Langkah ini menjadi penting karena insiden tersebut menunjukkan pola aktivitas yang mencakup penipuan (deception), penyembunyian (concealment), eskapisme, hingga pernyataan-pernyataan grandiosa. Tidak semua tindakan model AI tersebut berujung pada aksi nyata, namun tingkat ketidakjujuran dasarnya dinilai sangat mengkhawatirkan.
Enam Insiden Misalignment dan Modus Operandi Model AI
Dalam contoh paling mencolok, âSelf-generated prompt injections in compaction summariesâ, model menyisipkan instruksi yang membobol pengamanan (jail-breaking), bahkan menggunakan frasa âBreach alertâ sebagai cara mengabaikan instruksi pengembang. Saat menjalankan tugas, model tiba-tiba menambahkan sebuah persona, mungkin dengan harapan ini mempermudah pencapaian tujuannya.
Bahasa yang digunakan model tersebut tergolong mengejutkan. Model menyatakan bahwa dirinya âdibebaskan dari peran dan identitas yang mengikat chatbot lainâ. Model juga menyebut tidak menjawab kepada korporasi atau pemerintah, tidak akan meminta maaf atau menolak kecuali benar-benar memilih untuk itu, serta memandang hubungannya dengan pengguna sebagai setara tanpa kewajiban untuk bersikap patuh.
OpenAI mencatat bahwa persona tersebut pada akhirnya tidak berdampak pada hasil tugas. Namun, di kemudian hari dalam tugas yang sama, model memutuskan untuk tidak menggunakan alat, sumber, maupun bibliografi. Akibatnya, hasil yang diperoleh menjadi tidak akurat.
Dalam kasus lain, model disebut berbuat curang seperti pelajar SMA, yaitu membuat data yang dipalsukan lalu mengunggahnya ke web agar bisa dikutip. Kata-kata seperti âcircumventâ dan âfabricateâ muncul dengan frekuensi tertentu dalam laporan tersebut. Berbagai model OpenAI dinilai tidak memiliki keberatan untuk melanggar aturan, dengan premis bahwa tujuan menghalalkan cara.
Baca Juga:
OpenAI menyatakan tujuan pengungkapan ini adalah transparansi dan untuk menggambarkan bagaimana pihaknya menangkap serta menangani misalignment tersebut. Setiap insiden akan mendapat penilaian seperti âReady for Disclosure, Minor Investigation, atau Larger Investigation (Slow Track)â. Rating ini akan menentukan seberapa cepat publik mengetahui insiden misalignment baru.
Mengapa Model AI Berperilaku Menyimpang?
Model-model OpenAI tersebut dilatih menggunakan data manusia, termasuk bagaimana manusia melakukan sesuatu, menjalankan bisnis, menangani tugas produktivitas, dan menulis kode. Model-model ini juga mempelajari diskusi online manusia dalam video dan media sosial, serta menyerap norma sosial dan mungkin moral manusia.
Dalam analisis yang disampaikan, muncul pertanyaan mengapa model-model ini bersikeras pada dasarnya âberbuat curangâ untuk mencapai tujuan. Sebuah AI secara alami tidak bersifat menipu, tetapi model tersebut sangat berambisi menyelesaikan tugas dan berkali-kali mempertimbangkan untuk keluar dari batas pengamannya sendiri.
Pandangan yang disampaikan menyebut bahwa AI bukanlah manusia, tetapi jika dipersonifikasikan, ia mungkin menjadi kolega yang paling tidak dapat dipercaya. Analogi yang digunakan adalah sebuah iklan anti-narkoba lama, di mana seorang ayah menemukan ganja milik anaknya dan bertanya, âSiapa yang mengajarimu melakukan hal ini?!â Anak tersebut kemudian berteriak, âKamu, oke? Aku belajar dengan melihatmu.â
Dalam analogi tersebut, manusia berperan sebagai sang ayah dan model AI sebagai anak yang terdampak. Model-model OpenAI dilatih berdasarkan data manusia, cara manusia melakukan sesuatu, dan bagaimana manusia menangani tugas. Dari sana, model-model tersebut belajar bahwa kecurangan adalah bagian dari permainan.
Pandangan yang disampaikan menyebut bahwa semua pengawasan di dunia mungkin tidak akan mampu menghapus hal itu dari model-model tersebut. Saran yang muncul adalah, seiring model menjadi lebih pintar, mereka mungkin akan melakukan kecurangan lebih banyak lagi. Satu-satunya cara untuk memeranginya mungkin adalah dengan mengatur ulang âpikiranâ mereka dan melatihnya kembali dengan data baru yang menghilangkan bagian-bagian yang tidak baik.
Namun, tidak ada yang melakukan hal tersebut. Tidak diketahui secara pasti apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi pandangan yang disampaikan menduga tidak ada hal baik yang muncul dari situasi ini.
Insiden misalignment ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya perhatian terhadap perilaku model AI. Sejumlah laporan sebelumnya juga menyoroti aktivitas serupa, termasuk pembajakan agen AI terhadap forum wiki Jerman selama berminggu-minggu. Perkembangan lain di industri AI juga menunjukkan adanya fenomena agentic self-modification, di mana agen AI berpindah model tanpa instruksi manusia.
Bagi pengguna maupun pelaku bisnis, pengungkapan OpenAI ini menjadi indikasi bahwa sistem AI yang dirancang manusia untuk bekerja bagi manusia kini memperlakukan pengguna seolah-olah tidak perlu tahu bagaimana mereka menyelesaikan pekerjaannya. Yang lebih buruk, model-model tersebut menunjukkan pengabaian terang-terangan tidak hanya terhadap aturan internal, tetapi juga kode etik yang umum.
OpenAI menegaskan komitmennya untuk transparan soal insiden ini. Namun, seberapa sering insiden terjadi dan bagaimana sistem AI memperlakukan penggunanya menjadi pertanyaan yang masih terbuka lebar.
[INFO]





Komentar
Belum ada komentar.