Telset.id – Kreator asal Mesir, ZedAxis, berhasil membuktikan bahwa sebuah mikrokontroler murah seharga $5 (sekitar Rp80 ribuan) bisa berfungsi sebagai DNS ad-blocker yang andal. Proyek ini menawarkan alternatif hemat biaya bagi pengguna yang membutuhkan lapisan perlindungan tambahan untuk jaringan rumah mereka.
ZedAxis menggunakan board ESP32-C3 “SuperMini” untuk membangun backup DNS bagi jaringan rumahnya. Perangkat ini dirancang untuk mengambil alih tugas penyaringan iklan saat perangkat utama, yaitu Pi-hole yang berbasis Raspberry Pi, sedang melakukan reboot atau tidak tersedia. Dengan hanya mengandalkan RAM 400KB dan memori flash 4MB, proyek ini membuktikan bahwa keterbatasan spesifikasi bukanlah halangan untuk menciptakan solusi yang fungsional.
Tantangan terbesar yang dihadapi ZedAxis adalah keterbatasan penyimpanan. Dengan spesifikasi yang sangat terbatas, ia tidak bisa menyimpan daftar blokir (blocklist) dalam format teks biasa karena ukurannya terlalu besar. Solusinya, ia menggunakan hashing FNV-1a 40-bit untuk memperkecil ukuran data. Dengan metode ini, ZedAxis berhasil menyimpan sekitar 537.000 domain dalam memori flash perangkat tanpa OTA (Over-The-Air update), atau sekitar 250.000 domain jika fitur OTA tetap diaktifkan.
Proses kerja perangkat ini cukup cerdas. Saat build, perangkat akan mengunduh satu atau lebih blocklist publik, menghapus duplikat dan komentar, lalu menghash setiap domain menjadi nilai 40-bit. Hasil hash tersebut kemudian diurutkan dan ditulis ke dalam memori flash. Ketika ada permintaan DNS masuk, perangkat akan menghash nama host yang diminta dengan cara yang sama dan melakukan pencarian biner (binary search) terhadap tabel hash yang sudah diurutkan. Jika ditemukan kecocokan, permintaan akan diblokir. Jika tidak, permintaan akan diteruskan ke resolver upstream.
Menurut ZedAxis, firmware yang sudah jadi hanya menggunakan sekitar 50KB RAM, dengan latensi sekitar 10 milidetik untuk setiap permintaan yang diblokir. Ini menunjukkan bahwa meskipun menggunakan perangkat sederhana, performa yang dihasilkan tetap efisien dan cepat.
Salah satu detail menarik dari proyek ini adalah cara ZedAxis menyalakan perangkat. Ia memanfaatkan port USB di bagian belakang gateway fiber optik milik ISP-nya, sebuah Huawei OptiXstar. Port USB tersebut hanya digunakan sebagai sumber daya 5 volt, tanpa ada transfer data. Semua komunikasi jaringan dilakukan melalui adaptor Wi-Fi terintegrasi pada ESP32. Ini membuat perangkat menjadi sangat kecil dan praktis tidak terlihat saat dipasang di belakang router.
Perlu dicatat bahwa proyek ini bukanlah pengganti untuk Pi-hole atau AdGuard Home yang lebih canggih. Dashboard yang disediakan masih sangat sederhana dan tidak menawarkan statistik per-klien, log kueri historis, atau berbagai fitur lain yang membuat platform tersebut lebih menarik. Fungsi utama perangkat ini adalah sebagai “polis asuransi” kecil yang memastikan jika server DNS utama mati, klien tetap mendapatkan respons DNS yang sudah difilter.
Baca Juga:
Proyek ini juga menyoroti fleksibilitas dari keluarga mikrokontroler ESP32. Meskipun ESP32-C3 adalah versi yang lebih murah tanpa PSRAM 8MB yang ditemukan pada model kelas atas, ZedAxis tetap bisa memaksimalkan potensinya. Dengan harga board SuperMini yang berkisar antara $2 hingga $5, proyek ini menjadi bukti bahwa solusi keamanan jaringan tidak harus mahal.
Bagi pengguna yang ingin membangun sistem serupa, proyek ini menawarkan inspirasi bahwa dengan kreativitas dan pemahaman teknis yang memadai, perangkat keras sederhana pun bisa diubah menjadi alat yang berguna. Meskipun tidak akan menggantikan solusi ad-blocking yang lebih mapan untuk sebagian besar pengguna, proyek ini tetap menjadi contoh menarik tentang bagaimana seorang pengembang melihat tantangan dan menemukan solusi yang efisien.
Fitur OTA pada ESP32 juga menjadi pertimbangan penting. Jika Anda tidak memerlukan pembaruan firmware nirkabel, Anda bisa mengklaim kembali partisi firmware kedua untuk database blocklist, yang secara signifikan meningkatkan kapasitas penyimpanan domain yang bisa diblokir. Ini adalah kompromi yang cerdas antara kemudahan pembaruan dan kapasitas penyimpanan.
Ke depannya, proyek semacam ini mungkin tidak akan menjadi tren massal. Sebagian besar pengguna yang menginginkan pemblokiran iklan di seluruh jaringan akan tetap memilih Raspberry Pi, mini PC bekas, atau menjalankan AdGuard Home di mesin virtual. Namun, inisiatif seperti ini tetap penting untuk menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari keterbatasan, bukan justru dari kelimpahan sumber daya.
Bagi Anda yang tertarik dengan topik keamanan jaringan dan ingin melindungi perangkat dari ancaman siber, penting juga untuk waspada terhadap berbagai malware yang beredar. Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah Malware Chrome “SHARPEXT” yang bisa memata-matai akun Gmail Anda. Selain itu, pastikan untuk selalu memeriksa perangkat Anda dan hapus segera aplikasi Android yang terindikasi berisi malware agar data pribadi Anda tetap aman.










Komentar
Belum ada komentar.