Telset.id – WindBorne Systems resmi mengantongi kesepakatan dengan Angkatan Udara Amerika Serikat senilai potensial USD49 juta atau sekitar Rp817 miliar (asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS). Lewat kontrak ini, militer AS dapat membeli data pengukuran atmosfer yang dikumpulkan oleh sekitar 700 balon otonom WindBorne yang beroperasi di seluruh dunia.
Kesepakatan tersebut memberi Angkatan Udara AS keleluasaan memesan pengukuran untuk lokasi dan periode tertentu, bukan membeli jumlah data dalam paket tetap di muka. Meski nilai maksimalnya mencapai USD49 juta, realisasi belanja bergantung pada kebutuhan militer. Sejauh ini, militer AS baru menempatkan pesanan senilai sekitar USD1,7 juta atau sekitar Rp28,4 miliar.
WindBorne Systems adalah startup asal California yang mengoperasikan sekitar 700 balon untuk memasok data atmosfer kepada pelanggan berbayar. Data tersebut digunakan untuk mengembangkan sistem AI yang mampu memprediksi kondisi cuaca. Kontrak ini menjadi penanda masuknya jaringan balon komersial ke dalam rantai pengadaan militer AS.
Cara Balon WindBorne Menavigasi Atmosfer
Berbeda dari pesawat konvensional, balon WindBorne mengubah ketinggian untuk menemukan angin yang membawanya menuju lokasi tertentu. Penyesuaian dilakukan dengan melepaskan udara untuk menurunkan daya apung dan membuang pemberat pasir untuk menambahkannya. Perusahaan memakai model atmosfer untuk memandu pergerakan tersebut, memadukan perangkat lunak prediktif dengan armada besar agar balon ditempatkan di posisi yang menghasilkan pengukuran berguna.
Pada Agustus 2026, WindBorne menjadi perusahaan pertama yang memandu sistem penerbangan tanpa penggerak masuk ke pusat topan dan mengumpulkan data dari badai tersebut. Pencapaian ini menunjukkan kemampuan navigasi balon yang dikombinasikan dengan model cuaca dan angin yang akurat.
“That’s a pretty novel step, and the two ingredients for that are one, having good wind and weather models, and knowing how to navigate them; and two, having a large enough constellation that you have balloons in the right places,” ujar Andrey Sushko, co-founder dan CTO WindBorne Systems. “It’s one of the first times that a deep-learning model was used for actual operational decisions.“
Sushko menyebut kontrak ini sebagai kendaraan untuk mendukung pertumbuhan konstelasi balon sekaligus membiayai riset dan pengembangan guna meningkatkan perangkat keras serta performa balon. “This is largely a vehicle through which continued growth of the constellation can be supported, as well as some work on research and development to continue to improve the hardware and performance of the balloons,” katanya kepada TechCrunch.

Kontrak Tanpa Pesaing dan Klaim WeatherMesh 6
Kontrak Angkatan Udara AS ini diberikan tanpa proses penawaran pesaing. Menurut Sushko, pemerintah menilai bahwa untuk kemampuan mengumpulkan data global seperti ini, WindBorne adalah satu-satunya perusahaan yang mampu menyediakannya sesuai kebutuhan operasi mereka. “For this capability of collecting global data, we were the only company able to provide it in the way that met their needs for these operations,” ujarnya.
WindBorne juga memasukkan hasil pengukuran balon ke dalam WeatherMesh 6, sistem prakiraan milik perusahaan. WindBorne mengklaim sistem tersebut tampil lebih baik dibanding pendekatan konvensional European Centre for Medium-Range Weather Forecasts. European Centre mengandalkan simulasi fisika atmosfer, sedangkan sistem machine learning menurunkan hubungan prediktif dari observasi historis dan menghasilkan prakiraan berdasarkan pola yang dipelajari.
Kendati demikian, baik pendekatan fisika maupun machine learning tetap membutuhkan pengukuran yang andal. Sistem prakiraan bergantung pada informasi atmosfer untuk memperkirakan kondisi yang tengah berkembang dan menilai kemungkinan perubahan di masa depan. Perkembangan AI forecasting sendiri berjalan seiring kemajuan arsitektur transformer dan akses terhadap dataset cuaca historis dalam jumlah besar, sehingga peneliti dapat membangun model tanpa harus berulang kali menyelesaikan persamaan atmosfer konvensional.
Perlu dicatat, keunggulan prakiraan WeatherMesh 6 masih merupakan penilaian WindBorne sendiri. Diperlukan perbandingan independen untuk memastikan seberapa konsisten sistem ini mengungguli sistem mapan di berbagai kondisi cuaca.
Baca Juga:
Belanja Militer untuk Data Atmosfer
Kesepakatan WindBorne menambah deretan kontrak militer AS untuk teknologi pengumpulan data dan pengawasan. Sebelumnya, Angkatan Darat AS mendukung balon pengawasan raksasa lewat kontrak senilai USD447 juta di tengah meningkatnya ancaman drone. Ada pula kontrak Pentagon senilai USD500 juta untuk sistem misil counter-drone tak berawak yang dijanjikan memberi “keunggulan menentukan”.
Langkah Angkatan Udara AS mengikat kontrak data atmosfer juga sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap pengembangan AI. Pemerintahan Trump disebut sedang membentuk AI Force dan mencari sosok “AI Czar”, sekaligus menolak sejumlah kekhawatiran terkait AI. Di sisi lain, proyek data center AI sempat menghadapi kendala ketika Oracle ajukan force majeure untuk proyek di New Mexico.

Bagi WindBorne, kontrak ini bukan sekadar tambahan pendapatan. Nilai maksimal USD49 juta memberi ruang bagi perusahaan untuk memperluas konstelasi balon dan mendanai riset perangkat keras, sementara militer AS mendapatkan akses data atmosfer global yang selama ini hanya tersedia lewat jalur pengadaan terbatas. Realisasi nilainya akan bergantung pada seberapa besar kebutuhan operasi Angkatan Udara AS di masa mendatang, dengan pesanan yang telah masuk baru sekitar USD1,7 juta.
[GAMBAR: https://cdn.mos.cms.futurecdn.net/BMs6T79S9X29ew4H7DMgvD.png | alt=”A Russian high-altitude stratospheric balloon is being prepared for launch in an open field, with ground crew and support vehicles positioned nearby.”]





Komentar
Belum ada komentar.