πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi penurunan keterlibatan karyawan AS yang dipicu adopsi AI dan kerja remote pada 2026

Keterlibatan Karyawan AS Anjlok 15 Tahun, AI dan Kerja Remote Jadi Biang Kerok

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Keterlibatan karyawan AS turun ke 29% pada kuartal III 2026, terendah sejak 2011
  • Penurunan terbesar dialami pekerja remote (5 poin) dan hybrid (2 poin)
  • Karyawan on-site hanya turun sekitar 1 poin
  • Karyawan di organisasi berbasis AI melaporkan keterlibatan lebih rendah
  • Gallup menilai adopsi AI melampaui komunikasi dan dukungan manajerial
  • Semakin sedikit karyawan merasa punya ekspektasi jelas dan diperhatikan

Telset.id – Tingkat keterlibatan karyawan di Amerika Serikat (AS) turun ke level terendah sejak 2011 pada kuartal ketiga 2026. Survei terbaru Gallup mencatat keterlibatan karyawan anjlok ke 29%, dengan penurunan terbesar terjadi pada pekerja remote dan hybrid, terutama di organisasi yang telah mengadopsi AI.

Angka tersebut menjadikan kuartal III 2026 sebagai titik terendah keterlibatan karyawan AS dalam 15 tahun terakhir. Gallup mengukur keterlibatan ini melalui fokus, motivasi, dan antusiasme pekerja terhadap tugas mereka. Penurunan paling tajam justru dialami kelompok pekerja yang paling banyak berinteraksi dengan teknologi AI di tempat kerja.

Menariknya, angka 29% bukanlah penurunan mendadak dari posisi puncak. Gallup mencatat keterlibatan karyawan pernah menyentuh 36% pada 2020, lalu merosot ke 31% pada 2024, sebelum akhirnya jatuh ke 29% pada kuartal III 2026. Artinya, tren penurunan ini sudah berlangsung bertahap selama beberapa tahun terakhir.

Seorang pria berjanggut pendek dengan kemeja bisnis duduk di depan laptop, bersandar pada sikunya dengan ekspresi bosan.

Pekerja Remote dan Hybrid Paling Terdampak

Gallup menyoroti bahwa penurunan keterlibatan paling terasa di kalangan karyawan remote dan hybrid, khususnya mereka yang bekerja di organisasi yang telah mengadopsi perangkat AI. Data survei menunjukkan keterlibatan turun lima poin di kalangan karyawan yang sepenuhnya remote dan dua poin di kalangan karyawan hybrid.

Sebagai perbandingan, karyawan yang bekerja sepenuhnya di kantor (on-site) serta mereka yang pekerjaannya tidak bisa dilakukan secara remote hanya mengalami penurunan sekitar satu poin. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa jarak fisik turut berkontribusi terhadap jarak psikologis antara karyawan dan organisasi mereka.

Temuan ini bukan pertama kalinya terdeteksi. Gallup merujuk riset sebelumnya yang menemukan bahwa karyawan hybrid dan fully remote mengalami penurunan kejelasan ekspektasi kerja yang lebih besar dibandingkan karyawan on-site di posisi yang sebenarnya bisa dikerjakan secara remote.

β€œTemuan ini memunculkan kemungkinan bahwa jarak fisik dapat berkontribusi pada jarak psikologis antara karyawan dan organisasi mereka, terutama saat perusahaan menavigasi penggunaan AI di tempat kerja,” demikian pernyataan Gallup dalam laporannya.

Adopsi AI Melampaui Dukungan Manajerial

Gallup juga menyoroti sisi lain dari adopsi AI di tempat kerja. Riset pada awal 2026 sempat mengindikasikan adanya potensi perbaikan keterlibatan karyawan terhadap AI, namun tren tersebut kini kembali menurun. Karyawan di organisasi yang terintegrasi AI kini melaporkan tingkat keterlibatan yang serupa dengan mereka yang tidak menggunakan AI.

Yang menjadi catatan penting, pekerja hybrid dan remote di organisasi berbasis AI kembali melaporkan tingkat kepuasan dan keterlibatan yang lebih rendah. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kehadiran AI tidak otomatis meningkatkan semangat kerja, terutama bila tidak diimbangi komunikasi dan dukungan manajerial yang memadai.

Selain soal AI, laporan Gallup menemukan bahwa semakin sedikit karyawan yang melaporkan memiliki ekspektasi kerja yang jelas atau merasa ada seseorang di tempat kerja yang peduli terhadap mereka. Dua faktor ini menjadi indikator penting mengapa keterlibatan karyawan terus menurun.

Pengguna komputer yang frustrasi di depan layar.

Dalam konteks yang lebih luas, tantangan komunikasi dan dukungan manajerial ini sejalan dengan sorotan mengenai pentingnya kesiapan organisasi dalam menghadapi transformasi teknologi. Perusahaan yang gagal menyiapkan sumber daya manusia berisiko menghadapi penurunan motivasi, sebagaimana dibahas dalam ulasan soal Redesain C-Suite yang menekankan peran pemimpin dalam mengelola adopsi AI.

Selain itu, cara perusahaan memantau dan menerapkan AI pada karyawan juga menjadi perhatian tersendiri. Sejumlah organisasi bahkan menggunakan sistem pemantauan berbasis AI untuk menilai setiap kata yang diucapkan karyawan, seperti terlihat dalam kasus Pemantauan Karyawan yang dapat memengaruhi rasa nyaman dan keterlibatan pekerja.

Gallup menyimpulkan bahwa penurunan keterlibatan karyawan AS ke level terendah dalam 15 tahun, dengan penurunan terbesar pada pekerja hybrid dan remote di organisasi yang mengadopsi AI, menjadi sinyal penting. Laporan tersebut menegaskan bahwa adopsi AI mungkin telah melampaui komunikasi dan dukungan manajerial yang dibutuhkan agar teknologi itu benar-benar efektif.

Bagi organisasi yang sedang gencar mengadopsi AI, temuan Gallup ini menjadi pengingat bahwa teknologi bukan satu-satunya faktor penentu produktivitas. Kejelasan ekspektasi, perhatian manajerial, dan komunikasi yang baik tetap menjadi fondasi penting agar transformasi AI tidak berujung pada melemahnya keterlibatan karyawan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.