📑 Daftar Isi

Karyawan bekerja dengan laptop di meja kerja yang menunjukkan ketidaknyamanan akibat perangkat teknologi kantor

Logitech: 64% Karyawan Frustrasi Akibat Masalah Teknologi Kantor

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Studi Logitech melibatkan 9.400 responden dan 1.350 pengambil keputusan IT
  • 64% karyawan frustrasi, cemas, atau marah akibat masalah teknologi
  • 58% alami keluhan fisik seperti nyeri pergelangan tangan dan nyeri leher
  • Hanya 24% karyawan punya kendali atas teknologi kantor
  • 81% yakin teknologi tepat menentukan tercapainya tujuan kerja
  • 42% lebih bergantung pada hardware dibanding lima tahun lalu, naik 76% di pengguna AI berat
  • Logitech dorong perusahaan pertimbangkan pengalaman karyawan dalam pengadaan perangkat

Telset.id – Sebuah studi baru dari Logitech mengungkap bahwa 64% karyawan merasa frustrasi, cemas, atau marah akibat masalah teknologi yang mereka gunakan. Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa perangkat kerja yang tidak sesuai bukan lagi persoalan sepele, melainkan faktor yang memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan pekerja sehari-hari.

Studi Logitech tersebut menganalisis lebih dari 9.400 responden serta 1.350 pengambil keputusan IT (ITDMs). Hasilnya menunjukkan bahwa 81% responden meyakini teknologi yang tepat bisa menjadi pembeda antara tercapainya tujuan kerja dan kegagalan. Dengan kata lain, kualitas perangkat yang dipakai karyawan punya kaitan langsung dengan performa mereka.

Dampaknya tidak berhenti pada urusan pekerjaan. Lebih dari separuh responden melaporkan peningkatan kesejahteraan fisik maupun mental (54%) serta rasa optimistis terhadap masa depan (58%) ketika mereka memiliki kendali lebih besar atas teknologi yang digunakan. Kendali atas perangkat, menurut studi ini, turut menentukan bagaimana karyawan memandang pekerjaannya.

Keluhan Fisik dan Minimnya Kendali atas Teknologi

Di sisi lain, hampir dua pertiga responden (64%) mengaku merasakan frustrasi, kecemasan, atau kemarahan akibat masalah teknologi. Sebanyak tiga dari lima karyawan (58%) bahkan melaporkan ketidaknyamanan fisik seperti nyeri pergelangan tangan, kelelahan mata, dan nyeri leher yang bersumber dari pengaturan meja kerja mereka.

Yang menarik, hanya seperempat karyawan (24%) yang menyatakan memiliki kendali atas teknologi di kantor mereka. Padahal, hanya seperlima dari mereka yang akan mempertahankan perangkat yang ada jika diberi pilihan. Data ini menunjukkan adanya keinginan besar dari para pekerja untuk mengubah perangkat kerja yang mereka gunakan saat ini.

Stressed worker

Logitech dalam laporannya menyebut bahwa “hardware is the human layer”. Sebanyak 42% responden mengaku lebih bergantung pada perangkat keras dibandingkan lima tahun lalu. Angka tersebut melonjak hingga 76% di kalangan pengguna AI berat, yang mengindikasikan bahwa di balik otomatisasi yang diklaim meningkatkan produktivitas, interaksi manusia dengan mesin tetap tak tergantikan.

Temuan ini sejalan dengan dinamika tempat kerja modern yang makin bergantung pada perangkat pendukung. Sejumlah inisiatif kolaborasi di lingkungan kerja, seperti yang pernah dibahas dalam artikel Facebook Luncurkan Workplace, memperlihatkan bagaimana teknologi terus menjadi fondasi operasional perusahaan. Kebutuhan akan perangkat yang andal pun menjadi semakin krusial.

Dorongan Memperhitungkan Pengalaman Karyawan

Laporan Logitech merekomendasikan agar perusahaan mempertimbangkan pengalaman karyawan dalam proses pengadaan perangkat, bukan sekadar biaya, keamanan, dan spesifikasi teknis. Studi ini juga membahas dampak kerja hibrida dan bagaimana perusahaan semestinya mempertimbangkan hal tersebut ketika mengalokasikan perangkat keras kepada karyawan.

Persoalan pengadaan dan pengelolaan perangkat kerja memang kerap menjadi titik rawan di banyak organisasi. Kasus penghapusan data pada layanan Microsoft, seperti yang diulas dalam artikel Microsoft Hapus Data M365, menjadi contoh bagaimana keputusan teknologi di tingkat korporat bisa berdampak langsung pada pengguna. Karena itu, keputusan pengadaan perangkat semestinya mempertimbangkan kebutuhan nyata karyawan, bukan hanya efisiensi anggaran.

Office with laptops

Bagi Logitech, temuan ini menjadi dasar argumen bahwa perangkat keras memegang peran sentral dalam pengalaman kerja. Ketika karyawan memiliki perangkat yang sesuai, produktivitas dan kesejahteraan mereka berpotensi meningkat. Sebaliknya, perangkat yang tidak memadai berkontribusi pada keluhan fisik dan tekanan psikologis yang akhirnya merugikan perusahaan.

Perubahan lanskap kerja yang melibatkan teknologi juga tercermin dalam berbagai kebijakan korporat. Langkah akuisisi yang diambil Facebook demi memperkuat platform kerja mereka, seperti yang dibahas dalam artikel Demi Workplace, menunjukkan betapa seriusnya perusahaan menempatkan teknologi kerja sebagai prioritas. Investasi pada perangkat dan platform yang tepat pun menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi perusahaan.

Dengan 81% responden yang percaya bahwa teknologi tepat menentukan tercapainya tujuan, temuan Logitech ini memberikan gambaran jelas bahwa perangkat kerja bukan sekadar alat pendukung. Perangkat tersebut menjadi lapisan yang menghubungkan manusia dengan pekerjaannya, dan karenanya layak diperhitungkan dalam setiap keputusan pengadaan di perusahaan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.