OpenAI menyerukan penguatan pertahanan siber AI global dengan dukungan lebih dari 120 perusahaan untuk melindungi infrastruktur kritis

OpenAI Ajak 120+ Perusahaan Perkuat Pertahanan Siber AI Global

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI menyerukan penguatan pertahanan siber global melalui surat terbuka yang ditandatangani lebih dari 120 perusahaan
  • Seruan dilatarbelakangi rentetan serangan siber dan kemampuan model AI dalam menemukan celah keamanan
  • Tiga prinsip utama: status quo keamanan tidak cukup, cyber AI bisa memperkuat organisasi rentan, dan respons kolektif diperlukan
  • OpenAI meminta prioritas pada infrastruktur kritis dengan anggaran terbatas seperti rumah sakit, utilitas air, dan pemerintah daerah
  • Perusahaan AI frontier diminta menyediakan akses, pelatihan, dan dukungan untuk pembela infrastruktur kritis
  • Langkah ini menjadi alternatif setelah upaya memperlambat pengembangan AI tidak membuahkan hasil

Telset.id – OpenAI menyerukan aksi kolektif global untuk memperkuat pertahanan siber dunia di tengah meningkatnya ancaman dari serangan yang memanfaatkan kecerdasan buatan. Seruan ini dituangkan dalam sebuah surat terbuka yang telah ditandatangani oleh lebih dari 120 perusahaan, menyusul rentetan serangan siber tidak disengaja dan demonstrasi kemampuan model AI canggih dalam menemukan celah keamanan pada sistem pertahanan terkuat sekalipun.

Surat tersebut menargetkan berbagai pihak mulai dari bisnis, firma, pemerintah, hingga penyedia infrastruktur kritis untuk bersiap menghadapi era baru kejahatan siber bertenaga AI. OpenAI menegaskan bahwa status quo dalam keamanan siber tidak lagi cukup untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.

“Setiap dari kita dapat mengurangi risiko sekarang,” demikian pernyataan resmi OpenAI dalam seruannya. “Semua organisasi, perusahaan keamanan siber, mitra teknologi, pemerintah, dan perusahaan AI frontier memiliki peran penting: mempercepat prioritas para pembela dengan alat, pendanaan, dan dukungan langsung, terutama untuk organisasi infrastruktur kritis dengan anggaran terbatas.”

Lebih dari 120 perusahaan telah menjadi penandatangan surat OpenAI, menyetujui tiga prinsip utama: status quo keamanan saat ini tidak akan cukup; AI yang mampu melakukan siber dapat membantu memperkuat organisasi yang rentan; dan respons kolektif diperlukan untuk mewujudkannya.

The OpenAI logo displayed on a screen with the flag of the United States in the background.

Langkah ini muncul setelah OpenAI dan organisasi lain mengalami kemajuan yang minim dalam upaya meminta perlambatan pengembangan teknologi AI. Dengan demikian, inisiatif pertahanan siber ini menjadi langkah terbaik berikutnya yang bisa diambil.

Cyber AI akan terus berkembang baik organisasi menginginkannya atau tidak. Jika tidak bisa diperlambat, maka organisasi harus siap menghadapinya. Poin pertama OpenAI adalah memastikan semua dasar-dasar keamanan siber terpenuhi untuk mempersiapkan organisasi menghadapi masa depan cyber AI.

“Jadikan pertahanan siber sebagai prioritas kepemimpinan segera,” demikian bunyi surat tersebut. OpenAI meminta organisasi untuk memperbaiki dan memverifikasi kelemahan, mengganti atau meningkatkan sistem menggunakan prinsip hak istimewa paling rendah, dan menggunakan pertahanan siber bertenaga AI di mana pun memungkinkan.

Poin kedua dari seruan OpenAI mengajak organisasi untuk “membantu memimpin respons dalam mempertahankan diri dari serangan AI berkelanjutan” dengan menerapkan alat yang membuat pertahanan bertenaga AI dapat diakses semua pihak. OpenAI juga mendorong pembangunan playbook yang membantu bisnis dan infrastruktur kritis memahami bagaimana alat-alat ini digunakan.

Poin ketiga menyerukan koordinasi dengan pemerintah untuk memastikan rantai pasokan, rumah sakit, utilitas air, dan pemerintah daerah memiliki akses ke pertahanan siber AI yang mumpuni. Prioritas diberikan kepada mereka yang tidak memiliki anggaran untuk meningkatkan sistem yang ada atau menerapkan alat-alat ini sendiri.

Phishing, E-Mail, Network Security, Computer Hacker, Cloud Computing Cyber Security 3d Illustration

Terakhir, OpenAI meminta perusahaan AI frontier untuk menyediakan akses, pelatihan, dan dukungan bagi “pembela infrastruktur kritis yang kekurangan sumber daya”. Ini mencakup penilaian ancaman dan alat observabilitas untuk meningkatkan respons dan pemulihan terhadap ancaman siber.

“Kami menyerukan kepada para pemimpin di industri dan pemerintah untuk mengerahkan seluruh teknologi, sumber daya, dan keahlian mereka dalam upaya ini. Letakkan AI yang mampu melakukan siber di tangan para pembela, mulai dari tim yang melindungi layanan penting. Perbaiki kelemahan paling berbahaya, verifikasi perbaikannya, dan bagikan apa yang berhasil agar orang lain dapat mengembangkannya,” demikian bunyi surat tersebut.

“Bersama-sama, kita dapat mengubah kemajuan AI saat ini menjadi peningkatan keamanan yang bertahan lama yang bermanfaat bagi semua orang. Mari kita mulai bekerja.”

Inisiatif ini sejalan dengan berbagai upaya OpenAI dalam memperkuat ekosistem keamanan digital. Sebelumnya, OpenAI juga telah menggagalkan kampanye pengaruh Rusia yang memanfaatkan platform ChatGPT. Perusahaan juga terus merinci berbagai teknis serangan AI untuk meningkatkan transparansi keamanan.

OpenAI logo on smartphone, reflected on main screen

Langkah OpenAI ini menjadi sinyal penting bagi industri keamanan siber global. Dengan dukungan lebih dari 120 perusahaan, inisiatif ini diharapkan dapat menciptakan standar baru dalam pertahanan siber yang memanfaatkan kekuatan AI untuk melindungi infrastruktur kritis di seluruh dunia.

Bagi organisasi yang belum memiliki anggaran memadai untuk meningkatkan sistem keamanan, seruan ini membuka peluang untuk mendapatkan akses ke alat pertahanan AI yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan perusahaan teknologi menjadi kunci dalam mewujudkan ekosistem keamanan siber yang lebih tangguh.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.