Telset.id – Jumlah Non-Human Identities (NHI) di lingkungan enterprise kini diperkirakan telah melampaui identitas manusia dengan rasio hingga 50:1. Kondisi ini memaksa para CIO dan CISO untuk segera mengubah pendekatan keamanan mereka, karena model Identity Access Management (IAM) legacy dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi ledakan identitas digital dari mesin, aplikasi, dan agen AI.
Simon Gooch, Field CIO di Saviynt, menyatakan bahwa statistik dari Non-Human Identity Management Group pada 2025 tersebut kemungkinan besar sudah usang. Ia memprediksi dalam setahun ke depan rasionya akan meningkat secara eksponensial seiring percepatan tren pertumbuhan seperti AI/Machine Learning, Internet of Things, asisten digital, dan ekonomi API yang terus mendorong otomatisasi.
“Identity adalah mata uang fundamental dalam setiap transaksi teknologi, jadi kita perlu memperlakukan aset non-manusia dengan perhatian yang sama seperti kita memperlakukan manusia,” ujar Simon Gooch.
NHI sendiri merujuk pada mesin, proses, service principals, akun, workload virtual, dan aplikasi yang diberikan kredensial digital. Contoh paling sederhana adalah chatbot helpdesk yang sering ditemui pengguna di berbagai situs web favorit.

Tantangan Mengelola NHI di Era AI
Pengelolaan NHI menjadi tantangan yang harus diterima oleh para CIO, pakar identitas, dan CISO. Simon Gooch menyebut situasi ini semacam pengulangan dari apa yang terjadi 40 tahun lalu ketika identity access management mulai banyak diterapkan. Bedanya, kini yang dihadapi bukan hanya manusia.
“Saya tidak tahu satu pun organisasi yang memiliki pemahaman kolektif tentang siapa yang seharusnya menjadi ‘kepala HR’ untuk NHI,” tambahnya.
Para pemimpin saat ini perlu mempertimbangkan identitas non-manusia dengan cara yang sama seperti identitas manusia. Ketika merekrut karyawan, perusahaan melakukan onboarding dengan memanfaatkan dan mengamankan detail yang dibutuhkan untuk membayar dan mengelola mereka. Namun yang tidak kalah penting, perusahaan juga berupaya menanamkan budaya organisasi, sistem, risiko, dan proses keamanan kepada karyawan baru tersebut.
Demikian pula halnya dengan aset non-manusia. Perusahaan perlu memiliki kontrol dan pemahaman kontekstual yang serupa terhadap aset non-manusia mereka.
Konteks adalah Kunci Keamanan
Tanpa perubahan tersebut, CIO dan pemimpin lainnya tidak akan memiliki dasar pemahaman tentang dari mana risiko berasal atau langkah apa yang perlu diambil. Mereka membutuhkan platform terpusat yang terlihat untuk mengetahui aset yang dimiliki dan apa yang sedang terjadi.
IAM legacy tidak dapat menawarkan hal tersebut karena dimulai dengan fokus sempit pada kepatuhan dan merupakan model statis yang didasarkan pada kriteria kaku seperti audit enam bulan dan pemberian izin serta hak istimewa secara rutin. IAM lama berakar pada era awal abad ke-21 ketika Sarbanes-Oxley muncul sebagai reaksi terhadap skandal tata kelola dan kesalahan korporasi.

Lebih jauh lagi, IAM lama mengabaikan apa yang terjadi di dunia digital yang lebih luas, yaitu ledakan tipe identitas yang membutuhkan pengawasan holistik. Kontrol terhadap estate manusia dan non-manusia berarti memastikan ada wawasan tentang aset non-manusia dan apa yang mereka lakukan.
“Konteks adalah kunci. Lihatlah konstruksi NHI yang dapat menyentuh apa pun di ekosistem digital dan konektivitas mendasar ke aplikasi serta data,” jelas Simon Gooch.
CIO perlu mengenali kebenaran mantra kontemporer bahwa identitas adalah mata uang fundamental dalam setiap transaksi teknologi. Semuanya harus tercakup: bot, service principals, endpoint IoT, workload uji coba yang ditinggalkan, agen otonom, dan agen yang berbicara dengan agen lain.
Langkah awal adalah mengajukan pertanyaan menyeluruh: apakah NHI ini memanfaatkan identitas manusia saat melakukan tugas atas nama orang tersebut, dan apakah hal itu tepat?

Setelah itu, organisasi dapat mendalami area praktis seperti menjaga terhadap penyalahgunaan kredensial di seluruh agen, meningkatkan kebersihan digital dan identitas dengan mengidentifikasi risiko terkait token yang tidak kedaluwarsa, serta menganalisis tingkat akses API secara just-in-time.
ISPM (Identity Security Posture Management) berguna di sini karena organisasi perlu memiliki kendali atas apa yang mereka miliki dan harus menyatukan konstruksi identitas. Namun ini bukan proses penemuan sekali jadi, melainkan perjalanan CI/CD untuk perbaikan berkelanjutan.
Di era AI, inventaris teknologi holistik tidak bisa lagi berbasis CMDB, tetapi harus dinamis dan berdasarkan kerangka kontrol pipeline CI/CD yang memungkinkan kita melihat serta mengiris data dan aset secara dinamis dengan mengontrol siapa yang menggunakan apa dan di mana.
Peluang di Balik Kompleksitas
Ini adalah tugas yang kompleks dan semua orang sibuk. Namun Simon Gooch menekankan perlunya berhenti sejenak dan memikirkan bagaimana titik infleksi ini dapat diubah menjadi hal positif. Ini adalah peluang bagi tim keamanan dan identitas untuk mulai bertanya pada diri sendiri tentang konstruksi apa yang dapat diterapkan pada identitas non-manusia.
Mereka harus bertanya apa yang perlu ditambahkan ke kerangka IAM legacy agar berhasil. Dan biasanya jawabannya adalah menggantinya dengan sistem yang dikodekan untuk zaman sekarang, bukan zaman sebelumnya.

Dengan menyediakan kontrol baru ini, tim identitas akan menjadi dihormati dan dicari. Para pemimpin identitas akan mendapatkan pengakuan melalui kemampuan mereka memberikan peringkat risiko berdasarkan analitik perilaku dan fungsi bisnis.
Dengan menunjukkan wawasan tentang di mana data berada, ke mana data bergerak, dan bagaimana identitas mendukung hal tersebut, para pemimpin identitas dapat memberikan analisis proses kualitatif dan kuantitatif. Dalam beberapa kasus yang melampaui praktik terbaik dan eksekusi, mereka bahkan akan membantu menyempurnakan rekayasa ulang proses bisnis melalui platform yang menginformasikan prioritas dan manajemen anggaran.
Artikel ini diproduksi sebagai bagian dari TechRadar Pro Perspectives, kanal untuk menampilkan pemikiran terbaik dan tercerdas di industri teknologi saat ini. Pandangan yang diungkapkan di sini adalah milik penulis dan tidak selalu merupakan pandangan TechRadarPro atau Future plc.
Perkembangan ini juga sejalan dengan dinamika pasar teknologi yang terus berubah. Sementara perusahaan otomotif seperti Ford Siapkan Crossover dan Recall 86 Ribu Mustang sibuk menangani isu teknis, dunia keamanan identitas menghadapi tantangan yang tidak kalah serius. Bahkan Recall Mustang Mach-E menunjukkan betapa pentingnya pengawasan ketat terhadap setiap aset digital dan fisik dalam ekosistem enterprise modern.





Komentar
Belum ada komentar.