Telset.id – Nvidia hanya akan mengirim sebagian kecil dari pesanan chip RTX Pro 5500 kepada raksasa teknologi China seperti ByteDance, Alibaba, dan Tencent. Menurut laporan Bloomberg yang mengutip sumber tak bernama, hanya “beberapa puluh ribu, atau sekitar 1%” dari GPU workstation RTX Pro 5500 yang akan dikirim dalam beberapa bulan ke depan. Keterbatasan pasokan Nvidia ini menjadi pukulan bagi ambisi AI perusahaan-perusahaan China yang telah menempatkan pesanan dalam jumlah masif.
Permintaan terhadap RTX Pro 5500 jauh melampaui rencana produksi Nvidia. Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan China disebut telah membelanjakan US$35 miliar untuk memesan lebih dari 3 juta unit GPU tersebut, jumlah yang jauh melebihi kemampuan produksi Nvidia. Laporan terbaru ini bahkan menyebut angka tersebut telah naik menjadi US$70 miliar, dengan biaya US$11.000 per unit. Situasi ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan industri AI China pada satu model GPU tertentu.
Daya tarik RTX Pro 5500 bagi perusahaan China terletak pada performa dan status uniknya terkait pengiriman. GPU ini memiliki CUDA core yang sama dengan GPU gaming flagship Nvidia, RTX 5090, tetapi dengan memori GDDR7 yang ditingkatkan menjadi 84GB, sehingga menjadi pilihan yang baik untuk kebutuhan AI. Kapasitas memori besar ini menjadi faktor kunci untuk menjalankan beban kerja kecerdasan buatan skala besar.

Yang membedakan RTX Pro 5500 dari produk lain adalah status pengirimannya. Berbeda dengan RTX 5090 atau GPU workstation lain yang berfokus pada AI seperti H200 dan B300, RTX Pro 5500 tidak memiliki batasan ekspor. Artinya, GPU ini dapat dikirim ke China tanpa pembatasan. Kondisi inilah yang menjadikannya jalur utama bagi perusahaan China untuk mendapatkan akses ke teknologi Nvidia di tengah ketatnya regulasi ekspor Amerika Serikat.
China sendiri tengah berada dalam persaingan ketat dengan Amerika Serikat untuk menghasilkan model AI yang lebih baik. GPU seperti RTX Pro 5500 menjadi inti dari upaya tersebut. Nvidia dilaporkan telah menghentikan produksi RTX 5090 untuk beralih ke basis enterprise yang berfokus pada AI. Langkah ini menegaskan prioritas Nvidia pada segmen yang permintaannya meledak, meski pasokan tetap terbatas.
Jadwal Pengiriman dan Proyeksi Pasokan
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pengembang China memperkirakan batch pertama yang terdiri dari beberapa ribu unit RTX Pro 5500 akan dikirim pada akhir 2026. Secara total, 700.000 unit RTX Pro 5500 diperkirakan akan dikirim pada akhir 2027 seiring Nvidia meningkatkan produksinya, meskipun angka ini masih bisa berubah. Proyeksi ini memberikan gambaran bahwa pasokan akan tetap jauh di bawah permintaan yang telah tercatat.
Tom’s Hardware telah menghubungi Nvidia untuk meminta komentar terkait laporan ini. Dalam pernyataannya kepada Bloomberg, juru bicara Nvidia menolak berkomentar soal angka pengiriman, tetapi mengkritik kontrol ekspor Amerika Serikat. Juru bicara tersebut menyatakan bahwa “kontrol ekspor AS yang sudah usang, yang mencakup produk gaming yang dirilis hampir setengah dekade lalu” terus membatasi Nvidia, bersama dengan “batasan China sendiri terhadap impor dari AS.”

Pernyataan Nvidia ini menyoroti posisi perusahaan yang terjepit di antara dua kebijakan besar. Di satu sisi, Amerika Serikat memberlakukan kontrol ekspor yang membatasi pengiriman teknologi canggih ke China. Di sisi lain, China memiliki batasan sendiri terhadap impor produk AS. Kombinasi kedua kebijakan ini menciptakan ketidakpastian bagi Nvidia dalam melayani salah satu pasar terbesarnya.
Ketegangan regulasi antara AS dan China bukan hal baru bagi Nvidia. Sebelumnya, perusahaan ini juga menghadapi pembatasan terkait pelanggan China di data center global. Langkah pembatasan yang membatasi pelanggan China hingga maksimal 49 persen menjadi salah satu contoh bagaimana tekanan regulasi membentuk strategi bisnis Nvidia. Kebijakan semacam ini memengaruhi cara Nvidia mengalokasikan pasokan ke berbagai wilayah.
Baca Juga:
Dampak bagi Ambisi AI China
Kesenjangan antara pesanan dan pengiriman RTX Pro 5500 menciptakan tantangan tersendiri bagi ByteDance, Alibaba, Tencent, dan perusahaan teknologi China lainnya. Dengan hanya sekitar 1% dari pesanan yang terpenuhi dalam beberapa bulan ke depan, perusahaan-perusahaan ini harus menyesuaikan rencana pengembangan AI mereka. Kebutuhan komputasi untuk melatih dan menjalankan model AI tetap tinggi, sementara pasokan GPU yang tersedia sangat terbatas.
Permintaan yang melonjak juga tercermin dari nilai pesanan yang naik dari US$35 miliar menjadi US$70 miliar. Kenaikan ini menunjukkan bahwa perusahaan China bersedia mengeluarkan dana besar untuk mengamankan pasokan GPU yang sesuai regulasi. Harga US$11.000 per unit menjadi indikasi besarnya investasi yang disiapkan untuk infrastruktur AI.

Di tengah keterbatasan pasokan Nvidia, perhatian juga tertuju pada upaya China mengembangkan chip AI buatan dalam negeri. Namun, laporan ini secara spesifik menyoroti RTX Pro 5500 sebagai jalur yang diminati karena status pengirimannya yang tidak terkena batasan ekspor. Posisi unik tersebut menjadikan GPU ini aset berharga di pasar China, meski jumlah yang tersedia jauh dari cukup.
Bagi Nvidia, situasi ini menghadirkan dilema antara memenuhi permintaan pasar yang besar dan menghadapi tekanan regulasi dari kedua negara. Kritik terhadap kontrol ekspor AS yang disampaikan juru bicara Nvidia menunjukkan bahwa perusahaan berharap kebijakan tersebut ditinjau ulang. Namun, hingga kini belum ada indikasi perubahan kebijakan yang dapat mempercepat pengiriman RTX Pro 5500 ke China.
Laporan Bloomberg ini juga menegaskan bahwa angka pengiriman masih dapat berubah seiring Nvidia meningkatkan produksi. Proyeksi 700.000 unit pada akhir 2027 memberikan gambaran skala pasokan yang direncanakan, tetapi tetap jauh di bawah lebih dari 3 juta unit yang dipesan. Selisih besar ini akan terus membentuk dinamika pasar GPU AI antara AS dan China dalam beberapa tahun ke depan.
Perkembangan terkait pasokan GPU Nvidia juga terus menjadi sorotan, termasuk dinamika harga di pasar global. Ketegangan antara permintaan tinggi dan kapasitas produksi yang terbatas menjadi tema yang berulang, sebagaimana tercermin dalam situasi harga GPU Nvidia yang terus menghadapi tekanan. Sementara itu, keamanan ekosistem layanan Nvidia juga menjadi perhatian tersendiri, seperti yang terlihat dalam insiden serangan siber NVIDIA Brev yang turut memengaruhi pengguna.





Komentar
Belum ada komentar.