📑 Daftar Isi

Peter Steinberger kreator OpenClaw saat bicara di Cloudflare Connect 2026

Kreator OpenClaw Klaim Habiskan Token AI Rp10 Juta Dolar Sebulan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Kreator OpenClaw Peter Steinberger klaim habiskan token AI $10 juta dalam sebulan
  • Pengakuan disampaikan saat berbincang dengan CTO Cloudflare Dane Knecht di Cloudflare Connect 2026
  • Token dibiayai OpenAI, tempat Steinberger mengembangkan AI agent personal sejak Februari 2026
  • Knecht soroti anggaran token "praktis tak terbatas" dan ingatkan tak semua token berguna
  • Steinberger soroti infrastruktur cloud yang belum mengejar ketertinggalan
  • Ia perkirakan tiap orang punya AI agent, dan butuh dua agent untuk saling mengawasi

Telset.id – Peter Steinberger, kreator platform AI agent OpenClaw, mengaku menghabiskan token senilai sekitar $10 juta atau setara Rp160 miliar hanya untuk menjalankan beban kerja AI dalam satu bulan. Pengakuan tersebut muncul saat ia berbincang dengan CTO Cloudflare Dane Knecht di konferensi Cloudflare Connect 2026 di San Francisco, dan langsung memicu pertanyaan soal cara OpenAI mengoperasikan token yang dibiayai investor perusahaan.

Angka $10 juta dalam sebulan itu bukan pengeluaran pribadi Steinberger. Token yang ia pakai merupakan bagian dari anggaran OpenAI, tempat ia bekerja mengembangkan AI agent personal generasi berikutnya sejak Februari 2026. Karena itu, pernyataannya dinilai sebagai cermin cara OpenAI membelanjakan dana investor, bukan sekadar gaya hidup digital seorang pengembang.

Knecht sendiri menyoroti langsung besarnya anggaran tersebut. Ia menyebut Steinberger mengaku memiliki “anggaran token yang praktis tak terbatas, yang tidak dimiliki semua orang di ruangan ini.” Namun Knecht juga mengingatkan satu hal penting: tidak semua token yang dibakar itu benar-benar berguna.

Infrastruktur Cloud Jadi Sorotan

Di tengah kontroversi soal token, pandangan Steinberger soal infrastruktur AI justru dinilai lebih berguna. Ia berpendapat bahwa cloud perlu dibenahi, bahkan mungkin menyediakan komputasi AI yang mulus tanpa hambatan teknis.

“Saya rasa tantangan utama yang masih dihadapi banyak orang adalah infrastruktur kita belum benar-benar mengejar ketertinggalan,” kata Steinberger. “Kenapa ini masih memakai komputer saya? Bukankah seharusnya semua ini ada di cloud?”

Pandangan tersebut relevan dengan pembahasan seputar Self-Hosting OpenClaw yang menekankan pentingnya kendali atas infrastruktur dan privasi data saat menjalankan AI agent secara mandiri.

Steinberger juga memproyeksikan bagaimana penggunaan AI agent akan meluas dalam beberapa tahun ke depan. Menurutnya, setiap orang akan memiliki semacam kecerdasan yang berjalan, berpikir, dan membantu mereka sepanjang hari, bahkan memprediksi apa yang bisa membantu di masa depan. Implikasinya jelas: alih-alih mengajukan pertanyaan, pengguna mungkin langsung menerima jawabannya.

A woman out of focus in the background touches the word AI, lit up in glowing yellow light, in the foreground. The woman is wearing smart glasses

Dua Agent, Satu Tugas

Soal jumlah agent, Steinberger menilai pengguna mungkin tidak cukup hanya mengandalkan satu. Ia memperkirakan setidaknya dibutuhkan dua agent: satu untuk mengerjakan tugas, satu lagi untuk memeriksanya.

“Anda ingin punya agent lain yang bisa memberi izin atau tidak, lalu agent ini harus bernegosiasi dengan agent lain,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sering kali agent berkata, “oh iya, sebenarnya mungkin saya tidak seharusnya melakukan ini,” atau “ada cara yang lebih sederhana yang tetap berada dalam batasan.” Kombinasi dua sistem inilah yang menurutnya sangat meningkatkan kepercayaan dirinya untuk membiarkan agent bekerja lepas.

Konsep pengawasan berlapis semacam ini sejalan dengan pembahasan soal OpenClaw dan OpenShell sebagai kunci keamanan robot humanoid, di mana kontrol dan pembatasan akses menjadi elemen penting.

Di sisi bisnis, OpenAI disebut berharap dapat memperbaiki pendanaannya dalam beberapa bulan ke depan, sementara rivalnya Anthropic dikabarkan berencana melakukan IPO. Konteks ini membuat pengakuan Steinberger soal anggaran token yang masif terasa semakin sensitif, karena menyangkut cara perusahaan mengelola sumber daya yang berasal dari investor.

Pengakuan Steinberger juga memperlihatkan bahwa adopsi AI agent tidak hanya soal kemampuan teknis, melainkan juga soal biaya dan tata kelola. Bagi pengguna yang ingin mencoba OpenClaw di perangkat pribadi, tersedia panduan Cara Pasang OpenClaw yang membahas langkah-langkahnya untuk pemula.

Dengan klaim $10 juta token dalam sebulan, isu yang mengemuka bukan lagi soal seberapa canggih AI agent yang dijalankan, tetapi seberapa besar biaya yang harus ditanggung untuk menjalankannya. Angka tersebut menjadi penanda bahwa di balik kemampuan agent yang terus berkembang, ada persoalan efisiensi dan pertanggungjawaban anggaran yang belum sepenuhnya terjawab.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.