Telset.id ā Laporan terbaru dari American nonprofit C4ADS mengungkap tiga jalur utama penyelundupan chip AI Nvidia ke China, dengan nilai transaksi mencapai miliaran dolar. Temuan ini menunjukkan celah besar dalam upaya Amerika Serikat membatasi akses China terhadap teknologi kecerdasan buatan paling canggih.
C4ADS, organisasi pemantau yang sebagian besar didanai pemerintah Amerika Serikat, merinci bagaimana akselerator AI buatan Amerika bisa sampai ke China meski ada larangan ekspor. Situasinya cukup paradoks: Amerika Serikat menolak menjual chip AI canggih ke China, sementara Partai Komunis China (CCP) justru melarang pembeliannya. Namun larangan dari kedua sisi itu ternyata tidak menghentikan produk tersebut tiba di daratan China.
Laporan C4ADS mengidentifikasi tiga jalur utama penyelundupan chip: akuisisi langsung melalui institusi riset, pengiriman drop-shipping lewat negara Asia Tenggara, dan pembelian melalui struktur perusahaan cangkang yang berlapis-lapis. Para penulis laporan mencatat bahwa hanya chip yang disebutkan secara eksplisit yang dihitung, yang berarti jumlah perangkat keras yang sebenarnya berpindah tangan bisa jauh lebih tinggi.
Sebuah laporan sebelumnya dari Epoch AI memperkirakan bahwa sekitar sepertiga, bahkan mungkin sebagian besar, kekuatan komputasi AI China terdiri dari GPU selundupan. Angka ini memberi gambaran betapa besar skala kebocoran teknologi yang selama ini coba dicegah oleh kontrol ekspor Amerika Serikat.
Bagaimana Chip Nvidia Bisa Sampai ke China
Untuk memahami alurnya, perlu diketahui bahwa Nvidia memproduksi dan mengemas sebagian besar chipnya di TSMC, Taiwan. Satu chip atau unit akselerator bisa melewati beberapa putaran pengujian dan berpotensi menempuh lebih dari satu perjalanan sebelum akhirnya tiba di pusat data pelanggan.
Soal kontrol ekspor dan impor, Amerika Serikat melarang penjualan chip H100, A100, dan keluarga Blackwell ke China. Sementara chip kelas bawah H20 dan chip yang lebih kuat H200 (serta AMD MI325X) dapat diperdagangkan secara kasus per kasus, dengan H200 dikenakan tarif 25 persen. Di sisi lain, posisi umum China adalah mendorong dan membatasi pembelian chip AI Amerika, demi menggenjot upaya nasionalnya yang saat ini dipimpin Huawei.
Meski demikian, sejumlah laporan menunjukkan otoritas China sering menutup mata terhadap impor dari pasar abu-abu atau pasar gelap. Pada 2026 bahkan muncul pengecualian resmi yang dikeluarkan untuk ByteDance, Alibaba, dan Tencent. Situasi ini memperlihatkan bahwa kebijakan di atas kertas tidak selalu sejalan dengan praktik di lapangan.

Jalur pertama untuk memasukkan chip āterlarangā ke China secara kuasi-legal adalah dengan membuat universitas atau lembaga riset China membelinya. Entitas-entitas ini dilaporkan menyertakan GPU Nvidia di dalam ākontrak multi-vendor yang luasā, yang dialirkan melalui integrator regional China berskala kecil. Laporan tersebut juga menyebut bahwa sebagian institusi pembeli memiliki keterkaitan dengan CCP serta sektor pertahanan dan intelijen negara itu.
C4ADS mengklaim telah melacak 56 chip senilai 1,7 juta dolar AS yang dijual melalui cara ini pada periode Juli 2025 hingga Januari 2026 dalam laporan tersebut. Selain itu, investigasi mereka pada 2024 yang mencakup catatan pemerintah selama beberapa tahun mengungkap 6,48 juta dolar AS worth of silicon yang menuju China lewat cara serupa. Bagi kamu yang mengikuti isu keamanan teknologi, pola ini mirip dengan bagaimana Kerangka Cyber Essentials menyoroti pentingnya verifikasi rantai pasok.
Jalur kedua untuk menyelundupkan silicon canggih ini secara teknis legal, yakni melalui drop-shipping lewat negara-negara Asia Tenggara termasuk Vietnam, India, dan Malaysia. C4ADS menganalisis transaksi antara 2022 dan 2025, dan menemukan 13,4 juta dolar AS GPU Nvidia seri A100, H100/GH100, serta AD102 yang dialihkan melalui negara-negara tersebut dalam āpola yang konsistenā.
Sejumlah chip melakukan perjalanan dari Taiwan ke Vietnam, kemungkinan terbantu oleh fakta bahwa fasilitas pengujian chip Vietnam memberi alasan yang masuk akal untuk perjalanan tersebut. Investigasi mencatat bahwa waktu, volume, dan tujuan banyak pengiriman bisa menyamarkan maksud sebenarnya. Sebagian chip yang diklaim telah diuji melanjutkan perjalanan ke Hong Kong, di mana dua perusahaan āmendominasi sisi imporā, yakni Profit New Limited dan ELB International Limited.
Profit New Limited bahkan memperdagangkan 8,7 juta dolar AS silicon dalam satu hari pada Maret 2025, kemungkinan sebagai persiapan menghadapi pengetatan kontrol ekspor pada April 2025. Beberapa pengiriman bernilai tinggi dalam kumpulan data tersebut tampaknya tidak mencantumkan nilai biaya, asuransi, berat, atau pengiriman, dan juga memiliki angka nol bulat pada deklarasi nilai impornya, sehingga memunculkan kecurigaan soal keaslian dokumen mereka.
Baca Juga:
Perusahaan Cangkang dan Nilai Transaksi Terbesar
Kategori terbesar penyelundupan chip adalah kepemilikan yang tidak transparan, atau perusahaan cangkang. Menurut C4ADS, metode ini menyumbang 4,6 miliar dolar AS worth of intelligent sand yang bermigrasi ke China, hanya atas nama satu entitas, Megaspeed International. Perusahaan ini dilaporkan menjadi importir perangkat keras Nvidia terbesar di Asia Tenggara pada rentang waktu 2023 hingga 2025.
Namun, kepemilikan sebenarnya Megaspeed masih ābelum terselesaikanā. Megaspeed memiliki beberapa perusahaan di Singapura, Indonesia, dan Malaysia, tetapi perusahaan ini dibeli pada 2023 oleh Swiftdata, perusahaan Singapura lainnya. Sebelumnya, Megaspeed dimiliki oleh perusahaan gim China, 7Road Holdings. Selama masa transisi, pemegang saham utama Megaspeed sempat dijabat sementara oleh pengusaha China Huang Le, yang juga merupakan direktur perusahaan Hong Kong yang membeli transceiver dari Megaspeed Indonesia.

C4ADS meyakini Le mungkin masih memegang kendali di Megaspeed, mengingat ia teridentifikasi sebagai chairwoman perusahaan tersebut dalam sebuah konferensi pada 2025. Kecepatan dan cara Megaspeed berpindah tangan juga menimbulkan tanda tanya, dan hingga kini tampaknya masih belum jelas siapa yang sebenarnya memiliki Swiftdata. Mengingat Megaspeed dilaporkan memperoleh chip Blackwell yang terkunci ekspor, sulit untuk tidak menilai transaksinya sebagai sesuatu yang gelap.
Pola penyamaran kepemilikan seperti ini sejalan dengan peringatan yang muncul di sektor lain, misalnya bagaimana SEC Selidiki AI Hedge Fund menyoroti risiko struktur kepemilikan yang tidak transparan di industri berbasis AI.
C4ADS juga mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk mencoba memitigasi masalah ini. Mereka menyarankan agar U.S. Bureau of Industry and Security mendapat tambahan staf dan sumber daya sehingga dapat memverifikasi ke mana barang-barang tersebut berakhir setelah penjualan, dan siapa pengguna akhirnya. Hal ini bisa dibilang sulit ditegakkan karena membutuhkan tingkat kerja sama dari negara lain yang mungkin cukup rumit diperoleh dalam iklim politik saat ini.
Dalam kata-kata para peneliti sendiri, āprodusen semikonduktor, pembuat peralatan, dan distributor yang berbasis di AS dan negara sahabat harus berinvestasi dalam sistem verifikasi pengguna akhir yang kuat yang melampaui penyaringan daftar pihak terbatas standar, dengan memasukkan uji tuntas di lapangan, pelacakan kepemilikan perusahaan, dan verifikasi pasca-pengiriman.ā
Kepada sektor swasta, C4ADS merekomendasikan agar perusahaan menambahkan analisis geopolitik dan risiko ke dalam kerangka kerja mereka, untuk menilai apakah pelanggan langsung atau hilir mereka bisa menjual barang ke sektor militer atau intelijen China. Rekomendasi ini menegaskan bahwa persoalan penyelundupan chip bukan sekadar isu kepatuhan dagang, melainkan juga menyangkut keamanan nasional.

Temuan C4ADS memperlihatkan bahwa kontrol ekspor yang ketat sekalipun masih menyisakan celah yang bisa dimanfaatkan melalui institusi riset, negara perantara, dan struktur perusahaan cangkang. Bagi pelaku industri, laporan ini menjadi pengingat bahwa uji tuntas terhadap rantai pasok dan pelanggan hilir tidak lagi bisa diabaikan dalam bisnis teknologi yang bersinggungan dengan kepentingan geopolitik.
Seperti halnya kasus-kasus lain di sektor teknologi, pengawasan yang lebih ketat dan transparansi kepemilikan menjadi kunci untuk menutup celah yang selama ini dimanfaatkan. Tanpa langkah nyata, aliran chip AI canggih ke China diperkirakan akan terus berlanjut meski aturan di atas kertas semakin diperketat.





Komentar
Belum ada komentar.