Ilustrasi RAM yang menjadi pusat krisis harga akibat dugaan praktik price fixing oleh tiga raksasa memori

Laporan Bank of America Bongkar Alibi AI di Balik Krisis RAM

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
  • Laporan Bank of America bongkar alibi AI di balik krisis RAM
  • Janji penggandaan kapasitas produksi memori pada 2030 terbukti tidak realistis
  • SK Hynix hanya akan realisasikan seperenam kapasitas produksi baru pada 2028
  • Temuan jadi bukti kuat dalam gugatan class action tuduhan price fixing
  • Samsung dan SK Hynix pernah mengaku bersalah dalam kasus serupa pada 2005
  • Konsumen di Reddit bereaksi sinis dan menyerukan tuntutan hukum

Telset.id – Laporan terbaru Bank of America membongkar alibi utama tiga raksasa memori dunia yang selama ini menyalahkan kecerdasan buatan (AI) sebagai penyebab krisis RAM. Temuan ini menjadi bukti kuat dalam gugatan class action yang menuding Samsung, SK Hynix, dan Micron melakukan praktik pengaturan harga (price fixing).

Selama beberapa bulan terakhir, harga RAM melonjak hingga 700 persen. Tiga produsen memori yang menguasai sekitar 90 persen pasar DRAM global itu berdalih bahwa lonjakan permintaan high-bandwidth memory (HBM) untuk pusat data AI telah mengeringkan pasokan RAM konsumen. Namun, laporan Bank of America justru menunjukkan sebaliknya.

Menurut laporan yang dikutip dari media Korea Selatan tersebut, janji penggandaan kapasitas produksi memori pada 2030 yang digembar-gemborkan sangat tidak realistis. Bank of America memperkirakan SK Hynix hanya akan merealisasikan sekitar seperenam dari rencana kapasitas produksi barunya pada 2028.

RAM

Ada dua faktor utama yang menjadi penyebab keterlambatan ini. Pertama, infrastruktur canggih yang dibutuhkan untuk pabrik baru memakan waktu hingga satu dekade untuk dibangun. Kedua, proses upgrade teknologi manufaktur di pabrik lama juga berdampak pada hasil produksi.

Pada akhir Juni lalu, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengklaim kapasitas produksi akan berlipat ganda pada 2030. Namun, perkiraan Bank of America menyebut angka itu mengabaikan penutupan pabrik-pabrik lama dan terlalu optimistis.

Temuan ini menjadi senjata ampuh bagi penggugat dalam kasus class action di California. Jika terbukti SK Hynix bergerak lamban dan tidak memenuhi janji kapasitasnya, narasi bahwa mereka “melakukan segala cara” untuk memenuhi permintaan konsumen akan runtuh total. Sebaliknya, bukti ini mendukung tuduhan inti: mereka sengaja menahan pasokan dan menjaga harga tetap tinggi secara permanen.

Ironisnya, CEO SK Hynix baru-baru ini memperingatkan bahwa 2027 akan menjadi “tahun terburuk” bagi kelangkaan memori dan memperkirakan krisis ini akan berlangsung hingga 2030. Namun, konsumen sudah tidak lagi percaya dengan narasi tersebut.

Reaksi di forum-forum diskusi seperti Reddit menunjukkan perubahan drastis dari frustrasi pasif menjadi sinisme total. Banyak pengguna menyerukan untuk “menuntut kartel memori lagi” dan menganggap laporan Bank of America sebagai konfirmasi bahwa kekhawatiran mereka selama ini beralasan.

Pola ini sangat mirip dengan kasus sebelumnya. Samsung dan SK Hynix pernah mengaku bersalah dalam operasi pengaturan harga DRAM besar-besaran pada 2005. Kini, menghadapi gugatan bersejarah atas perilaku yang persis sama, mereka seolah bersembunyi di balik booming AI.

Dengan laporan terbaru yang menyatakan pabrik baru mereka tidak akan menyelamatkan situasi dalam waktu dekat, tabir telah tersingkap. Kelangkaan memori AI bukanlah kecelakaan teknologi yang tragis, melainkan semakin terlihat sebagai pilihan yang sangat menguntungkan dan terkoordinasi. Dan kita semua yang membayar mahal untuk itu.

AWS data center

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.